Kunjungan Starmer ke China dan Tanda-Tanda Pergeseran Senyap dalam Kebijakan Barat
Kunjungan Starmer ke China patut dipandang sebagai salah satu perkembangan diplomatik paling bermakna dalam beberapa bulan terakhir.
China | FAKTAGLOBAL.COM — Kunjungan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer ke China harus dipandang sebagai salah satu perkembangan diplomatik paling signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
Perjalanan ini—yang menandai kunjungan pertama seorang perdana menteri Inggris ke Beijing sejak 2018—terjadi pada saat hubungan antara London dan Beijing telah berada dalam kondisi yang sangat dingin selama bertahun-tahun, pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Kunjungan ini bukan sekadar peristiwa bilateral, melainkan bagian dari tren yang lebih luas dalam kebijakan luar negeri negara-negara Barat berkekuatan menengah, yang tengah meninjau ulang keseimbangan strategis mereka sebagai respons terhadap perilaku pemerintahan Donald Trump di Amerika Serikat yang tidak dapat diprediksi.
Hubungan antara Inggris dan China memasuki fase tegang setelah protes Hong Kong tahun 2019 dan pengesahan undang-undang keamanan nasional di wilayah tersebut. London, bersama Washington, tampil sebagai pengkritik vokal terhadap kebijakan China di Hong Kong dan bahkan meluncurkan program migrasi khusus bagi penduduk wilayah itu.
Pada tahun-tahun berikutnya, tuduhan spionase siber, kekhawatiran keamanan, dan sengketa geopolitik semakin memperlebar jarak antara kedua negara. Dalam konteks ini, kunjungan Starmer ke China secara luas dipandang sebagai sinyal jelas dari kesediaan kedua pihak untuk melampaui periode ketegangan tersebut dan bergerak menuju penataan ulang hubungan yang hati-hati.
Ekonomi Menjadi Inti Diplomasi Baru London
Pemerintahan Partai Buruh Inggris, yang berkuasa dengan janji menghidupkan kembali pertumbuhan ekonomi, kini menghadapi realitas yang sulit. Sejak Brexit, perekonomian Inggris terus bergulat dengan penurunan investasi, produktivitas yang lemah, dan tekanan inflasi yang meningkat.
Berbagai perkiraan menunjukkan bahwa keluarnya Inggris dari Uni Eropa telah menimbulkan biaya terhadap PDB Inggris sebesar beberapa poin persentase, dengan dampaknya yang terus terakumulasi dari waktu ke waktu. Dalam konteks ini, China—sebagai ekonomi terbesar kedua di dunia dan salah satu pasar global terpenting untuk konsumsi dan investasi—memiliki arti khusus bagi London.
Menjelang perjalanannya, Starmer berulang kali menegaskan bahwa keterlibatan dengan China tidak didasarkan pada optimisme naif, melainkan pada kepentingan nasional. Ia berupaya menyampaikan bahwa interaksi ekonomi dengan Beijing tidak berarti mengabaikan perbedaan politik atau isu hak asasi manusia, melainkan mengelola perbedaan sambil memanfaatkan peluang ekonomi. Pendekatan pragmatis ini membentuk kerangka pertemuannya dengan Xi Jinping dan Perdana Menteri China Li Qiang.
Kesepakatan Ekonomi dan Sinyal Simbolik
Meskipun kunjungan Starmer tidak menghasilkan perjanjian perdagangan bebas yang komprehensif, sejumlah kesepakatan konkret dan simbolik diumumkan, yang oleh kedua pihak dipandang sangat signifikan. Pengumuman komersial paling menonjol datang dari AstraZeneca, yang mengungkapkan rencana untuk menginvestasikan 15 miliar dolar AS di China selama empat tahun ke depan.
Investasi ini—komitmen terbesar perusahaan tersebut di China hingga saat ini—akan difokuskan pada riset dan produksi farmasi, menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan besar Inggris masih memandang pasar China sebagai sangat vital.
Di sektor energi, Octopus Energy memasuki pasar China untuk pertama kalinya. Bekerja sama dengan perusahaan lokal, perusahaan ini bertujuan mengembangkan platform perdagangan listrik digital yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi jaringan dan mendukung perluasan energi terbarukan di China. Di luar nilai ekonominya, proyek ini mengirimkan sinyal jelas mengenai peran teknologi hijau dalam kerja sama masa depan antara London dan Beijing.
Pelonggaran Perjalanan dan Perluasan Kerja Sama Sosial
Hasil lain dari kunjungan Starmer adalah pencabutan kewajiban visa jangka pendek bagi warga negara Inggris, yang memungkinkan masa tinggal hingga 30 hari di China untuk keperluan pariwisata dan bisnis.
Keputusan ini menempatkan Inggris sejajar dengan puluhan negara lain yang sebelumnya telah diberikan akses serupa. Dari sudut pandang London, langkah ini diharapkan dapat meningkatkan pertukaran antar-masyarakat dan perdagangan, sekaligus memperkuat rasa saling percaya.
