Pelayaran Masih Lumpuh di Selat Hormuz Meski Trump Janji Membukanya Kembali
Lalu lintas maritim tetap terhenti di Selat Hormuz, sementara sektor penerbangan dan pasar global menyerap dampak guncangan dari perang yang terus berlangsung dengan Iran
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Lalu lintas maritim melalui Selat Hormuz masih dalam kondisi lumpuh secara luas, meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump berulang kali mengklaim bahwa Washington akan memastikan pembukaan kembali dan keamanan jalur strategis tersebut.
Laporan Reuters menegaskan bahwa mayoritas lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz tetap terhenti, mencerminkan kerusakan berkelanjutan dalam pergerakan maritim, bukan sekadar gangguan sementara.
Hal ini secara langsung bertentangan dengan jaminan Amerika Serikat bahwa kebebasan navigasi akan dipulihkan.
Terlepas dari retorika Washington, perusahaan pelayaran belum kembali beroperasi secara normal, menunjukkan bahwa situasi keamanan di lapangan belum mengalami perubahan berarti.
Selat tersebut—yang dilalui oleh sebagian besar pasokan minyak dunia—kini beroperasi di bawah tekanan berat, secara efektif membekukan sebagian besar arus energi global.
Guncangan Penerbangan Meningkat: Harga Bahan Bakar Melonjak, Penerbangan Dipangkas
Kelumpuhan di Selat Hormuz kini menjalar ke sektor penerbangan global.
Menurut Financial Times, perang yang berlangsung telah menggandakan harga bahan bakar jet, memicu pembatalan sekitar 12000 penerbangan di seluruh dunia.
Maskapai telah menghapus sekitar dua juta kursi dari jadwal bulan Mei hanya dalam waktu dua minggu, seiring melonjaknya biaya bahan bakar dan ketidakstabilan kawasan yang memaksa pengurangan operasi secara besar-besaran.
Penutupan pusat transit utama di Teluk—yang digunakan oleh sekitar sepertiga rute Eropa-Asia—semakin memperparah gangguan.
Maskapai besar seperti Lufthansa, Air China, dan Turkish Airlines melakukan pembatalan signifikan, sementara lainnya seperti British Airways dan United Airlines mengurangi frekuensi penerbangan serta mengubah rute jaringan mereka.
Peringatan IMF: Skenario Terburuk Kini Menjadi Dasar
Dana Moneter Internasional (IMF), di bawah kepemimpinan Kristalina Georgieva, memperingatkan bahwa ekonomi global kini bergerak menuju skenario terburuk jika perang terus berlanjut.
Georgieva menyatakan bahwa proyeksi sebelumnya yang menyebut dampak “terbatas” tidak lagi kredibel, dengan skenario pembalikan negatif kini menjadi acuan utama.
Dalam proyeksi tersebut:
Harga minyak dapat naik hingga 110 dolar per barel pada 2026 dan 125 dolar pada 2027
Pertumbuhan global berpotensi turun mendekati tingkat resesi, sekitar 2 persen
Inflasi global dapat melonjak melampaui 6 persen
Gangguan yang terus berlanjut di sekitar Selat Hormuz secara efektif telah menjadikan Teluk Persia sebagai pusat ketidakstabilan energi global.
Realitas vs Narasi Amerika Serikat
Kelumpuhan yang terus berlangsung dalam lalu lintas pelayaran mengungkap jurang yang semakin lebar antara klaim Amerika Serikat dan realitas di lapangan.
Sementara Washington terus menampilkan citra pengendalian atas keamanan maritim, kondisi di Selat Hormuz menunjukkan bahwa situasi sebenarnya masih belum berubah—dan belum terselesaikan.
Apa yang awalnya digambarkan sebagai gangguan sementara kini telah berkembang menjadi tekanan berkepanjangan terhadap jalur perdagangan global, aliran energi, dan stabilitas ekonomi.
Semakin lama kelumpuhan ini berlangsung, semakin dalam dampak strukturalnya terhadap ekonomi global. (FG)




