Larijani: AS Membakar Hati Bangsa Iran — dan Kami Juga Akan Membakar Hati Mereka
Larijani mengatakan serangan Amerika Serikat gagal mematahkan Iran, memperingatkan Washington bahwa agresi telah membakar hati bangsa dan akan dibalas dengan tegas.
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, mengatakan bahwa Amerika Serikat dan rezim Zionis gagal memecah belah Iran meskipun terjadi eskalasi militer, pembunuhan, dan tekanan berkelanjutan, seraya menegaskan bahwa persatuan nasional dan kendali institusional tetap terjaga.
Berbicara dalam sebuah wawancara, Larijani mengatakan bahwa pembunuhan terhadap Pemimpin Revolusi Islam dimaksudkan untuk mematahkan kehendak rakyat Iran, namun justru memperkuat tekad publik.
“Amerika Serikat dan rezim Zionis telah membakar hati bangsa Iran,” kata Larijani. “Dan kami juga akan membakar hati mereka.”
“Benteng Rakyat” dalam Perang 12 Hari
Larijani mengatakan bahwa perang 12 hari yang baru-baru ini terjadi menunjukkan bahwa pertahanan utama Iran bukan hanya kemampuan militer, melainkan juga kohesi masyarakat itu sendiri.
Ia menyatakan bahwa musuh berhadapan dengan “benteng rakyat”, ketika bangsa Iran mampu menjaga persatuan dan solidaritas meskipun selama berbulan-bulan menghadapi upaya untuk melemahkan bangsa dan negara melalui tekanan serta destabilisasi.
Menurut Larijani, kekuatan musuh berupaya mengeksploitasi keresahan untuk menjatuhkan sistem politik dengan terlebih dahulu menciptakan perpecahan dan mengikis persatuan, namun upaya tersebut runtuh ketika bangsa Iran menunjukkan kohesi, termasuk melalui unjuk solidaritas massal pada 12 Januari.
Tidak Ada Fragmentasi, Dewan Kepemimpinan Sementara Akan Dibentuk
Larijani mengatakan Iran tidak akan membiarkan adanya upaya apa pun untuk memecah belah negara, seraya menegaskan bahwa perbedaan internal tidak boleh dipersenjatai di tengah konfrontasi.
Ia mengonfirmasi bahwa sebuah dewan kepemimpinan sementara akan segera dibentuk, seraya menggambarkan proses tersebut sebagai tertib dan berakar pada kesinambungan institusional, bukan improvisasi dalam situasi krisis.
Ia menambahkan bahwa para musuh keliru membaca kedewasaan masyarakat Iran, yang tetap solid meskipun menghadapi perang psikologis dan kampanye propaganda yang luas.
Angkatan Bersenjata Sepenuhnya Menguasai Situasi
Menanggapi situasi militer, Larijani mengatakan bahwa angkatan bersenjata Iran sepenuhnya menguasai keadaan, dengan bersandar pada pengalaman dari perang-perang sebelumnya.
Ia mencatat bahwa meskipun konflik-konflik terdahulu mengakibatkan banyak korban, keterlibatan terbaru mencatat kerugian yang sangat minimal, yang mencerminkan kesiapan, disiplin komando, dan kemampuan operasional yang lebih baik.
Larijani mengakui bahwa hari-hari ke depan mungkin akan mengalami pasang surut, namun ia menegaskan bahwa arah keseluruhan tetap stabil, dengan syarat-syarat untuk keberlanjutan operasi telah terpenuhi.
Kebutuhan Sipil Terjamin di Tengah Kondisi Perang
Larijani mengatakan bahwa pemerintah telah menjamin ketersediaan kebutuhan pokok dan pasokan esensial untuk mencegah kesulitan bagi masyarakat di tengah kondisi perang.
Ia menambahkan bahwa pengaturan juga telah dilakukan untuk memfasilitasi perjalanan antarkota, menegaskan bahwa fungsi institusional dan kesinambungan negara tetap berjalan meskipun menghadapi agresi eksternal.
Pangkalan AS Dinyatakan sebagai Target yang Sah
Dalam sebuah peringatan langsung, Larijani mengatakan bahwa pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan bukanlah wilayah kedaulatan negara-negara tuan rumah, melainkan merupakan tanah Amerika Serikat.
Ia menegaskan bahwa Iran tidak berniat menargetkan negara-negara kawasan, namun mengonfirmasi bahwa Teheran telah menyampaikan pesan yang jelas kepada Washington melalui Kedutaan Swiss: setiap agresi baru akan dibalas dengan serangan terhadap pangkalan-pangkalan Amerika Serikat.
“Harus ditegaskan sekali dan untuk selamanya,” kata Larijani, “bahwa Amerika tidak dapat memaksakan kehendaknya kepada bangsa Iran.”
Larijani menutup dengan menegaskan bahwa Iran tidak mencari perang, namun tidak akan mundur dari perang yang dipaksakan kepadanya, seraya menyatakan bahwa pembunuhan, tekanan, dan pemaksaan telah gagal mengubah arah politik Iran.
Ia mengatakan bahwa konfrontasi ini akan dibentuk oleh persatuan, ketahanan institusional, dan perlawanan yang berkelanjutan, bukan oleh taktik kejut atau diktat eksternal. (FG)


