Palestina Berduka: Sang Pendongeng Hamza al-Aqrabawi Wafat Akibat Tenggelam di Sungai Nil
Hakawati dan Ahli Juru Kisah Palestina yang Dicintai, Dikenang sebagai Penjaga Tanah, Ingatan, dan Perlawanan
Palestina, FAKTAGLOBAL.COM — Palestina tengah berduka atas kehilangan salah satu penjaga budaya paling setianya, Hamza al-Aqrabawi, yang wafat setelah tenggelam di Sungai Nil, Mesir, saat melakukan kunjungan ke negara tersebut, menurut sumber yang dekat dengan keluarganya.
Peristiwa tragis itu terjadi pada Selasa, 31 Desember 2025. Hingga kini belum ada rincian lebih lanjut mengenai kronologi kejadian, dan otoritas Mesir belum mengeluarkan pernyataan resmi.
Kehidupan yang Berakar pada Tanah dan Ingatan
Lahir pada 19 Juli 1984, al-Aqrabawi berasal dari kota Aqraba, tenggara Nablus di Tepi Barat yang diduduki—sebuah tempat yang dengan penuh cinta ia gambarkan sebagai “sebuah bintang di antara dua dataran.” Ia adalah ayah dari empat anak.
Dibesarkan dalam lingkungan pedesaan yang kuat, al-Aqrabawi menumbuhkan keterikatan mendalam dengan tanah dan rakyatnya. Ikatan ini menjadi fondasi karya hidupnya: mengumpulkan kisah-kisah, melestarikan sejarah lisan, dan menjaga ingatan kolektif Palestina di tengah ancaman terus-menerus terhadap geografi, warisan, dan identitas akibat pendudukan Israel.
Hakawati Kehidupan Sehari-hari Palestina
Dikenal luas sebagai hakawati modern (pencerita tradisional), al-Aqrabawi mendedikasikan dirinya untuk mendokumentasikan warisan rakyat Palestina yang berakar pada kehidupan sehari-hari—khususnya pertanian, agrikultur, dan ritme musim.
Ia mengumpulkan dan merekam peribahasa, lagu-lagu, kepercayaan rakyat, serta tradisi lisan yang terkait dengan masa tanam, panen, dan kalender pedesaan. Baginya, cerita rakyat bukanlah nostalgia, melainkan catatan hidup tentang hubungan sebuah bangsa dengan tanahnya.
Al-Aqrabawi kerap menggambarkan dirinya secara sederhana sebagai “seorang petani yang mencintai tanah dan segala yang berkaitan dengannya,” bahkan memaknai waktu kelahirannya—di antara musim panen gandum dan musim petik zaitun—sebagai takdir yang mengikatnya dengan bumi.
Bercerita sebagai Tindakan Perlawanan
Selain menulis, al-Aqrabawi dikenal luas karena menyelenggarakan tur jalan kaki edukatif dan kultural di berbagai desa Palestina.
Melalui perjalanan-perjalanan ini, ia menghubungkan geografi dengan cerita, tempat dengan sejarah, dan tanah dengan identitas—menghidupkan kembali narasi-narasi yang sengaja dihapus atau dipinggirkan oleh kebijakan pendudukan.
Ia meyakini bahwa bercerita itu sendiri adalah sebuah bentuk perlawanan—cara untuk memulihkan martabat sejarah Palestina dan menghormati generasi-generasi yang melawan kolonialisme Inggris dan pendudukan Israel.
Kehilangan Tokoh Besar Budaya
Meski hidupnya relatif singkat, al-Aqrabawi menulis ratusan artikel riset yang dipublikasikan di berbagai situs, jurnal, dan surat kabar Palestina serta Arab. Ia memberi perhatian khusus pada pengumpulan arsip yang merekam detail kehidupan sehari-hari Palestina, yang ia anggap sebagai pilar-pilar penting ingatan nasional.
Karyanya menggema luas, menjadikannya sosok yang dicintai oleh warga desa, aktivis budaya, peneliti, dan generasi muda Palestina yang mencari kembali keterhubungan dengan akar mereka.
Menyusul kabar wafatnya, tokoh-tokoh budaya, aktivis, dan para pengikutnya di media sosial menyampaikan duka dan penghormatan, mengenangnya sebagai penjaga tulus identitas Palestina dan jembatan antar generasi.
Banyak yang menggambarkan kepergiannya sebagai kehilangan besar bagi lanskap budaya dan perlawanan Palestina, meninggalkan warisan kisah-kisah yang terus berbicara atas nama sebuah bangsa yang suaranya menolak untuk dibungkam.
Semoga Allah merahmati Hamza al-Aqrabawi, dan semoga kisah-kisahnya tetap hidup di tanah yang ia cintai dan bela dengan kata-kata. (FG)