Kedua pihak juga mencapai kesepakatan kerja sama untuk memerangi jaringan penyelundupan manusia. Isu ini memiliki bobot politik yang signifikan bagi pemerintah Inggris, yang tengah menghadapi persoalan penyeberangan migran ilegal melalui Selat Inggris. Kerja sama intelijen dengan China yang bertujuan mengganggu rantai pasok peralatan yang digunakan oleh para penyelundup disebut sebagai bagian dari kesepahaman tersebut.
Perhitungan Beijing dalam Menyambut London
Dari perspektif China, pemanasan hubungan dengan Inggris memiliki makna yang melampaui aspek ekonomi. Di saat kebijakan tarif agresif pemerintahan Trump telah mengguncang sistem perdagangan global, Beijing berupaya menampilkan diri sebagai mitra yang stabil dan dapat diprediksi bagi ekonomi-ekonomi Barat.
Serangkaian kunjungan pemimpin Eropa dan sekutu Amerika Serikat ke China memungkinkan Beijing memproyeksikan citra yang kontras dengan pendekatan konfrontatif Washington.
Inggris, sebagai ekonomi besar Eropa dan sekutu dekat AS, menempati posisi khusus dalam strategi ini. Dari sudut pandang Beijing, kerja sama dengan London dapat memfasilitasi akses ke pasar keuangan, jasa, dan teknologi maju, sekaligus mengirimkan pesan politik yang jelas kepada Washington bahwa bahkan sekutu-sekutu terdekat Amerika pun tengah berupaya mendiversifikasi hubungan internasional mereka.
Keseimbangan Rumit antara Washington dan Beijing
Salah satu aspek paling kompleks dari kebijakan luar negeri London yang sedang berkembang adalah pengelolaan hubungan simultan dengan Amerika Serikat dan China. Dalam beberapa bulan terakhir, Donald Trump berulang kali memperingatkan sekutu-sekutu AS agar tidak memperdalam hubungan dengan Beijing dan bahkan mengancam dengan tarif hukuman.
Namun Starmer menegaskan bahwa Inggris tidak berniat memilih antara Washington dan Beijing. Ia menggambarkan pendekatan ini bukan sebagai poros geopolitik, melainkan sebagai upaya mengamankan kepentingan ekonomi Inggris.
Sikap ini membawa risiko serius. Inggris tetap sangat bergantung pada Amerika Serikat dalam urusan keamanan dan pertahanan, dan setiap kemerosotan hubungan dengan Washington bisa berbiaya mahal. Di sisi lain, mengabaikan peluang ekonomi yang ditawarkan China akan sulit dilakukan bagi pemerintahan yang mengejar pertumbuhan.
Bagian dari Tren Barat yang Lebih Luas
Kunjungan Starmer harus dilihat dalam konteks gelombang yang lebih luas dari perjalanan para pemimpin negara-negara yang bersekutu dengan AS ke China. Dalam beberapa bulan terakhir, para pemimpin dari Prancis, Kanada, Finlandia, dan negara-negara lain juga mengunjungi Beijing. Negara-negara ini—yang sering disebut sebagai kekuatan menengah—berusaha menciptakan jalur ekonomi dan diplomatik alternatif sebagai respons terhadap ketidakstabilan kebijakan AS.
China, pada gilirannya, memanfaatkan tren ini dengan berupaya meningkatkan hubungan dengan negara-negara tersebut ke tingkat yang memperbesar ketergantungan mereka pada pasar dan investasi China. Dalam lingkungan seperti ini, persaingan di antara negara-negara Barat untuk menarik modal China dan memperoleh akses ke pasar China juga semakin meningkat.
Perkembangan terbaru dalam hubungan China dengan sekutu-sekutu tradisional AS, termasuk Inggris, dengan jelas menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri AS—terutama di bawah Donald Trump—tidak memperkuat posisi Washington, melainkan justru menciptakan retakan yang dalam di dalam tatanan Barat.
Ancaman tarif, tekanan politik, dan pengabaian terhadap kepentingan mitra-mitra lama telah mendorong bahkan sekutu-sekutu terdekat Amerika untuk mencari jalur alternatif guna mengamankan kepentingan ekonomi dan strategis mereka.
Dalam situasi ini, China berhasil mengisi kekosongan yang ditinggalkan Amerika Serikat dengan menampilkan dirinya sebagai mitra yang lebih stabil dan dapat diprediksi.
Kenyataannya, kebijakan unilateral Amerika tidak hanya melemahkan institusi internasional, tetapi juga mengikis kepercayaan global terhadap Washington. Penggunaan sanksi, tarif, dan ancaman politik sebagai instrumen menunjukkan bahwa Amerika Serikat lebih berfokus pada pemaksaan kehendaknya daripada kerja sama yang seimbang. Akibatnya, semakin banyak negara yang terdorong untuk mendiversifikasi hubungan luar negeri mereka dan mengurangi ketergantungan pada Amerika Serikat. (FG)


