Lavrov: Setiap Serangan ke Iran Sama dengan Bermain Api
Menteri luar negeri Rusia memperingatkan bahwa eskalasi akan membahayakan kawasan, sementara fasilitas nuklir tetap berada di bawah pemantauan internasional
Iran | FAKTAGLOBAL.COM — Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan bahwa setiap serangan terhadap Iran sama dengan “bermain api,” seraya menegaskan bahwa tidak ada negara di kawasan yang menginginkan eskalasi ketegangan terkait Iran.
Berbicara dalam sebuah wawancara dengan Al Arabiya, Lavrov mengatakan Rusia meyakini bahwa serangan sebelumnya terhadap Iran pada Juni tahun lalu telah menimbulkan konsekuensi negatif yang serius.
“Bermain Api”: Peringatan Utama Lavrov
Lavrov menekankan bahwa semua pihak memahami bahwa serangan lain terhadap Iran akan menjadi tindakan “bermain api,” seraya menambahkan bahwa negara-negara Arab tidak menginginkan putaran eskalasi baru yang berkaitan dengan Iran.
Ia menegaskan bahwa tidak ada aktor regional yang berkepentingan terhadap memburuknya situasi lebih lanjut, dan memperingatkan bahwa aksi militer baru hanya akan memperdalam instabilitas.
Lavrov memperingatkan bahwa serangan terhadap fasilitas nuklir sangat berbahaya, seraya mencatat bahwa tindakan semacam itu mendorong Teheran untuk mengambil langkah-langkah konkret guna melindungi material nuklirnya.
Ia menekankan bahwa Iran selalu menyatakan komitmennya terhadap Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), sementara Tel Aviv dan Washington, dengan menyerang fasilitas nuklir, telah menempuh apa yang ia sebut sebagai jalur tindakan berbahaya.
Kerja Sama dengan IAEA dan Pengayaan Damai
Lavrov menyatakan keyakinannya bahwa Teheran akan bekerja sama dengan para inspektur Badan Energi Atom Internasional (IAEA) ketika aktivitas mereka kembali berjalan, serta mencatat kesiapan Iran untuk menurunkan tingkat pengayaan uranium ke level yang dibutuhkan untuk tujuan damai.
Menteri luar negeri Rusia itu berpendapat bahwa meskipun semua pihak menentang penyebaran senjata nuklir, Iran tetap memiliki hak sah untuk melakukan pengayaan uranium secara damai.
Ia juga menyinggung hubungan dekat antara Moskow dan kepemimpinan Iran.
Netanyahu Mendorong Tindakan Ekstrem
Lavrov mengkritik sikap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terhadap Iran, dengan mengatakan bahwa ia “secara aktif mendorong tindakan ekstrem” dan merusak hak-hak Iran di bawah NPT.
Ia mengatakan Moskow meyakini bahwa Teheran tulus dalam keinginannya menyelesaikan isu nuklir dalam kerangka NPT.
Eropa, JCPOA, dan Komitmen yang Dilanggar
Merujuk pada ketidakpatuhan Eropa terkait JCPOA, Lavrov mengatakan bahwa negara-negara Eropa, alih-alih memulihkan keutuhan perjanjian tersebut, justru memilih menyalahkan Iran atas semua masalah dan terus melakukan hal itu.
Ia mengatakan tidak mengherankan jika para pejabat Iran menolak dialog dengan pihak Eropa dan lebih memilih perundingan langsung dengan Amerika Serikat.
Lavrov menambahkan bahwa perwakilan Iran tidak bersedia membahas JCPOA dengan negara-negara Barat karena seluruh pembatasan yang dikenakan terhadap Iran telah berakhir sesuai jadwal perjanjian pada November tahun lalu.
Meski demikian, ia mengatakan bahwa pihak Eropa menggunakan apa yang ia sebut sebagai “metode menyesatkan” untuk menggambarkan situasi saat ini sebagai akibat dari dugaan pelanggaran Iran, sambil mengabaikan fakta bahwa perjanjian tersebut runtuh akibat penarikan diri Amerika Serikat.
Serangan AS–Israel dan Risiko Nuklir
Lavrov mengatakan risiko kawasan dan ketegangan politik meningkat setelah keluarnya Amerika Serikat dari JCPOA, diikuti oleh kerja sama AS–Israel dalam menyerang fasilitas nuklir Iran pada musim panas 2025, meskipun fasilitas-fasilitas tersebut berada di bawah pengawasan IAEA.
Ia mengatakan serangan tersebut menciptakan bahaya serius, termasuk risiko terjadinya kecelakaan nuklir.
Menurut Lavrov, para pejabat Iran menyatakan bahwa situasi kini relatif stabil. Namun, ia kembali menegaskan bahwa serangan-serangan itu memaksa Iran untuk mempertimbangkan perlindungan fisik tambahan bagi material nuklirnya, yang tetap berada di bawah kendali IAEA dan tidak dapat diakses.
Ia mencatat bahwa pengawasan IAEA terhadap fasilitas nuklir Iran, khususnya setelah JCPOA ditandatangani, bersifat belum pernah terjadi sebelumnya, seraya menegaskan bahwa Iran tidak pernah dinyatakan bersalah melanggar NPT maupun perjanjian pengamanannya dengan badan tersebut. (FG)


