Pejabat Militer Iran dan Menlu Bertemu, Tegaskan Kesiapan Hadapi Ancaman
Pertemuan pejabat militer dan diplomatik Iran di Teheran menegaskan kesiapan penuh menghadapi ancaman, dengan diplomasi didukung kekuatan militer.
Iran | FAKTAGLOBAL.COM — Para komandan senior Angkatan Bersenjata Iran dan pejabat diplomatik tingkat tinggi menggelar pertemuan di Teheran pada Hari Selasa.
Pertemuan ini untuk mengoordinasikan respons terpadu terhadap ancaman asing, dengan mengaitkan secara langsung kesiapan militer negara tersebut dengan daya tawar diplomatiknya dalam negosiasi nuklir yang sedang berlangsung.
Diplomasi dari Posisi Kekuatan
Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi memberikan pengarahan kepada para pejabat militer mengenai putaran terbaru perundingan nuklir tidak langsung dengan Amerika Serikat.
Araghchi menyatakan bahwa Iran bernegosiasi dari “posisi kekuatan,” seraya menegaskan bahwa kesiapan Angkatan Bersenjata merupakan faktor utama yang memperkuat kepercayaan diri Teheran di meja perundingan.
“Diplomasi kami berlandaskan pada kesiapan militer kami,” kata Araghchi, menekankan bahwa kapabilitas pertahanan memberikan dukungan yang diperlukan bagi tujuan kebijakan luar negeri Iran.
Front Terpadu untuk Kedaulatan Nasional
Mayor Jenderal Amir Hatami, yang memimpin delegasi militer, memperingatkan bahwa setiap “salah perhitungan” oleh pihak lawan akan memicu respons militer yang “belum pernah disaksikan sebelumnya.”
Hatami menegaskan bahwa Angkatan Darat Iran tetap berada dalam status siaga tinggi dan telah secara signifikan meningkatkan kekuatannya sejak konflik 12 hari pada bulan Juni.
“Musuh hanya memahami bahasa kekuatan,” ujar Hatami. Ia menggambarkan sektor militer dan diplomatik sebagai satu medan yang tidak terpisahkan, yang sepenuhnya didedikasikan untuk mempertahankan keutuhan wilayah dan kepentingan nasional Iran.
Koordinasi Strategis
Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh Wakil Koordinator Angkatan Bersenjata, Laksamana Madya Habibollah Sayyari, serta Panglima Angkatan Laut, Laksamana Madya Shahram Irani.
Kedua pihak menekankan pentingnya integrasi kekuatan militer dengan inisiatif diplomatik guna menjaga kedaulatan nasional.
Pembicaraan tingkat tinggi ini berlangsung menjelang peringatan “22 Bahman,” yang menandai hari jadi Revolusi Islam 1979. (FG)


