Pemimpin Yaman: “Dewan Perdamaian” Trump Adalah Proyek Dominasi, Bukan Perdamaian
Sayyed Abdul-Malik al-Houthi memperingatkan bahwa agenda Washington menargetkan umat, melayani kepentingan AS–Israel, dan menyamarkan agresi dengan slogan palsu
Yaman | FAKTAGLOBAL.COM — Pemimpin Yaman Sayyed Abdul-Malik Badr al-Din al-Houthi melontarkan kecaman menyeluruh terhadap apa yang dipromosikan sebagai “Dewan Perdamaian” versi Trump, seraya memperingatkan bahwa badan tersebut tidak akan menghadirkan perdamaian maupun memenuhi harapan bangsa Arab dan umat Islam, melainkan akan berfungsi sebagai alat dominasi Amerika dan Israel atas kawasan.
Dalam pidatonya pada 22 Januari 2026, bertepatan dengan peringatan syahidnya Presiden Saleh Ali al-Sammad, Sayyed al-Houthi menyatakan bahwa berbagai pengaturan yang dipimpin Amerika Serikat tidak dirancang untuk menciptakan stabilitas, perdamaian, atau normalisasi, melainkan secara tegas disusun untuk menargetkan umat dan mengokohkan kendali asing.
Dewan yang Dibangun Seputar Trump, Bukan Perdamaian
Sayyed Al-Houthi menjelaskan bahwa setiap ketentuan dalam dewan Trump berpusat pada sosok Donald Trump sendiri, mencerminkan sebuah proyek politik yang digerakkan oleh ambisi pribadi, paksaan, dan perampasan terbuka atas kekayaan serta sumber daya bangsa-bangsa lain.
Ia menggambarkan Trump sebagai perwujudan yang jelas dan terbuka dari keserakahan berorientasi Zionis—Amerika, Israel, Inggris, dan Barat—seraya menekankan bahwa Trump bukanlah pengecualian dalam sistem Amerika Serikat, melainkan ekspresi paling telanjang dan paling terlihat dari sistem tersebut.
Menurut Pemimpin Yaman tersebut, prioritas dewan itu menyingkap fungsi sejatinya: dominasi yang disamarkan sebagai diplomasi.
Gaza: Pelucutan Senjata dan Eksploitasi di Bawah Selubung “Perdamaian”
Berbicara mengenai Gaza, al-Houthi mengatakan bahwa prioritas utama dewan tersebut dalam apa yang disebut sebagai “fase kedua” adalah pelucutan senjata rakyat Palestina, termasuk senjata pribadi paling dasar, bersamaan dengan skema investasi asing.
Ia mencatat bahwa Trump berulang kali dan secara terbuka membicarakan ambisinya terkait proyek investasi di Gaza, garis pantainya, serta perairan teritorialnya, termasuk eksploitasi sumber daya minyak dan gas—yang menunjukkan bahwa penjarahan ekonomi, bukan perdamaian, merupakan inti dari proyek tersebut.
Kejahatan Israel Terus Berlangsung Meski Ada Kesepakatan
Sayyed Al-Houthi menegaskan bahwa berbagai kesepakatan gagal membendung agresi Israel. Pasca gencatan senjata Gaza, pasukan Israel terus melakukan pembunuhan harian terhadap anak-anak dan perempuan, memberlakukan pengepungan mencekik, serta hanya mengizinkan masuknya makanan dan kebutuhan pokok dalam jumlah sangat terbatas.
Ia menyatakan bahwa Israel terus menutup perlintasan, menghalangi masuknya tenda, karavan, dan unit hunian bergerak, sementara dunia menyaksikan penderitaan luar biasa yang dipaksakan kepada rakyat Palestina di seluruh aspek kehidupan.
Dari Tepi Barat hingga Lebanon: Agresi Tanpa Kendali
Berpindah ke Tepi Barat yang diduduki, Sayyed al-Houthi menyatakan bahwa pasukan Israel terus melancarkan agresi menyeluruh, termasuk penghancuran lebih dari 2.500 rumah, pembunuhan sistematis, dan kelanjutan langkah-langkah pengepungan.
Ia merinci praktik-praktik yang terus berlangsung berupa pembunuhan, penjarahan, pembakaran, perusakan tanaman, pencurian ternak, penculikan, serta serangan brutal terhadap warga sipil dari segala usia, disertai pelanggaran hampir setiap hari terhadap kesucian Masjid Al-Aqsa dan serbuan berulang.
Ia menyatakan keprihatinan mendalam bahwa pelanggaran-pelanggaran tersebut telah dinormalisasi di seluruh dunia Arab dan Islam, tanpa tersisa sikap kolektif yang efektif.
Di Lebanon, Sayyed al-Houthi mengatakan agresi Israel terus berlanjut tanpa hambatan meski ada kesepakatan dan pihak-pihak penjamin, dengan merujuk pada pembunuhan, penghancuran, pelanggaran wilayah udara, penyusupan, pemboman, dan penculikan yang masih berlangsung, serta banyak tahanan yang tetap ditahan di penjara Israel.
Suriah: Berpihak pada Washington Tak Menghentikan Pendudukan
Mengenai Suriah, Sayyed al-Houthi menekankan bahwa bahkan di wilayah di mana kekuatan yang menguasai negara tersebut secara terbuka menyelaraskan diri dengan Amerika Serikat dan memberi sinyal kesiapan untuk normalisasi dengan Israel, pelanggaran dan pendudukan tetap berlanjut.
Ia menyatakan bahwa Suriah masih menjadi sasaran penyusupan terus-menerus, perampasan wilayah, dan dominasi asing, yang menegaskan bahwa kesetiaan kepada Washington tidak memberikan perlindungan dari agresi.
Pola Imperialis yang Lebih Luas
Sayyed Al-Houthi menempatkan dewan Trump dalam pola perilaku Amerika Serikat yang lebih luas secara global, dengan menyoroti perundungan Washington yang kian terbuka—mulai dari upaya memaksakan kendali atas Greenland hingga penindasan dan penjarahan yang telah berlangsung lama di Amerika Latin.
Ia juga menyoroti kegagalan upaya intensif AS–Israel untuk mengguncang Republik Islam Iran, seraya mencatat bahwa jaringan kriminal yang didukung asing runtuh sepenuhnya dan bahwa Iran tetap berada di bawah kendali kuat rakyatnya serta sistem Islamnya, di bawah kepemimpinan Ayatullah Sayyed Ali Khamenei.
Slogan Palsu dan Jalan ke Depan
Menutup pidatonya, al-Houthi memperingatkan bangsa-bangsa di kawasan agar tidak tertipu oleh slogan-slogan perdamaian dan stabilitas ala Amerika, betapapun agresifnya slogan-slogan tersebut dipromosikan oleh rezim-rezim sekutu.
Ia menegaskan bahwa jalan ke depan yang sejati bagi umat terletak pada iman, kesadaran, kemandirian, dan perlawanan—bukan pada ketergantungan kepada Amerika Serikat atau mitra-mitranya.
Menurut Pemimpin Yaman tersebut, apa yang disebut sebagai Dewan Perdamaian Trump bukanlah solusi bagi krisis kawasan, melainkan kelanjutan dominasi imperialis dengan nama baru—sebuah proyek yang dengan tegas ditolak oleh Yaman, Iran, dan kekuatan-kekuatan perlawanan. (FG)


