Memimpin Garis Depan Digital: Iran Akan Bentuk Standar Global untuk AI dan LLM
Dari konsumen teknologi menjadi arsitek global, Republik Islam mengamankan posisi strategis di meja ISO untuk mengatur masa depan teknologi baru.
Iran | FAKTAGLOBAL.COM — Dalam sebuah pencapaian bersejarah bagi komunitas ilmiah Republik Islam, Organisasi Internasional untuk Standardisasi (ISO) secara resmi menerima proposal Iran untuk memimpin pengembangan standar global bagi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) dan Large Language Models (LLMs).
Perkembangan ini, yang diumumkan oleh para pejabat Kementerian Teknologi Informasi dan Komunikasi, menandai pergeseran tegas peran Iran dalam ekosistem teknologi global.
Tidak lagi sekadar konsumen alat digital buatan luar negeri, Iran kini menempatkan diri sebagai perancang utama aturan dan kerangka etika yang akan mengatur teknologi paling transformatif abad ke-21.
Lompatan Strategis dalam Otoritas Ilmiah
Mohammad-Hossein Sheikhi, pejabat senior di Kementerian TIK, menegaskan bahwa ini bukanlah keberhasilan administratif yang bersifat rutin. Sebaliknya, pencapaian ini merupakan bukti dari keahlian khusus yang telah matang di dalam negeri meskipun bertahun-tahun menghadapi tekanan eksternal sepihak.
“Ini menegaskan keahlian Iran di tingkat internasional, memungkinkan negara ini berada di garis depan dalam merancang aturan yang mengatur teknologi-teknologi baru,” ujar Sheikhi.
Dengan memimpin standar LLM—“otak” di balik AI modern—Iran memastikan bahwa kepentingan nasional, nuansa budaya, dan kebutuhan keamanannya dipertimbangkan dalam peta jalan global pengembangan AI.
Membangun Infrastruktur Masa Depan
Pengakuan dari ISO ini bertepatan dengan dorongan domestik besar-besaran untuk memperkuat kemampuan AI Iran. Kementerian Ilmu Pengetahuan, Riset, dan Teknologi telah mengungkapkan rencana untuk mendirikan 15 laboratorium AI khusus di berbagai universitas terkemuka di seluruh negeri.
Fasilitas-fasilitas ini akan menjadi arena pengujian bagi model-model AI fundamental, dengan fokus pada:
Tata Kelola Data & Privasi: Memastikan bahwa evolusi AI tidak mengorbankan kedaulatan digital nasional maupun individu.
Pelatihan Interdisipliner: Mengembangkan program pendidikan khusus untuk menumbuhkan generasi baru “AI-Ulama” Iran—para cendekia yang memahami dimensi teknis sekaligus etis dari pembelajaran mesin.
Kepatuhan Regulasi: Menciptakan kerangka kerja di mana AI melayani kepentingan publik sambil mempertahankan standar keamanan yang ketat.
Meningkat di Peringkat Global
Kenaikan Republik Islam ini didukung oleh data. Menurut Nature Index, peringkat Iran dalam produksi ilmiah AI telah naik dari posisi ke-33 menjadi ke-30 secara global, menempatkannya dengan kokoh di antara 50 pemimpin dunia.
Selain itu, Indeks Kesiapan AI Pemerintah 2024 menunjukkan Iran terus menaiki tangga kematangan digital, kini berada di peringkat ke-91 dari 188 negara—sebuah peningkatan bertahap yang mencerminkan komitmen negara dalam mengintegrasikan AI ke dalam layanan publik.
Kesimpulan: Visi Kedaulatan
Ketika dunia bergulat dengan risiko AI—mulai dari disrupsi ekonomi hingga bias algoritmik—keterlibatan proaktif Iran dalam standar ISO memastikan bahwa “Global North” tidak memonopoli etika kecerdasan.
Dengan memimpin upaya standardisasi LLM, Republik Islam tidak hanya melindungi batas-batas digitalnya sendiri; ia juga berkontribusi pada masa depan teknologi yang lebih multipolar dan berkeadilan bagi komunitas internasional secara keseluruhan. Transisi dari konsumen teknologi menjadi pembuat aturan global kini telah tuntas, menandai era baru otoritas ilmiah Iran di panggung dunia. (FG)
Sumber: Tehran Times


