Mengapa Perang dengan Iran Akan Jadi Bunuh Diri Politik bagi Kepresidenan Trump
Langkah militer AS terhadap Iran akan menghadapi penolakan domestik yang kuat dan membawa risiko politik besar bagi Presiden Trump.
Amerika Serikat | FAKTAGLOBAL.COM — Menurut sebuah analisis yang diterbitkan oleh kantor berita Iran, Mehr News Agency, potensi agresi militer Amerika Serikat terhadap Iran akan membawa risiko politik yang serius bagi Donald Trump, karena bertentangan dengan janji kampanyenya untuk menghindari perang baru serta berlawanan dengan opini publik yang dominan di Amerika Serikat.
Selama kampanye pemilu 2024, Presiden AS Donald Trump berulang kali berjanji untuk mengakhiri apa yang ia sebut sebagai “perang-perang tanpa akhir.”
Ia memosisikan dirinya sebagai antitesis dari para pemimpin AS sebelumnya yang menyeret Amerika ke dalam kubangan perang di Irak dan Afghanistan, dengan menyasar pemilih yang lelah oleh beban kemanusiaan dan finansial dari petualangan militer di luar negeri.
Kini, presiden yang sama—dengan basis sosial pendukung yang sama—justru mengancam akan melakukan agresi militer terhadap Iran. Menurut Mehr, langkah semacam itu akan setara dengan bunuh diri politik.
Tuntutan dari tim Trump yang berorientasi pada perang secara langsung bertentangan dengan sentimen utama opini publik AS, yang secara luas menentang perang dengan Iran, termasuk di kalangan basis tradisional Partai Republik.
Opini Publik AS Sangat Menentang Perang dengan Iran
Mehr mencatat bahwa jajak pendapat terbaru di AS menunjukkan penolakan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap opsi serangan militer ke Iran. Sebuah survei yang dilakukan oleh SSRS dan Universitas Maryland antara 5 hingga 9 Februari 2026 menunjukkan bahwa hanya 21 persen warga Amerika yang mendukung serangan militer terhadap Iran, sementara 49 persen secara jelas menentangnya dan 30 persen lainnya belum menentukan sikap.
Ini merupakan perubahan drastis dibandingkan dengan perang-perang sebelumnya. Menurut jajak pendapat Gallup, ketika Presiden AS saat itu, George W. Bush, menginvasi Irak pada 2003, sebanyak 72 persen warga Amerika mendukung perang tersebut setelah berbulan-bulan propaganda tentang senjata pemusnah massal.
Mehr menekankan bahwa tingkat persetujuan publik seperti itu kini tidak lagi ada, dan ingatan pahit tentang perang Irak dan Afghanistan masih tertanam kuat di benak masyarakat.
Perpecahan di Internal Partai Republik dan Menurunnya Kepercayaan
Bahkan di dalam Partai Republik—basis utama dukungan Trump—tidak ada konsensus untuk mendukung perang dengan Iran.
Hanya 40 persen pemilih Partai Republik yang mendukung serangan terhadap Iran, sementara 25 persen menentang dan 35 persen masih ragu-ragu. Perpecahan ini menunjukkan adanya retakan serius dalam basis sosial Trump terkait isu konfrontasi militer.
Data jajak pendapat juga memperkuat skeptisisme ini. Survei dari AP-NORC Public Affairs Research Center yang dilakukan antara 19 hingga 23 Februari 2026 menunjukkan bahwa meskipun 48 persen warga Amerika memandang program nuklir Iran sebagai ancaman serius, hanya sekitar 30 persen yang mempercayai penilaian Trump dalam penggunaan kekuatan militer.
Lebih dari separuh responden mengatakan mereka hanya “sedikit” atau “tidak sama sekali” mempercayai Trump dalam hal tersebut. Di kalangan pemilih Partai Republik berusia di bawah 45 tahun, tingkat kepercayaan bahkan turun lebih jauh, menandakan meningkatnya keraguan di kalangan konservatif muda.
