Lavrov: Iran Tak Ciptakan Krisis Hormuz, Agresi AS-Israel adalah Penyebabnya
Menteri luar negeri Rusia menegaskan bahwa agresi Amerika Serikat dan Israel merupakan akar ketegangan regional serta menyerukan penyelesaian politik yang berkelanjutan.
India, FAKTAGLOBAL.COM — Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan pada Jumat bahwa Iran tidak menciptakan krisis di Selat Hormuz dan menyerukan penghentian segera perang terhadap Republik Islam, seraya menegaskan bahwa agresi Amerika Serikat dan Israel merupakan sumber utama ketidakstabilan di kawasan.
Berbicara dalam konferensi pers di New Delhi setelah Pertemuan Menteri Luar Negeri BRICS, Lavrov mengatakan bahwa prioritas paling mendesak saat ini adalah menghentikan perang dan mengubah gencatan senjata yang ada menjadi kesepakatan yang komprehensif dan berkelanjutan.
“Yang paling penting saat ini adalah mengakhiri perang ini dan memastikan bahwa gencatan senjata ini diubah menjadi kesepakatan final untuk menghentikan segala bentuk permusuhan,” ujarnya.
“Sebelum Agresi Ini, Tidak Ada Masalah di Selat Hormuz”
Lavrov menolak tuduhan bahwa Iran bertanggung jawab atas ketegangan maritim yang telah mengguncang pasar energi global dan perusahaan pelayaran.
“Sekarang semua orang menyerukan kepada Iran dan pihak-pihak lain agar membuka Selat Hormuz,” katanya.
“Saya ingin mengingatkan bahwa sebelum 28 Februari, sebelum dimulainya agresi ini, tidak ada masalah di Selat Hormuz. Navigasi berlangsung dengan aman. Keselamatan pelayaran terjamin seratus persen.”
Ia menegaskan bahwa kronologi peristiwa itu sendiri membantah narasi yang menyalahkan Teheran.
“Namun Iran bukan negara yang menutup Selat Hormuz,” tegas Lavrov. “Iran bukan negara yang menciptakan masalah ini, baik dalam hubungannya dengan negara-negara tetangga maupun dengan negara-negara di Teluk Persia.”
“Akar Permasalahannya Adalah Agresi Tanpa Provokasi oleh Amerika Serikat dan Israel”
Lavrov mengatakan bahwa setiap upaya serius untuk menyelesaikan krisis harus dimulai dengan penilaian yang jujur terhadap penyebab utamanya.
“Kita harus memahami akar penyebab dari setiap konflik,” katanya.
“Dan kita memahami dengan jelas apa akar permasalahannya di sini: agresi tanpa provokasi oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.”
Menurut Lavrov, kampanye militer tersebut tidak hanya ditujukan untuk menyerang Iran secara langsung, tetapi juga untuk merusak hubungan regional negara itu.
Tujuan dari serangan itu, katanya, adalah memicu permusuhan antara Iran dan negara-negara tetangganya di kawasan Teluk Persia.
Proposal Lama Rusia untuk Keamanan Kolektif di Teluk Persia
Lavrov mengingatkan bahwa Moskow selama bertahun-tahun telah mengusulkan mekanisme keamanan kolektif di Teluk Persia yang melibatkan Iran, monarki-monarki Arab, Liga Arab, serta lima anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
“Ketika negara-negara Arab dan Iran saling bermusuhan, itu bukan keadaan yang normal,” katanya.
“Itu hanya merugikan rakyat di negara-negara mereka.”
Ia menambahkan bahwa China juga telah mengajukan inisiatif serupa, dan Teheran mendukung berbagai upaya diplomatik yang bertujuan meredakan ketegangan dan membangun tatanan regional yang lebih stabil.
“Pengalaman Diplomatik India yang Sangat Luas”
Lavrov mengatakan bahwa BRICS sebagai organisasi tidak dirancang untuk secara langsung memediasi konflik tersebut, namun negara-negara anggotanya secara individual dapat memainkan peran penting.
Ia menunjuk Pakistan sebagai pihak yang membantu memfasilitasi kontak mendesak antara Iran dan Amerika Serikat.
“Pakistan membantu membangun dialog antara Amerika Serikat dan Iran untuk menyelesaikan persoalan-persoalan mendesak,” ujarnya.
Lavrov kemudian menyoroti India sebagai mediator potensial untuk jangka panjang.
“Jika dicari mediator jangka panjang antara Iran dan sahabat-sahabat Arabnya, peran itu dapat dimainkan oleh India, mengingat pengalaman diplomatiknya yang sangat luas dan posisinya yang terhormat di tingkat internasional,” katanya.
Ia menambahkan bahwa posisi India sebagai ketua BRICS saat ini, kebutuhan energinya yang besar, serta hubungan baiknya dengan berbagai negara di kawasan menjadikan New Delhi berada pada posisi yang sangat strategis untuk mempertemukan seluruh pihak terkait.
Dari Gencatan Senjata Menuju Penyelesaian yang Berkelanjutan
Lavrov menegaskan bahwa gencatan senjata saat ini tidak boleh dipandang sekadar sebagai jeda sementara, tetapi harus menjadi titik awal menuju penyelesaian politik yang lebih luas untuk mengakhiri permusuhan dan memulihkan stabilitas kawasan.
Bagi Moskow, katanya, fakta utama tetap tidak berubah: Iran tidak menciptakan krisis Selat Hormuz, dan ketidakstabilan yang kini mengancam Teluk Persia baru dimulai setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Republik Islam Iran.
Peringatan Sebelumnya Mengenai Dampak terhadap Laut Kaspia
Dalam pernyataan sebelumnya yang disampaikan di Astana pada 30 April, Lavrov memperingatkan bahwa agresi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah berdampak negatif terhadap kawasan Laut Kaspia.
Ia mengecam serangan 18 Maret terhadap infrastruktur pelabuhan Bandar Anzali dan menyebut serangan terhadap fasilitas yang melayani kelima negara pesisir Laut Kaspia itu sebagai tindakan yang tidak dapat diterima dan sama sekali tidak dibenarkan.
Lavrov menegaskan bahwa kawasan Kaspia harus tetap menjadi zona perdamaian dan kerja sama, serta kembali menyerukan penyelesaian krisis di Teluk Persia dan West Asia melalui kesepakatan politik yang melibatkan seluruh pihak terkait. (FG)


