Pemimpin Kiri Dominika: Narasi AS soal Venezuela dan Narkoba Runtuh
Miguel Mejía Menyatakan Klaim Trump Menutupi Proyek Besar untuk Melemahkan Kedaulatan Venezuela dan Merampas Sumber Daya Strategisnya
Venezuela, FAKTAGLOBAL.COM — Miguel Mejía, Sekretaris Jenderal United Left Movement (MIU) Republik Dominika dan mantan Menteri Tanpa Portofolio untuk Kebijakan Integrasi Regional, menyatakan bahwa narasi yang dipromosikan oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump terkait Venezuela dan perdagangan narkoba semakin kehilangan kredibilitas.
Menurut Mejía, tujuan sesungguhnya Washington bukanlah memerangi narkotika, melainkan menghancurkan proses politik Venezuela, melanggar kedaulatannya, dan merampas kekayaan alamnya yang melimpah.
Narasi Narkoba AS “Kehilangan Daya”
Dalam wawancara eksklusif di Radio Televisión Dominicana, Channel 4, pada program La Mirada, Mejía mengatakan bahwa Trump sendiri tanpa sengaja telah menyingkap niat sebenarnya di balik narasi Amerika Serikat tersebut.
“Trump baru-baru ini menyatakan bahwa sebagian dari ‘wilayahnya’ telah diambil darinya, bahwa kekayaannya dicuri, dan bahwa ia harus mengejarnya,” ujar Mejía, seraya menambahkan bahwa pernyataan semacam itu melucuti kredibilitas klaim yang mengaitkan Venezuela dengan perdagangan narkoba.
“Ini jelas menunjukkan bahwa tujuannya bukan narkoba,” tegasnya, “melainkan mencampuri kedaulatan Venezuela dan memburu kekayaannya.”
Membidik Sumber Daya Venezuela
Mejía menekankan bahwa kepentingan Amerika Serikat jauh melampaui minyak, mencakup sumber daya strategis Venezuela lainnya.
“Trump menginginkan minyak Venezuela, emasnya, mineral tanah jarangnya, dan kekayaan alamnya—tidak ada keraguan tentang itu,” katanya.
Ia menilai pelabelan berulang terhadap Venezuela sebagai “negara narkoba” atau “kekuatan narkoteroris” semata-mata dijadikan pembenaran untuk tindakan ilegal yang melanggar hukum internasional.
Aksi Maritim Ilegal dan Dalih Rekayasa
Mejía mengecam keras aksi angkatan laut AS di Karibia, seraya menyatakan bahwa Washington telah menenggelamkan kapal-kapal tanpa verifikasi hukum.
“Mereka menenggelamkan perahu di luar hukum internasional, tanpa memastikan apakah orang-orang itu benar-benar pengedar narkoba atau bahkan membawa narkoba,” ujarnya.
Ia menambahkan, jika tuduhan tersebut benar, Amerika Serikat seharusnya menahan para tersangka dan menyajikan bukti konkret kepada komunitas internasional.
“Jika mereka benar-benar memiliki bukti, mereka akan menangkap para terduga dan menunjukkan bukti itu kepada dunia,” kata Mejía. “Namun itu tidak terjadi.”
Skenario Lama, Bukan Krisis Baru
Menurut Mejía, tekanan terhadap Venezuela bukanlah fenomena baru, melainkan kelanjutan dari strategi lama.
“Kita tidak menghadapi sesuatu yang baru,” katanya. “Ini adalah kelanjutan dari sebuah skenario yang hanya mengganti pembenaran.”
Ia memperingatkan bahwa pergeseran narasi—dari narkoba ke keamanan lalu ke demokrasi—tetap melayani agenda yang sama: intervensi dan dominasi.
Krisis Venezuela Harus Diselesaikan oleh Rakyat Venezuela
Mejía menegaskan bahwa perdamaian tidak dapat dipaksakan melalui pemaksaan atau campur tangan asing.
“Negara-negara harus mencari perdamaian, tetapi dalam bingkai kedaulatannya,” ujarnya, menekankan bahwa persoalan internal Venezuela harus diselesaikan oleh rakyat Venezuela sendiri.
Panggilan Trump–Maduro Bongkar Kontradiksi
Mejía juga menyinggung laporan percakapan telepon antara Trump dan Presiden Venezuela Nicolás Maduro, yang ia gambarkan sebagai “hangat dan penuh penghormatan.”
“Ia menyapa Maduro sebagai presiden dan bahkan mengundangnya ke Washington,” kata Mejía, seraya menyoroti kontradiksi antara gestur diplomatik dan retorika publik yang agresif.
Ia berpendapat bahwa tekanan Amerika Serikat justru berbalik arah, memperkuat pemerintah Venezuela sekaligus memecah belah oposisi.
Perpecahan Oposisi Kian Dalam
Mejía mencatat meningkatnya retakan di tubuh oposisi Venezuela, khususnya antara tokoh-tokoh seperti Henrique Capriles dan María Corina Machado.
“Machado tidak mempersatukan oposisi,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa perpecahan internal telah melemahkan kekuatan politik yang sejalan dengan Washington.
Republik Dominika Terseret Manuver Militer AS
Mejía juga menyuarakan penolakan keras terhadap Presiden Republik Dominika Luis Abinader atas keputusannya mengizinkan penggunaan wilayah udara, darat, dan maritim Dominika dalam operasi yang menargetkan Venezuela.
“Tidak ada preseden bagi tingkat pengepungan militer seperti ini,” kata Mejía, memperingatkan bahwa Republik Dominika—dengan sejarah panjang intervensi AS—sedang mempertaruhkan kedaulatannya.
“Keputusan ini berbahaya, melampaui perbedaan politik apa pun,” tambahnya. “Belum pernah kedaulatan kita dikompromikan sejauh ini.”
Militerisasi Kawasan dan Kembalinya Pangkalan AS
Mejía memperingatkan militerisasi kawasan yang lebih luas, dengan menyinggung pengaktifan kembali pangkalan-pangkalan militer AS di Panama sebagai bagian dari strategi tekanan dan intimidasi yang lebih besar.
“Mereka menciptakan mitos untuk membenarkan agresi,” katanya. “Hari ini satu dalih, besok dalih lainnya.”
Mejía menutup pernyataannya dengan menegaskan komitmennya pada perdamaian—namun bukan dengan mengorbankan kedaulatan atau menerima ketundukan.
“Apa yang kita saksikan adalah pola dominasi,” tegasnya, “dan Venezuela berada di pusat perjuangan yang lebih luas melawan intervensi, penjarahan, dan narasi yang dipaksakan.” (FG)


