Media China: AS Terisolasi, Eropa Enggan Terseret Konfrontasi dengan Iran
Penolakan menyediakan pangkalan militer dan kritik terbuka terhadap penggunaan kekuatan sepihak menyoroti keretakan yang semakin melebar dalam aliansi transatlantik.
Asia Barat, FAKTAGLOBAL.COM — Sekutu-sekutu Eropa semakin menjauh dari Amerika Serikat seiring meningkatnya eskalasi di Asia Barat, khususnya setelah tindakan militer AS dan Israel terhadap Iran yang dilakukan tanpa otorisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Menurut media pemerintah China, CGTN, perpecahan dalam aliansi transatlantik semakin terlihat jelas:
“Para pemimpin negara Eropa menunjukkan sedikit keinginan untuk mengikuti seruan Presiden AS Donald Trump guna memberikan bantuan militer untuk membantu meredakan blokade di Selat.”
Keengganan Eropa juga tercermin dalam penolakan mereka untuk memberikan dukungan militer atau infrastruktur bagi operasi Amerika Serikat.
Perbedaan Sikap di Antara Negara-Negara Utama Eropa
Perbedaan ini semakin terlihat di antara negara-negara utama Eropa, termasuk Inggris, Prancis, Jerman, dan Spanyol.
Amerika Serikat mendorong pembentukan “koalisi pengawalan maritim” di Selat Hormuz dan meminta dukungan militer dari sekutu NATO-nya. Namun, respons Eropa cenderung dingin, mencerminkan pertimbangan strategis sekaligus perbedaan pandangan yang lebih mendalam.
Jerman secara tegas menolak untuk berpartisipasi dalam operasi tersebut. Menurut CGTN:
“Kami tidak akan melakukan ini selama permusuhan masih berlangsung; kami hanya akan melakukannya setelah pertempuran berhenti.”
Prancis, meskipun memiliki kehadiran militer di Mediterania timur, lebih memprioritaskan mediasi diplomatik dan menghindari keterlibatan langsung dalam kerangka yang secara luas dipandang sebagai eskalasi yang dipimpin AS.
Spanyol dengan tegas mempertahankan sikap non-intervensi, menolak menyediakan fasilitas atau dukungan militer, sementara Inggris membatasi keterlibatannya pada dialog mengenai keamanan maritim tanpa berkomitmen pada operasi pengawalan tersebut.
Tekanan Ekonomi dan Keamanan Membentuk Sikap Eropa
Semakin lebarnya jarak antara Eropa dan Washington mencerminkan perbedaan kepentingan dan prinsip.
Kelanjutan eskalasi militer AS dan Israel telah mendorong kenaikan harga energi global, memberikan tekanan besar pada ekonomi Eropa yang sangat bergantung pada impor minyak dan gas.
CGTN melaporkan besarnya dampak ekonomi tersebut:
“Dalam waktu sedikit lebih dari sepuluh hari, situasi ini telah mengakibatkan miliaran euro biaya tambahan bagi Eropa.”
Kekhawatiran keamanan juga meningkat, dengan potensi eskalasi lebih lanjut di Asia Barat yang dapat memicu gelombang pengungsi baru dan memperdalam ketidakstabilan sosial di Eropa.
Unilateralisme vs Tatanan Multilateral
Eskalasi saat ini secara luas dipandang sebagai bagian dari pola tindakan militer sepihak oleh Amerika Serikat dan sekutunya, yang mengabaikan norma internasional dan melemahkan tatanan global yang berpusat pada Perserikatan Bangsa-Bangsa.
“Penggunaan kekuatan sepihak ini berisiko menciptakan preseden berbahaya dan secara langsung bertentangan dengan komitmen lama Eropa untuk mempertahankan tatanan multilateral yang ada serta prinsip-prinsip dasar hukum internasional.”
Upaya Washington untuk menarik Eropa lebih dalam ke dalam konflik melalui koordinasi NATO dan koalisi maritim sejauh ini belum mendapatkan dukungan yang berarti.
Keterbatasan Strategis Eropa
Meski terlihat menjauh, Eropa masih menghadapi keterbatasan dalam kemandirian strategisnya.
“Eropa tidak dapat mempertahankan diri tanpa Amerika Serikat,” kata Sekretaris Jenderal NATO.
Realitas ini terus membatasi kemampuan Eropa untuk sepenuhnya melepaskan diri dari arah strategis Amerika Serikat, meskipun perbedaan pandangan semakin dalam.
Benturan Visi dalam Tatanan Global
Pada intinya, perbedaan antara Amerika Serikat dan Eropa terkait Iran mencerminkan benturan yang lebih luas antara unilateralisme dan multilateralisme.
Keraguan Eropa menunjukkan adanya kesadaran yang semakin berkembang bahwa keterlibatan dalam eskalasi yang dipimpin Amerika membawa biaya ekonomi, politik, dan keamanan yang besar.
Meskipun tetap menjaga aliansi formal, respons hati-hati Eropa menandakan perubahan dinamika—di mana pendekatan konfrontatif Washington di Asia Barat tidak lagi mendapatkan dukungan otomatis dari sekutu tradisionalnya. (FG)


