Paus Leo XIV Beri Respons Keras terhadap Hinaan Trump
Pemimpin Gereja menegaskan Kristus berpihak pada kaum lemah—bukan yang sombong—di tengah eskalasi serangan Trump dan gelombang kritik
Vatican, FAKTAGLOBAL.COM — Paus Leo XIV menyampaikan respons tegas dan tanpa kompromi terhadap hinaan Presiden AS Donald Trump, dengan menegaskan bahwa hati Nabi Isa (as) berpihak kepada kaum yang rendah hati—bukan kepada mereka yang zalim, sombong, atau angkuh.
Sang Paus—yang sebelumnya menyatakan tidak takut terhadap pemerintahan Trump setelah serangan verbal yang tidak biasa—menegaskan kembali posisinya dalam sebuah pesan yang dipublikasikan di media sosial.
“Perang, kekerasan, ketidakadilan, dan kebohongan tidak diridhai oleh Tuhan,” tulis Paus tersebut.
“Hati Nabi umat Kristen tidak bersama orang-orang jahat, sombong, atau angkuh, tetapi bersama mereka yang rendah hati dan lemah lembut.”
Trump Terus Meningkatkan Serangan di Tengah Kritik
Pernyataan ofensif Trump terhadap Paus Leo XIV memicu reaksi luas di dunia Kristen, termasuk dari kalangan religius di antara pendukungnya sendiri.
Namun, di tengah gelombang kritik tersebut, Trump menolak mundur. Pada Selasa, ia kembali melontarkan kritik dengan mengatakan:
“Ia tidak mengerti dan tidak seharusnya berbicara tentang perang, karena ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Pernyataan ini menyusul pesan sebelumnya di mana Trump mendesak Paus untuk “membenahi dirinya,” serta menuduhnya bertindak seperti politisi, bukan pemimpin agama.
Dukungan Meluas hingga Dunia Islam
Dukungan terhadap sikap Paus tidak hanya datang dari komunitas Kristen, tetapi juga meluas ke dunia Islam, dengan reaksi dari sejumlah tokoh terkemuka.
Ayatullah Alireza Arafi, ulama senior Iran sekaligus kepala jaringan hauzah nasional, memuji Paus Leo XIV dalam sebuah surat resmi, menyebut sikapnya selaras dengan misi sejati agama Kristen.
“Anda tetap setia pada misi sejati Kristen, karena Nabi Isa adalah utusan perdamaian, kasih sayang, dan pembela kaum tertindas. Apa yang Anda sampaikan hari ini adalah kelanjutan dari misi tersebut,” tulisnya.
Ia menambahkan bahwa sikap Paus menunjukkan bahwa Vatikan dapat menjadi “wadah bagi seruan keadilan, bukan altar keheningan di hadapan penindasan.”
Arafi juga menekankan bahwa di tengah upaya untuk meminggirkan agama dari kehidupan moral publik, pembelaan Paus terhadap orang-orang tak bersalah membuktikan bahwa nurani keagamaan masih dapat menjadi salah satu suara moral terkuat di dunia.
Ia menutup dengan menyerukan agar sikap tersebut terus dilanjutkan, serta berdoa agar suara keadilan pada akhirnya menang “atas gemuruh bom dan suara setan.”
Otoritas Moral vs Kekuasaan Politik
Pernyataan Paus ini muncul di tengah seruan luasnya dalam beberapa hari terakhir untuk perdamaian serta penolakan terhadap perang dan ketidakadilan—posisi yang mendapat perhatian luas di berbagai komunitas agama.
Sikapnya banyak dicatat di berbagai belahan dunia, termasuk di kalangan Muslim, sebagai sejalan dengan ajaran para nabi dan sebagai penolakan moral terhadap penindasan dan agresi.
Saling beri pernyataan antara Trump dan Paus Leo XIV mencerminkan lebih dari sekadar perselisihan pribadi—ini menunjukkan jurang yang semakin lebar antara retorika politik dan posisi moral.
Bagi banyak pengamat, kata-kata Paus mempertegas sikap etis yang jelas, berakar pada kerendahan hati dan keadilan, sementara serangan yang terus diarahkan kepadanya menyoroti meningkatnya ketegangan antara kekuasaan dan prinsip. (FG)


