Logika Fir’aun — Mengapa AS dan Israel Terobsesi Membunuh Anak-Anak?
Dari Gaza hingga Iran, seruan yang semakin terbuka untuk menargetkan anak-anak mengungkap ideologi yang berakar pada ketakutan terhadap generasi masa depan dan normalisasi kekerasan massal
Asia Barat, FAKTAGLOBAL.COM — Sebuah posting berbahasa Ibrani yang telah dihapus dan dikaitkan dengan seorang analis keamanan Israel yang menyerukan penargetan anak-anak Iran dalam perang memicu sorotan baru terhadap apa yang oleh para pengkritik disebut sebagai normalisasi pembunuhan anak-anak dalam wacana militer dan ideologis Israel.
Menurut sebuah analisis yang diterbitkan oleh Mehr News Agency, posting yang telah dihapus itu dikaitkan dengan Orit Perlov, anggota Institute for National Security Studies di Universitas Tel Aviv. Dalam pesan yang beredar secara daring tersebut, Perlov disebut menyerukan agar perang melawan Iran mengikuti pendekatan religius dan ekstremis yang dimodelkan dari kisah “pembantaian anak sulung” dalam narasi Taurat.
Laporan itu menyebutkan bahwa posting tersebut menyarankan bahwa jika pejabat senior Iran tidak dapat dijangkau, maka anak-anak mereka sendiri harus dijadikan target.
Meski posting tersebut dilaporkan dihapus tidak lama kemudian, Mehr menyatakan bahwa retorika seperti itu mencerminkan lebih dari sekadar reaksi emosional sesaat, melainkan bukti keruntuhan ideologis yang lebih dalam di mana kekerasan terhadap anak-anak semakin dibenarkan dan dinormalisasi.
Dari Gaza hingga Iran — Pola yang Terus Berulang
Menurut Mehr, taktik serupa telah terlihat di Gaza, tempat ribuan anak-anak terbunuh dalam operasi militer Israel.
Laporan itu menyatakan bahwa logika yang sama kini mulai dibicarakan secara terbuka dalam konteks Iran dan Lebanon, seraya memperingatkan bahwa serangan terhadap anak-anak tidak lagi dipandang sekadar sebagai “kerusakan sampingan” perang, tetapi semakin dibingkai sebagai kebutuhan strategis.
Mehr juga menyinggung awal perang terbaru AS-Israel melawan Iran, yang menurut laporan tersebut dimulai dengan pembunuhan 168 siswi sekolah dasar, sementara Washington maupun Tel Aviv tidak menunjukkan penyesalan sedikit pun atas insiden tersebut.
Analisis tersebut juga menarik paralel dengan perang-perang yang dipimpin AS di kawasan, seraya menyatakan bahwa pola kekerasan terhadap anak-anak dan warga sipil terus muncul dalam berbagai intervensi militer Barat modern.
Logika Fir’aun
Mehr membandingkan mentalitas di balik retorika semacam itu dengan logika Fir’aun yang digambarkan dalam kitab suci — seorang penguasa yang takut kepada anak-anak karena ancaman yang mungkin mereka hadirkan di masa depan ketika telah dewasa.
Menurut laporan tersebut, gagasan dasarnya adalah bahwa potensi perlawanan harus dihancurkan sebelum sempat muncul.
“Masa depan harus dimusnahkan hari ini,” tulis analisis tersebut, seraya menggambarkan mentalitas itu identik dengan logika yang secara historis dikaitkan dengan kekuasaan tiranik.
Laporan itu menyatakan bahwa besarnya jumlah anak-anak yang terbunuh di Gaza, penargetan sistematis terhadap infrastruktur sipil, serta pola serupa yang terlihat di Iran dan Lebanon menunjukkan bahwa kekerasan semacam itu bukanlah kecelakaan, melainkan bagian dari pendekatan ideologis yang lebih luas untuk melegitimasi hukuman kolektif dan penggunaan kekuatan ekstrem.
Sekolah, rumah sakit, dan rumah-rumah warga semakin menjadi sasaran, sementara perubahan kematian anak-anak menjadi sekadar angka mencerminkan apa yang disebut laporan itu sebagai normalisasi kejahatan dalam peperangan modern.
Kekerasan Tanpa Pertanggungjawaban
Artikel tersebut memperingatkan bahwa ketika kekerasan terhadap anak-anak mulai dinormalisasi, hal itu pada akhirnya berubah menjadi perilaku otomatis yang dilakukan tanpa refleksi moral maupun pertanggungjawaban.
Menurut Mehr, prinsip-prinsip etika Islam melarang kekerasan tanpa batas bahkan dalam perang dan secara tegas mengharamkan penargetan warga sipil dan anak-anak.
Laporan tersebut menyatakan bahwa normalisasi pembunuhan anak-anak di Gaza dan Iran tidak hanya mencerminkan kerusakan moral dalam peperangan, tetapi juga transformasi sosial yang lebih dalam, di mana kekerasan ekstrem menjadi rutinitas, dibenarkan, dan terlepas dari nurani kemanusiaan. (FG)



