Menlu China: Tak Ada Negara yang Berhak Berperan sebagai Polisi Internasional
Wang Yi menegaskan perundungan sepihak kian meningkat secara global, sementara Beijing dan Islamabad meneguhkan komitmen pada hukum internasional dan kedaulatan
China | FAKTAGLOBAL.COM — Menteri Luar Negeri China Wang Yi menggelar pembicaraan di Beijing dengan Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar dalam Dialog Strategis Menteri Luar Negeri China–Pakistan, dengan membahas meningkatnya ketidakstabilan global serta mengecam keras penggunaan kekuatan oleh Amerika Serikat terhadap Venezuela.
Merujuk pada perkembangan internasional terkini, Wang menyatakan bahwa situasi global semakin kacau dan tidak stabil, dengan perundungan sepihak yang terus meningkat, sementara perkembangan mendadak di Venezuela telah menarik perhatian luas komunitas internasional.
China: Tidak Ada Negara Berhak Bertindak sebagai Hakim Global
Wang Yi menegaskan bahwa Beijing dengan tegas menolak gagasan bahwa negara mana pun dapat mengambil peran sebagai polisi internasional atau mengangkat dirinya sendiri sebagai hakim dunia.
“China tidak pernah percaya bahwa ada negara yang dapat memainkan peran sebagai polisi internasional, dan kami juga tidak setuju bahwa ada negara yang dapat mengklaim dirinya sebagai hakim internasional,” ujar Wang, sebagaimana dikutip Kementerian Luar Negeri China.
“Kedaulatan dan keamanan semua negara harus dilindungi sepenuhnya berdasarkan hukum internasional,” tambahnya.
Menteri luar negeri China itu kembali menegaskan bahwa Beijing secara konsisten menentang penggunaan atau ancaman kekerasan dalam hubungan internasional serta menolak pemaksaan kehendak satu negara terhadap negara lain.
Ia menambahkan bahwa China siap bekerja sama dengan Pakistan dan anggota komunitas internasional lainnya untuk secara tegas menjunjung Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, mematuhi batas-batas moral internasional, menegakkan prinsip kesetaraan kedaulatan, serta bersama-sama menjaga perdamaian dan pembangunan global.
Beijing Kecam Serangan AS ke Caracas, Tuntut Pembebasan Maduro
Pernyataan Wang disampaikan setelah Amerika Serikat melancarkan serangan militer mendadak pada Sabtu dini hari terhadap Caracas, ibu kota Venezuela, menahan Presiden Nicolás Maduro dan istrinya, lalu memindahkan mereka ke Amerika Serikat untuk diadili—sebuah tindakan yang mengejutkan komunitas internasional.
Kementerian Luar Negeri China mengeluarkan pernyataan pada Sabtu malam yang dengan keras mengecam penggunaan kekuatan secara terbuka oleh Washington terhadap negara berdaulat, serta menyatakan penolakan tegas terhadap apa yang disebutnya sebagai perilaku hegemonik Amerika dan pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
Pada Hari Minggu, Beijing kembali menegaskan posisinya dengan menyerukan agar Amerika Serikat segera membebaskan Maduro dan istrinya serta menghentikan upaya menggulingkan pemerintahan Venezuela.
Meski mendapat kecaman keras dari China, Presiden AS Donald Trump kembali mengklaim bahwa hubungannya dengan Presiden China Xi Jinping tetap “sangat baik”, sembari menjanjikan bahwa ekspor minyak Venezuela ke China akan terus berlanjut.
China dan Pakistan Teguhkan Persahabatan “Seerat Baja”
Menyinggung hubungan China–Pakistan, Wang Yi menyatakan bahwa kedua negara berbagi pegunungan dan sungai, memiliki kepentingan yang saling terkait secara mendalam, ikatan emosional yang erat, serta nasib bersama.
Ia menegaskan bahwa China dan Pakistan telah membangun “persahabatan seerat baja” melalui berbagai ujian turbulensi internasional, dengan kepercayaan dan dukungan timbal balik yang tetap menjadi ciri utama hubungan bilateral kedua negara.
Menatap tahun baru, Wang mengatakan China siap bekerja sama dengan Pakistan untuk melaksanakan kesepakatan yang telah dicapai para pemimpin kedua negara, memperkuat kepercayaan strategis, memperluas kerja sama praktis, memperdalam kolaborasi keamanan, serta meningkatkan koordinasi multilateral. (FG)


