Kuba: AS Tekan Negara-Negara Jelang Pemungutan Suara PBB soal Blokade
Menlu Kuba Bruno Rodríguez mengatakan AS menekan negara-negara berdaulat dengan ancaman dan intimidasi untuk menggagalkan kecaman PBB atas blokade Kuba.
KUBA, FAKTAGLOBAL.COM – Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodríguez mengatakan Amerika Serikat sedang menjalankan kampanye tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap negara-negara berdaulat menjelang pembahasan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai blokade Washington terhadap Kuba yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Dalam pernyataan yang diunggah di platform X, Rodríguez mengatakan Departemen Luar Negeri AS menggunakan ancaman dan berbagai bentuk pemaksaan untuk menghalangi negara-negara memberikan dukungan terhadap kecaman internasional baru atas blokade tersebut.
“Kuba bukanlah ancaman. Blokadelah ancamannya,” tulis Rodríguez.
Washington Berupaya Membungkam Penolakan Internasional
Rodríguez mengatakan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio berupaya menjadikan masyarakat internasional sebagai kaki tangan dari apa yang ia gambarkan sebagai hukuman kolektif terhadap rakyat Kuba.
Ia mengatakan kebijakan Washington merupakan “kejahatan terhadap kemanusiaan yang sedang berlangsung”, serta memperingatkan bahwa setiap eskalasi lebih lanjut menuju konfrontasi militer hanya akan menguntungkan kepentingan politik tertentu, sembari membahayakan warga sipil Kuba maupun Amerika Serikat.
Rodríguez juga mengatakan Amerika Serikat terus mengabaikan hukum internasional dan Piagam PBB. Ia menyerukan kepada negara-negara anggota PBB agar menolak sanksi tersebut dan mendukung upaya mengakhiri blokade dalam sidang Majelis Umum mendatang.
Havana Tegaskan Tetap Terbuka untuk Dialog
Dalam wawancara dengan Al Mayadeen, Rodríguez mengatakan perundingan antara Havana dan Washington masih menemui jalan buntu akibat berlanjutnya sanksi AS serta apa yang ia sebut sebagai kampanye media yang luas terhadap Kuba.
Meski demikian, ia kembali menegaskan kesiapan Kuba untuk menyelesaikan perbedaan melalui dialog yang didasarkan pada saling menghormati, kesetaraan kedaulatan, dan prinsip tidak mencampuri urusan dalam negeri.
Menanggapi pengumuman Washington mengenai paket bantuan kemanusiaan senilai 100 juta dolar AS untuk Kuba, Rodríguez mengatakan tidak satu pun dari bantuan yang dijanjikan tersebut telah sampai ke pulau itu.
“Jika Washington benar-benar peduli kepada rakyat Kuba, maka mereka akan mencabut blokade,” ujarnya.
Blokade Terus Memperburuk Krisis Kemanusiaan
Rodríguez mengatakan blokade dan sanksi AS terus memperburuk kelangkaan bahan bakar, pangan, obat-obatan, listrik, serta berbagai layanan penting lainnya di Kuba.
Awal bulan ini, Washington menjatuhkan sanksi tambahan terhadap Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel, sejumlah pejabat senior pemerintah, dan perusahaan-perusahaan yang menjadi tulang punggung perekonomian negara tersebut.
Rodríguez mengatakan blokade serta apa yang ia gambarkan sebagai kebijakan agresi Washington telah menjadi “ancaman terhadap keberlangsungan hidup dan kesejahteraan rakyat Kuba, serta terhadap pelaksanaan hak asasi manusia mereka.”
Situasi semakin memburuk sejak Amerika Serikat memberlakukan pembatasan baru di sektor energi pada awal tahun ini, yang menyebabkan pemadaman listrik berkepanjangan, kelangkaan bahan bakar, gangguan transportasi, terputusnya layanan internet, pengurangan jam kerja, serta terganggunya layanan publik penting.
Pakar-pakar PBB juga telah mengkritik pembatasan bahan bakar yang diberlakukan Amerika Serikat, dengan memperingatkan bahwa kebijakan tersebut membawa dampak kemanusiaan dan hak asasi manusia yang serius bagi rakyat Kuba. (FG)


