Medvedev Peringatkan Kekacauan Global, Tindakan AS Hancurkan Tatanan Internasional
Pejabat senior Rusia itu mengecam penculikan presiden Venezuela, memperingatkan penghinaan AS terhadap hukum internasional, dan menggambarkan tatanan global yang meluncur menuju kekacauan terbuka.
Rusia, FAKTAGLOBAL.COM — Dmitry Medvedev, mantan presiden Rusia dan wakil ketua Dewan Keamanan Rusia, memperingatkan bahwa hubungan internasional tengah meluncur ke arah kekacauan, dalam sebuah pernyataan yang dipublikasikan di akun Telegram resminya, di mana ia menilai perkembangan global terkini pada awal tahun ini.
Medvedev mengatakan bahwa tahun baru telah dimulai dengan sebuah guncangan besar terhadap hubungan internasional, seraya menunjuk pada penculikan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh pasukan Amerika Serikat sebagai tindakan penentu dari hukum rimba global.
Menggambarkan insiden tersebut sebagai aksi premanisme terang-terangan, Medvedev menyatakan bahwa peristiwa itu akan dikenang sebagai sebuah bencana bagi diplomasi internasional.
“Ini adalah tindakan premanisme yang benar-benar keji—atau, jika ingin dikatakan lebih elegan, sebuah bencana besar bagi hubungan internasional,” ujar Medvedev.
Menurut Medvedev, Washington kini hanya menghadapi dua kemungkinan hasil: pembebasan diam-diam Maduro di bawah dalih penyelamatan muka, atau transformasi pemimpin Venezuela tersebut menjadi simbol perlawanan bersejarah.
“Entah Amerika Serikat secara diam-diam membebaskan presiden Venezuela yang diculik… atau ia akan berubah menjadi versi Amerika Latin dari Nelson Mandela,” katanya, seraya menambahkan bahwa skenario kedua tampaknya lebih mungkin terjadi.
Minyak, Kalkulasi Imperialis, dan Batasan Strategis
Medvedev menegaskan bahwa minyak berada di jantung agresi Washington, namun memperingatkan bahwa ambisi atas sumber daya tidak menjamin penguasaan.
Ia mempertanyakan apakah Amerika Serikat benar-benar siap meningkatkan eskalasi militer jika Venezuela menolak tunduk dalam jangka panjang.
“Bagaimana jika otoritas Venezuela saat ini tidak ingin membagikannya kepada para gringo dalam jangka panjang? Lalu bagaimana?” tanya Medvedev.
Ia mencatat bahwa operasi darat berskala penuh akan membutuhkan persetujuan Kongres, menelan korban besar, dan menghadapi perlawanan domestik—terutama ketika langkah-langkah terbaru Senat AS mulai mengekang dorongan militeristik Trump.
“Apakah pemerintahan saat ini benar-benar membutuhkan perang semacam itu? Sangat diragukan.”
Sanksi terhadap Rusia: Bukan Hal Baru
Beranjak ke ancaman sanksi baru AS terhadap Rusia, Medvedev menepisnya sebagai sesuatu yang dapat diprediksi dan tak terelakkan.
“Kebijakan sanksi Amerika akan terus berlanjut tanpa memandang keadaan,” katanya.
Ia memperingatkan bahwa Washington berupaya memaksa Rusia menerima kompromi yang tidak dapat diterima terkait jaminan keamanan dan isu teritorial, setelah itu sanksi akan tetap diberlakukan apa pun hasilnya.
“Tidak menyenangkan. Namun bukan hal baru. Kami akan melewatinya kali ini juga,” ujar Medvedev.
Penyitaan Kapal Tanker dan Ketidakpatuhan Hukum Maritim
Medvedev juga menyinggung penyitaan sebuah kapal tanker yang terkait dengan apa yang disebut sebagai “armada bayangan,” dengan menggambarkannya sebagai tindakan kriminal Amerika Serikat yang dibungkus dalih penegakan sanksi.
Sambil mengakui adanya kelemahan prosedural dalam upaya kapal tersebut untuk mencari perlindungan di bawah bendera Rusia sementara, Medvedev menegaskan bahwa Washington sendiri tidak pernah meratifikasi Konvensi PBB tentang Hukum Laut, sehingga menjadikan tindakannya secara fundamental tidak sah.
“Tindakan Amerika yang semakin nekat ini merupakan penyitaan kriminal terhadap sebuah kapal sipil,” katanya.
Ia berpendapat bahwa setiap respons harus berada di luar kerangka yang secara terbuka diabaikan oleh AS, terlebih mengingat pernyataan Trump sendiri yang menolak relevansi hukum internasional.
Peringatan akan Kekacauan dan Eskalasi Global
Medvedev menutup pernyataannya dengan penilaian keras terhadap situasi global, memperingatkan bahwa hubungan internasional telah memasuki fase ketidakstabilan dan konfrontasi terbuka.
“Sejak awal tahun, hubungan internasional telah terjerumus ke dalam kekacauan total,” ujarnya.
Menolak kepolosan diplomatik, ia menegaskan bahwa kekuatan agresif tidak dapat dibendung oleh seruan moral.
“Psikopat berbahaya membutuhkan baju pengaman atau suntikan haloperidol yang tepat waktu—seperti yang terjadi tadi malam di wilayah barat Ukraina Banderis,” kata Medvedev, merujuk pada peristiwa terbaru di Ukraina sebagai contoh. (FG)


