Medvedev: AS Tak Berhak Campuri Urusan Negara Lain
Memperingati 250 tahun kemerdekaan AS, Dmitry Medvedev menegaskan Washington tidak berhak memaksakan kehendaknya kepada negara-negara berdaulat.
Rusia, PUREWILAYAH.COM — Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak memiliki hak untuk mencampuri urusan negara-negara berdaulat maupun menentukan nasib bangsa lain. Ia menyerukan agar Washington berhenti memaksakan kehendaknya ke luar negeri dan mulai menyelesaikan persoalan di dalam negerinya sendiri.
Dalam pesan yang dipublikasikan melalui kanal Telegram pribadinya tentang 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat, Medvedev mengatakan setiap negara berhak menyelesaikan persoalannya sendiri tanpa campur tangan pihak luar.
“Amerika tidak memiliki hak untuk membuat keputusan bagi negara lain. Setiap negara, besar maupun kecil, mampu menyelesaikan persoalannya sendiri. Amerika Serikat dan Gedung Putih tidak punya urusan memaksakan kehendaknya kepada bangsa lain. Biarkan mereka membereskan kekacauan di dalam negeri mereka sendiri terlebih dahulu,” tulisnya.
Serangan terhadap Iran Tidak Beralasan
Sebelumnya, pada 4 Juli usai menghadiri pemakaman Pemimpin Syahid Umat Islam, Ayatollah Sayyed Ali Khamenei Medvedev mengatakan kepada para jurnalis Rusia bahwa serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sama sekali tidak memiliki pembenaran.
“Tidak ada alasan serius bagi serangan Amerika. Iran tidak menimbulkan ancaman terhadap Amerika Serikat,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa Teheran saat itu masih terlibat dalam perundingan dengan Washington ketika Presiden Donald Trump memerintahkan serangan tersebut. Menurutnya, keputusan itu semakin merusak hukum internasional dan kredibilitas diplomasi.
Medvedev juga menegaskan bahwa pembunuhan terhadap Ayatollah Sayyed Ali Khamenei, anggota keluarganya, para pejabat tinggi Iran, serta warga sipil termasuk anak-anak sekolah tidak dapat dibenarkan dan akan menjadi noda bagi pihak-pihak yang bertanggung jawab atas operasi tersebut.
Ia turut mengungkapkan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya telah mengajukan sebuah peta jalan untuk penyelesaian damai isu nuklir Iran sebelum konflik pecah. Namun, usulan tersebut akhirnya tertutup oleh eskalasi militer.
Iran Melewati Perang dengan Bermartabat
Mengenang kunjungannya ke Teheran, Medvedev mengatakan Iran berhasil melewati ujian berat tersebut dengan penuh martabat meskipun mengalami kerusakan yang luas akibat serangan.
“Saya pikir Iran berhasil melewati ujian terberat ini dengan bermartabat,” katanya, seraya menambahkan bahwa meski sebagian wilayah Teheran masih memperlihatkan bekas-bekas perang, kehidupan sehari-hari di ibu kota sebagian besar telah kembali normal.
Ia juga menilai konflik tersebut menunjukkan bahwa Iran memiliki daya tangkal strategis yang sebanding pentingnya dengan senjata nuklir melalui kemampuannya memengaruhi jalur-jalur pelayaran strategis dunia.
Medvedev menyinggung Selat Hormuz, yang penutupannya selama konflik sempat mendorong lonjakan tajam harga minyak dunia. Menurutnya, apabila terjadi agresi baru, Iran juga memiliki kemampuan memengaruhi pelayaran di Selat Bab al-Mandeb.
Menutup pernyataannya, Medvedev menyebut sanksi Barat terhadap Rusia dan Iran sebagai tindakan sepihak yang melanggar hukum internasional. (FG)