Penolakan Luas terhadap Intervensi Militer
Jajak pendapat yang lebih luas memperkuat tren ini. Survei The Economist–YouGov menemukan bahwa 48 persen warga Amerika menentang aksi militer terhadap Iran, dibandingkan hanya 28 persen yang mendukungnya.
Demikian pula, jajak pendapat Universitas Quinnipiac menunjukkan bahwa 70 persen warga Amerika percaya bahwa Amerika Serikat tidak seharusnya ikut campur dalam urusan dalam negeri Iran, bahkan setelah Trump menyatakan bahwa Washington akan “siap dan bersenjata.”
Secara keseluruhan, angka-angka ini menunjukkan penolakan yang luas dan tegas terhadap kebijakan intervensionisme di seluruh spektrum politik AS.
Penolakan dari MAGA dan Tekanan Domestik yang Meningkat
Penolakan terhadap perang juga disuarakan secara terbuka oleh tokoh-tokoh berpengaruh dalam gerakan MAGA milik Trump sendiri. Steve Bannon berulang kali menegaskan bahwa penolakan terhadap perang tanpa akhir merupakan prinsip inti MAGA.
Marjorie Taylor Greene memperingatkan bahwa perang di luar negeri membuat Amerika berada di posisi terakhir (America Last kebalikannya slogan Trump America First), menelan korban jiwa tak berdosa, dan menguras sumber daya nasional. Charlie Kirk menekankan bahwa daya tarik Trump—terutama bagi pemilih muda—berasal dari fakta bahwa ia tidak memulai perang baru.
Pada saat yang sama, Trump menghadapi tantangan domestik yang kian menumpuk. Pada 21 Februari 2026, Mahkamah Agung AS memutuskan dengan suara 6–3 bahwa kebijakan tarif balasan Trump melanggar hukum, memberikan pukulan besar terhadap agenda ekonominya.
Dengan pemilu paruh waktu November 2026 yang semakin dekat, jajak pendapat menunjukkan Partai Demokrat lebih diunggulkan untuk merebut kembali kendali DPR.
Trump sendiri telah memperingatkan bahwa kehilangan Kongres dapat membuka jalan bagi proses pemakzulan. Tingkat persetujuan publik terhadapnya kini rata-rata berada di angka 42 persen, dibandingkan dengan tingkat ketidaksetujuan sebesar 55 persen.
Perang dengan Iran sebagai Bunuh Diri Politik
Dalam konteks ini, setiap agresi militer terhadap Iran kemungkinan besar akan memicu reaksi balik yang cepat dan keras. Korban besar dan gambar peti jenazah tentara yang kembali ke tanah air—kenangan yang masih kuat dari perang Irak dan Afghanistan—akan membangkitkan kemarahan publik.
Partai Republik akan menghadapi bencana dalam pemilu paruh waktu, sementara Trump terpaksa menjalani sisa masa jabatannya di bawah Kongres yang bermusuhan dan tekanan pemakzulan yang berkelanjutan.
Para pemilih yang mendukungnya dengan platform “tanpa perang” tidak akan memaafkan konflik yang menelan nyawa warga Amerika, dan gelombang protes nasional sangat mungkin terjadi.
Pada saat yang sama, Iran telah mengeluarkan peringatan tegas bahwa setiap serangan akan memicu perang regional dan menghadapi pembalasan yang menentukan. Para pejabat Iran menegaskan bahwa setiap salah perhitungan akan dibalas dengan respons yang cepat dan menyakitkan.
Sebagaimana disimpulkan dalam analisis tersebut, Trump akan mengambil sebuah perjudian yang kalah: agresi terhadap Iran tidak hanya mengancam stabilitas kawasan, tetapi juga masa depan politiknya sendiri serta masa depan Partai Republik secara keseluruhan. (FG)


