Lebih dari 70 Persen Warga Eropa Ingin Uni Eropa Menjauh dari Amerika Serikat
Survei besar di Jerman mengungkap semakin dalamnya ketidakpercayaan publik Eropa terhadap Washington di tengah meningkatnya perpecahan politik, militer, dan strategis di dalam aliansi transatlantik
Eropa, FAKTAGLOBAL.COM — Sebuah studi baru yang dilakukan oleh Bertelsmann Foundation di Jerman menemukan bahwa 73 persen warga Eropa percaya Uni Eropa harus menjauh dari Amerika Serikat dan menempuh jalannya sendiri secara independen.
Survei tersebut juga menunjukkan bahwa 58 persen responden tidak lagi menganggap Amerika Serikat sebagai mitra yang dapat diandalkan bagi Uni Eropa, mencerminkan perubahan besar dalam opini publik Eropa di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan ketidakpastian terhadap peran global Washington.
Meskipun NATO masih menjadi tulang punggung struktur pertahanan Eropa, hasil survei ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Eropa semakin meyakini bahwa bertahan di dunia multipolar menuntut Eropa untuk menentukan kepentingan strategisnya sendiri, bukan terus bergantung pada Amerika Serikat.
The Guardian: Kelompok Kanan Jauh Eropa Mulai Menjauh dari Trump
The Guardian dalam sebuah analisanya menulis bahwa Donald Trump kini telah berubah menjadi liabilitas politik dan beban yang merugikan bagi partai-partai kanan jauh Eropa.
Menurut laporan tersebut, kemenangan lawan Viktor Orbán dalam pemilu Hungaria, ditambah perilaku dan posisi kontroversial Trump, telah menempatkan gerakan kanan jauh Eropa di bawah tekanan serius.
Analisis itu menyebut bahwa Trump, dalam kondisi saat ini, lebih menjadi beban daripada aset politik bagi partai-partai kanan jauh dan populis Eropa. Perilakunya yang agresif, pernyataannya yang tidak dapat diprediksi, serta ancaman berulang terhadap Eropa — termasuk penerapan tarif perdagangan besar, pelemahan NATO, dan gagasan seperti membeli Greenland — telah mendorong gerakan-gerakan tersebut ke posisi defensif dan sulit.
Laporan itu menekankan bahwa meskipun kekalahan elektoral Orbán merupakan peristiwa penting dan simbolis, hal itu tidak berarti kemunduran total bagi kelompok kanan jauh di Eropa.
Gerakan tersebut masih memegang kekuasaan di sejumlah negara seperti Italia, memimpin jajak pendapat di Prancis dan Austria, serta sebagian agenda anti-imigrasi mereka telah masuk ke dalam politik arus utama Eropa.
Namun kedekatan berlebihan dengan Trump kini menjadi semakin mahal secara politik bagi partai-partai tersebut dan membuat opini publik Eropa memandang mereka sebagai lebih irasional dan ekstrem.
The Guardian menyimpulkan bahwa selama Trump terus mempertahankan gaya agresif dan tidak terduganya, partai-partai kanan jauh Eropa akan dipaksa menjaga jarak yang lebih besar darinya.
Medvedev: Eropa dan Amerika Serikat Lebih Terpecah dari Sebelumnya
Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev menyatakan bahwa Eropa dan Amerika Serikat kini lebih terpecah dibanding kapan pun dalam satu abad terakhir.
Ia menambahkan bahwa Eropa menggunakan “operasi militer khusus” sebagai dalih untuk memperkuat sikap anti-Rusia, meskipun menurutnya mereka tidak memiliki pembenaran untuk tingkat “intervensi demi membela Ukraina” seperti saat ini.
Menurut RIA Novosti, Medvedev juga menyatakan bahwa tidak satu pun tujuan anti-operasi militer khusus yang diumumkan Uni Eropa berhasil dicapai.
Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia itu juga mengatakan bahwa kepemimpinan politik Jerman kini secara resmi telah menyatakan tujuan untuk menciptakan “kekalahan strategis” bagi Rusia. Ia menggambarkan kebijakan Jerman sebagai kelanjutan resmi dari balas dendam berskala besar pasca kekalahan mereka dalam Perang Dunia Kedua.
Ia menegaskan bahwa kemungkinan muncul dan ditempatkannya senjata nuklir di Jerman juga akan menimbulkan kekhawatiran di Amerika Serikat.
Medvedev menambahkan bahwa langkah Jerman menuju kepemilikan senjata nuklir akan memberi Moskow alasan untuk menggunakan “seluruh langkah balasan yang memungkinkan.” (FG)




