Militer Israel: Melucuti Hizbullah adalah Mustahil
Militer Israel meninggalkan target melucuti Hizbullah, beralih ke strategi pembatasan, zona penyangga, dan penghancuran besar-besaran di selatan Lebanon.
Asia Barat, FAKTAGLOBAL.COM — Militer Israel secara resmi mengakui bahwa pelucutan senjata Hizbullah tidak lagi dapat dicapai dalam kondisi saat ini, menandai perubahan signifikan dalam tujuan perang yang sebelumnya mereka tetapkan.
Meskipun selama berbulan-bulan melakukan upaya dengan dukungan penuh Amerika Serikat serta di tengah sikap pasif pemerintah Lebanon, tentara pendudukan Israel kini mengakui bahwa melucuti Hizbullah pada tahap ini adalah mustahil dan tidak lagi menjadi tujuan utama perang.
Surat kabar Lebanon Al-Akhbar melaporkan bahwa radio militer Israel menyatakan prioritas baru adalah mendorong pasukan Hizbullah sekitar empat kilometer menjauh dari perbatasan.
Media Ibrani juga melaporkan bahwa militer Israel telah merevisi pendekatannya, mundur dari desakan sebelumnya untuk pelucutan senjata total. Kini, tujuan utama mereka didefinisikan sebagai melemahkan Hizbullah secara signifikan, membentuk garis pertahanan yang dalam, serta menghancurkan puluhan rumah di desa-desa garis depan—meniru model “Garis Kuning” yang digunakan di Jalur Gaza.
Pejabat Israel Isyaratkan Kemunduran Strategis dan “Realitas Baru”
Surat kabar Ibrani Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa pejabat militer Israel mengakui keterbatasan tujuan mereka.
“Kami harus bersikap rendah hati dalam hal ini,” ujar pihak militer terkait pelucutan senjata Hizbullah.
Meskipun militer Israel tetap mengklaim bahwa hanya mereka yang memiliki kewenangan untuk melucuti Hizbullah—bukan pemerintah Lebanon atau pihak lain—mereka mengakui bahwa pencapaian tujuan tersebut dalam kondisi saat ini sangat kompleks.
Menurut laporan tersebut, komando militer Israel menyimpulkan bahwa melucuti Hizbullah memerlukan penguasaan penuh atas Lebanon dan akses ke seluruh desa di wilayah tersebut. Namun, target seperti itu kini dinilai tidak realistis, sehingga fokus dialihkan pada upaya melemahkan organisasi tersebut secara signifikan.
Rencana Militer Baru Fokus pada Penghancuran dan Zona Penyangga
Sumber-sumber Ibrani mengungkapkan bahwa Komando Utara militer Israel dalam beberapa hari mendatang akan mempresentasikan “rencana defensif” untuk zona keamanan pertama di dekat garis perbatasan.
Rencana ini dilaporkan berfokus pada penghancuran rumah-rumah di barisan pertama desa-desa Lebanon selatan, dengan dukungan legal untuk memfasilitasi penghancuran secara luas.
Media Zionis menekankan bahwa model yang diusulkan Israel di Lebanon didasarkan pada pendekatan “Garis Kuning” yang diterapkan di Gaza.
Dalam konteks ini, tentara pendudukan Israel mengklaim bahwa dalam setiap kesepakatan mendatang, penduduk tidak akan diizinkan kembali ke desa-desa perbatasan tempat operasi Hizbullah berlangsung—kecuali desa-desa Kristen.
Pengerahan Militer dan Eskalasi di Lebanon Selatan
Saat ini, empat divisi militer Israel—91, 146, 36, dan 162—terlibat dalam operasi di Lebanon selatan.
Dua divisi menjalankan apa yang disebut “pertahanan ofensif,” sementara dua lainnya fokus memperkuat garis pertahanan di perbatasan, sekaligus melakukan operasi pendudukan, penghancuran, dan pembersihan.
Sumber-sumber Ibrani mengklaim bahwa tujuan operasi ini adalah mendorong pasukan Hizbullah ke belakang Sungai Litani dan menghancurkan infrastruktur yang telah mereka bangun di Lebanon selatan.
Kontradiksi Ungkap Runtuhnya Klaim Awal Israel
Perubahan sikap ini bertolak belakang dengan pernyataan para pemimpin Israel sebelumnya.
Baru sepekan lalu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan pejabat lokal di wilayah utara menyatakan bahwa pelucutan senjata Hizbullah “sudah di depan mata.” Sementara itu, Menteri Perang Israel Katz berulang kali berjanji akan melanjutkan perang hingga tujuan tersebut tercapai.
Kepala Staf Eyal Zamir juga dalam beberapa pekan terakhir setidaknya empat kali menegaskan bahwa Israel tidak akan meninggalkan target melucuti Hizbullah.
Namun kini, menurut media Israel, nada pernyataan di kalangan militer menjadi jauh lebih pesimistis—dan lebih realistis—terhadap tujuan tersebut.
Seorang koresponden Channel 12 Israel menyebut perkembangan ini sebagai “sangat mengejutkan,” karena bertentangan langsung dengan seluruh pernyataan resmi sebelumnya.
Perlawanan Lebanon: Zona Penyangga Akan Jadi “Kuburan Penjajah”
Menanggapi ancaman dan upaya Israel untuk membentuk zona penyangga di Lebanon selatan, fraksi Loyalitas kepada Perlawanan di parlemen Lebanon menegaskan bahwa setiap zona semacam itu akan menjadi “kuburan bagi para penjajah.”
Fraksi tersebut juga mengingatkan pada sabuk keamanan Israel di Lebanon selatan yang pada akhirnya runtuh dengan pembebasan wilayah tersebut pada tahun 2000. (FG)


