Pangeran Andrew Ditangkap dalam Skandal Epstein, Monarki Inggris Diguncang Krisis Bersejarah
Laporan menyebut Andrew berpotensi menjadi anggota pertama keluarga kerajaan Inggris yang menghadapi hukuman penjara, menandai krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi monarki ini
Inggris | FAKTAGLOBAL.COM — Otoritas Inggris telah menangkap Pangeran Andrew, sebuah langkah yang menandai keretakan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern monarki Inggris serta memicu krisis politik dan hukum yang terkait dengan skandal Jeffrey Epstein.
Penangkapan yang dilakukan pada Hari Kamis itu terjadi di tengah meningkatnya penyelidikan atas dugaan pelanggaran selama masa jabatan Andrew sebagai utusan dagang Inggris, yang semakin menyingkap budaya impunitas yang selama ini melindungi elite Barat dari akuntabilitas.
Dalam hitungan jam setelah penangkapan, Raja Charles III mengeluarkan pernyataan langka yang ditandatangani secara pribadi, menegaskan bahwa “hukum harus berjalan sebagaimana mestinya,” sebuah pengakuan atas bobot skandal yang mengguncang establishment Inggris.
Andrew, yang genap berusia 66 tahun pada hari penangkapannya, dilaporkan menghabiskan hari ulang tahunnya dalam tahanan polisi.
Polisi Menggeledah Properti Kerajaan yang Terkait dengan Duke of York
Otoritas Inggris mengonfirmasi penggeledahan di dua properti yang terkait dengan Andrew.
Menurut BBC, satu penggeledahan dilakukan di Royal Lodge, bekas kediamannya di kompleks Windsor di barat London. Penggeledahan kedua berlangsung di kediamannya saat ini yang berada di dalam kawasan pribadi Sandringham milik raja di Norfolk, tempat media Inggris melaporkan penangkapan itu terjadi.
Gambar-gambar yang beredar di media Inggris menunjukkan sejumlah kendaraan tanpa tanda, yang diyakini sebagai mobil polisi, tiba di Sandringham pada Kamis pagi.
Kepolisian Thames Valley menyatakan telah menangkap “seorang pria berusia enam puluhan dari Norfolk atas dugaan pelanggaran dalam jabatan publik,” seraya menolak menyebutkan namanya sesuai prosedur standar Inggris.
Berkas Epstein Menghidupkan Kembali Tuduhan Lama
Penangkapan Andrew merupakan konsekuensi terbaru dari hubungannya yang telah lama terdokumentasi dengan pelaku kejahatan seksual asal Amerika Serikat yang telah divonis, Jeffrey Epstein, yang jaringannya menyeret tokoh-tokoh kuat di bidang politik, keuangan, dan kerajaan di kedua sisi Atlantik.
Para penyelidik dilaporkan tengah menelaah dugaan bahwa Andrew, selama menjabat sebagai utusan dagang Inggris antara 2001 hingga 2011, membagikan informasi pemerintah yang sensitif atau bersifat rahasia.
Menurut surel yang ditinjau oleh AFP, Andrew diduga meneruskan laporan mengenai sejumlah negara Asia kepada Epstein setelah kunjungan resmi, serta kemudian membahas peluang investasi yang melibatkan rekan-rekan Epstein—memunculkan pertanyaan serius mengenai korupsi, perdagangan pengaruh, dan penyalahgunaan jabatan.
Upaya Pengendalian Kerusakan oleh Kerajaan dan Dampak Politik
Tahun lalu, Raja Charles mencabut gelar-gelar kerajaan Andrew dan memaksanya meninggalkan kediamannya di Windsor, meskipun ia masih berada di urutan kedelapan dalam garis suksesi takhta.
Dalam pernyataan terbarunya, raja mengatakan bahwa ia mengetahui tuduhan tersebut “dengan keprihatinan yang mendalam,” seraya menjanjikan proses yang “penuh, adil, dan tepat,” serta menegaskan bahwa otoritas akan menerima “dukungan dan kerja sama penuh.”
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer juga menyampaikan pernyataan publik dengan mengatakan bahwa “tidak ada seorang pun yang berada di atas hukum,” sebuah klaim yang oleh banyak pengkritik dinilai telah lama tertunda dalam sistem yang secara historis ditandai oleh perlindungan kelas dan keadilan selektif.


Keluarga Giuffre Sambut Penangkapan, Tolak Status Kerajaan
Keluarga Virginia Giuffre—salah satu penuduh Epstein yang paling menonjol—menyambut kabar penangkapan Andrew.
“Hati kami yang hancur telah terangkat,” kata keluarga tersebut, seraya menambahkan bahwa Andrew “tidak pernah menjadi seorang pangeran.”
Giuffre sebelumnya menuduh Andrew melakukan pelecehan seksual terhadap dirinya saat masih di bawah umur—tuduhan yang secara konsisten dibantah oleh Andrew. Pada 2022, ia menyelesaikan gugatan perdata di Amerika Serikat yang diajukan oleh Giuffre tanpa mengakui tanggung jawab.
Dakwaan Pelanggaran Jabatan dan Penyelidikan Lebih Luas
Di bawah hukum Inggris, pelanggaran dalam jabatan publik dapat dijatuhi hukuman penjara seumur hidup, menurut Crown Prosecution Service.
Menurut laporan media, Andrew berpotensi menjadi anggota pertama keluarga kerajaan Inggris dalam sejarah yang menghadapi hukuman penjara—sebuah perkembangan yang akan menandai krisis monarki yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Perkembangan ini menyusul rilis jutaan dokumen oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat terkait Epstein, yang meninggal di sebuah penjara New York pada 2019 saat menunggu persidangan atas tuduhan perdagangan seks.
Secara terpisah, Kepolisian Metropolitan London telah membuka penyelidikan atas hubungan antara Epstein dan mantan duta besar Inggris untuk Washington, Peter Mandelson.
Penangkapan Andrew telah meningkatkan sorotan terhadap struktur kekuasaan Barat yang selama puluhan tahun melindungi elite politik, kerajaan, dan keuangan dari akuntabilitas, sembari secara terbuka mengampanyekan narasi “supremasi hukum” dan “hak asasi manusia” ke luar negeri.
Seiring berlanjutnya penyelidikan, skandal ini mengancam bukan hanya monarki Inggris, tetapi juga kredibilitas institusi-institusi Barat yang kian dikritik sebagai sistem yang sarat privilese dan keadilan selektif. (FG)




