Mengapa Trump Ngotot Nota Kesepahaman dengan Iran Ditandatangani Hari Minggu?
Laporan media menyebut Donald Trump ingin nota kesepahaman dengan Iran ditandatangani pada hari ulang tahunnya, sementara Teheran tampaknya tidak berniat memberinya kemenangan simbolis.
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Laporan sejumlah media regional menunjukkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump berupaya merampungkan dan menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Iran pada hari Minggu, tanggal yang bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-80.
Menurut laporan yang diterbitkan Al Jazeera, sejumlah analis politik menilai dorongan Trump untuk menyelesaikan kesepakatan pada hari tersebut berkaitan dengan kecenderungannya mengaitkan perkembangan politik besar dengan citra dan warisan politik pribadinya.
Laporan itu menyebut Trump memandang kesepakatan tersebut sebagai pencapaian politik penting dan berupaya menampilkannya sebagai keberhasilan pribadinya.
Namun, hingga saat ini Teheran tidak menunjukkan indikasi bahwa mereka bersedia menyesuaikan proses perundingan demi memenuhi kepentingan simbolis tersebut.
Teheran Bantah Ada Tanggal Penandatanganan
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa belum ada tanggal yang ditetapkan untuk penandatanganan kesepakatan apa pun.
Ia juga membantah klaim berulang dari pihak Amerika yang menyebut perjanjian akan diselesaikan “hari ini atau besok”.
Menurut Baghaei, pernyataan semacam itu lebih tepat dipandang sebagai bagian dari kampanye psikologis dan media daripada informasi yang dapat dipercaya mengenai status perundingan.
“Pihak Amerika berulang kali mengklaim bahwa kesepakatan akan segera dirampungkan, tetapi pernyataan-pernyataan tersebut tampaknya lebih ditujukan untuk membentuk persepsi publik dan mempromosikan narasi tertentu daripada mencerminkan realitas yang ada,” ujarnya.
Baghaei juga menolak spekulasi mengenai adanya jalur negosiasi tidak resmi. Ia menegaskan bahwa kerangka perundingan berlangsung secara transparan dengan para perunding, mediator, dan prosedur diplomatik yang jelas.
Media Israel: Iran Menjadi Pemenang Utama
Di sisi lain, media-media Israel secara terbuka menyampaikan kekhawatiran mereka terhadap kemungkinan tercapainya kesepahaman antara Washington dan Teheran.
Surat kabar berbahasa Ibrani Maariv menggambarkan Iran sebagai “pemenang yang tak terbantahkan” dalam konfrontasinya dengan Amerika Serikat.
Menurut laporan tersebut, kesepakatan yang sedang dibahas merupakan kemenangan strategis bagi Teheran sekaligus menunjukkan kegagalan Washington dan Tel Aviv dalam mencapai tujuan mereka.
Maariv menilai para pejabat Iran menunjukkan kemampuan politik yang lebih baik dibanding para pemimpin Israel, termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Menteri Perang Israel Katz, dan anggota koalisi pemerintah lainnya.
Surat kabar itu juga menyatakan bahwa hasil yang mulai terlihat telah membuat Israel semakin terisolasi dari proses diplomatik yang secara langsung memengaruhi kepentingan strategisnya.
Pejabat Israel Akui Ketidakpuasan
Kekhawatiran serupa sebelumnya juga dilaporkan harian Yedioth Ahronoth yang mengutip seorang pejabat senior Israel yang mengaku tidak puas dengan arah perundingan antara Amerika Serikat dan Iran.
Pejabat tersebut menyebut kesepakatan yang sedang dibahas merugikan kepentingan Israel dan mengakui bahwa Tel Aviv tidak mampu memengaruhi jalannya proses tersebut.
“Semua orang memahami bahwa kesepakatan ini tidak baik bagi kami dan merugikan kepentingan Israel,” kata pejabat itu.
Ia juga mengeluhkan bahwa Washington mengabaikan keberatan-keberatan Israel. Menurutnya, Tel Aviv terkejut dengan perkembangan yang terjadi dan frustrasi karena gagal memengaruhi hasil akhir perundingan. (PW)


