Mantan Diplomat: Penghinaan ke Perlawanan Bertujuan Hancurkan Kohesi Sosial Palestina
Dalam sebuah unggahan di akun Facebook-nya, Sadeq menggambarkan adegan tersebut sebagai “tindakan hina yang mencerminkan tabiat musuh yang pengecut
Palestina | FAKTAGLOBAL.COM — Mantan tokoh Fatah dan diplomat Palestina, Adli Sadeq, dengan keras mengecam sebuah video yang beredar di media sosial, yang memperlihatkan kolaborator dengan penjajah, Ghassan al-Dehini, berdiri di samping komandan Qassam, Adham al-Akkar, yang duduk di tanah setelah dilucuti pakaiannya, sementara ancaman diarahkan terhadap perlawanan Palestina.
Dalam sebuah unggahan di akun Facebook-nya, Sadeq menggambarkan adegan tersebut sebagai “tindakan hina yang mencerminkan tabiat musuh yang pengecut.”
Ia mengatakan bahwa membiarkan seorang kolaborator berdiri dengan sikap membanggakan di atas seorang pejuang perlawanan yang telah dilucuti, serta melontarkan penghinaan dan ancaman terhadapnya, mengandung implikasi politik dan keamanan yang sangat berbahaya.
“Pesan-Pesan Hitam” untuk Menghancurkan Moral dan Memecah Masyarakat
Sadeq menambahkan bahwa adegan tersebut mencerminkan tekad penjajah untuk menyiarkan “pesan-pesan hitam” kepada rakyat Palestina, dalam upaya mematahkan semangat mereka, menghancurkan jalinan sosial mereka, dan menciptakan gambaran palsu tentang berakhirnya perang—sebuah gambaran yang, menurutnya, “bertentangan dengan arah sejarah yang berpihak kepada bangsa-bangsa tertindas.”
Ia menegaskan bahwa rekaman tersebut tidak mencapai tujuan penjajah. Sebaliknya, hal itu justru memperdalam penolakan rakyat Palestina terhadap para kolaborator dalam segala bentuknya, serta memperkuat penolakan publik terhadap mereka yang pada saat ini sibuk mengkriminalkan perlawanan sambil membebaskan penjajah dari tanggung jawab.
Sadeq berpendapat bahwa sikap semacam itu tidak mencerminkan “perbedaan pandangan politik,” melainkan menunjukkan kebodohan yang didorong oleh keinginan untuk meraih keridaan penjajah, disertai keterputusan dari suasana publik dan nilai-nilai nasional.
Mantan pemimpin Fatah tersebut menekankan bahwa upaya sebagian individu untuk berlindung di balik klaim afiliasi dengan Fatah, atau mempromosikan diri sebagai pemilik “pendapat berbeda,” tidak mengubah kenyataan mereka.
Ia menggambarkan wacana mereka sebagai berbahaya, terlepas dari nilai-nilai kemanusiaan dan nasional, serta tidak memiliki kaitan dengan faksi-faksi Palestina yang dikenal dengan prinsip-prinsip perjuangan.
Ia juga menunjukkan bahwa sikap mengejek para pejuang perlawanan pada saat ini mengungkap, menurut ungkapannya, hakikat posisi serta motif politik dan moral dari para pelakunya.
Sadeq menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa nasib para kolaborator dengan penjajah—betapapun lantangnya suara mereka atau sepanjang apa pun kehadiran media mereka—pada akhirnya adalah lenyap. Ia menekankan bahwa rakyat Palestina telah melalui fase-fase berat dan bencana demi bencana, namun setiap kali keluar darinya dengan keteguhan yang lebih besar dan komitmen yang semakin kuat terhadap hak mereka untuk berjuang demi kemerdekaan.
Perlu dicatat bahwa Adli Sadeq saat ini tidak memegang posisi resmi apa pun di dalam Gerakan Fatah maupun Otoritas Palestina, dan pernyataannya mencerminkan pandangan pribadinya di luar kerangka organisasi formal terkait sejumlah isu nasional terkini. (FG)


