Pasukan Israel Tangkap Seorang Anak dan Seorang Penggembala di Suriah Selatan
Penahanan dan operasi darat terus berlanjut di Quneitra dan Daraa meski ada pembicaraan keamanan yang disponsori AS
Suriah | FAKTAGLOBAL.COM — Pasukan pendudukan Israel menahan seorang anak dan seorang penggembala sipil dalam dua insiden terpisah di Suriah selatan pekan ini, seiring operasi darat Israel terus meluas di provinsi Quneitra dan Daraa meskipun terdapat kontak politik dan keamanan yang dimediasi Amerika Serikat dengan Damaskus.
Penahanan Warga Sipil di Quneitra dan Dataran Tinggi Golan
Sumber-sumber lokal melaporkan bahwa pasukan pendudukan Israel menahan seorang anak pada hari Kamis di sebelah barat desa Koudna, di wilayah pedesaan Quneitra, sebelum membawanya ke lokasi yang tidak diungkapkan.
Dalam insiden terpisah, sebuah patroli Israel memasuki desa Ruwayhina, di Quneitra bagian tengah, dan menangkap seorang penggembala saat melakukan operasi darat di wilayah tersebut.
Sebelumnya pada pekan ini, pasukan Israel juga menahan seorang pemuda dari desa Saida di Dataran Tinggi Golan yang diduduki, menyusul penggerebekan dan penggeledahan rumah yang dilakukan pada malam hari.
Konvoi Militer Israel Maju di Daraa Barat
Penahanan-penahanan tersebut bertepatan dengan eskalasi yang lebih luas dari aktivitas militer Israel di Suriah selatan.
Menurut sumber-sumber lokal di Daraa, pasukan pendudukan Israel maju ke sejumlah desa di wilayah pedesaan Daraa bagian barat pada 18 Februari.
Laporan menyebutkan bahwa:
Sebuah konvoi militer Israel yang terdiri dari sekitar 20 kendaraan militer memasuki desa Saisoun, di mana pasukan tersebut mendirikan dua pos pemeriksaan di dalam desa.
Sebuah patroli Israel terpisah yang terdiri dari tujuh kendaraan militer bergerak memasuki al-Masritiya, di kawasan Lembah Yarmouk.
Pergerakan ini menandai kelanjutan kehadiran darat Israel melampaui garis-garis penempatan yang sebelumnya terpantau.
Operasi Berlanjut Meski Ada “Kesepahaman Keamanan” yang Didukung AS
Aksi-aksi terbaru Israel ini terjadi meskipun terdapat pengumuman bersama oleh Amerika Serikat, Israel, dan Suriah yang mengklaim adanya kesepahaman strategis untuk meningkatkan “keamanan dan stabilitas” antara Damaskus dan Tel Aviv.
Menyusul pertemuan di Paris awal bulan ini, ketiga pihak mengumumkan rencana mekanisme koordinasi, termasuk pembentukan kerangka kerja koordinasi keamanan bersama.
Penyiar Israel i24NEWS melaporkan pada 24 Januari bahwa pejabat Suriah dan Israel hampir merampungkan perjanjian keamanan yang disponsori AS, dengan pertemuan lanjutan diharapkan untuk menyelesaikan rincian yang tersisa.
Keterlibatan Militer dan Diplomatik AS
Secara paralel, seorang juru bicara Komando Pusat Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa komandannya, Brad Cooper, telah mengadakan pembicaraan dengan presiden sementara Suriah, Ahmad al-Sharaa.
Laporan tambahan dari penyiar publik Israel menunjukkan bahwa kontak tidak langsung antara Suriah dan Israel juga melibatkan mediasi Rusia, yang berjalan dengan persetujuan AS, dengan Baku menjadi tuan rumah bagi sejumlah pertemuan tingkat tinggi.
Meski terdapat jalur-jalur diplomatik tersebut, operasi darat Israel di Suriah selatan terus berlanjut tanpa gangguan.
Operasi Israel yang Berkelanjutan Sejak Akhir 2024
Sejak runtuhnya pemerintahan Bashar al-Assad pada 8 Desember 2024, Israel telah melakukan ratusan operasi udara dan darat di seluruh wilayah Suriah.
Sepanjang tahun 2025, pasukan Israel memperluas kehadirannya melampaui zona pemisahan tahun 1974, meningkatkan serangan terhadap infrastruktur militer, dan menduduki wilayah tambahan di Suriah selatan.
Perundingan antara Damaskus dan Tel Aviv dilaporkan menemui jalan buntu pada akhir 2025 akibat perselisihan mengenai wilayah dan ketentuan penarikan pasukan, sementara tuntutan Israel melampaui sekadar pengaturan keamanan terbatas.
Situasi di Lapangan
Meski terdapat keterlibatan diplomatik yang terus berlangsung dan dipimpin oleh Washington, penahanan, patroli, dan operasi lapis baja Israel di Suriah selatan tetap berlanjut, dengan komunitas sipil di Quneitra dan Daraa terus terdampak langsung oleh meluasnya jejak militer Israel.
Keberlanjutan operasi-operasi ini menegaskan adanya kesenjangan antara pernyataan diplomatik mengenai “stabilitas” dan realitas tindakan Israel di lapangan. (FG)


