Pemimpin Yaman Tegaskan Dukungan Penuh untuk Iran: “Tangan Kami di Atas Pelatuk”
Sayyed Abdul-Malik al-Houthi menegaskan dukungan penuh Yaman terhadap Iran, seraya memperingatkan bahwa eskalasi militer tetap siap dilakukan jika perkembangan situasi menuntutnya.
Yaman, FAKTAGLOBAL.COM — Sayyed Abdul-Malik al-Houthi kembali menegaskan dukungan penuh dan tak tergoyahkan Yaman terhadap Republik Islam Iran dan rakyat Iran, serta menyatakan bahwa Yaman tetap siap melakukan eskalasi militer apabila perkembangan di lapangan menuntutnya.
Dalam kuliah Ramadhan ke-16 yang disampaikan bertepatan dengan peringatan Perang Besar Badar serta di tengah fase terbaru agresi Amerika–Israel terhadap Iran, pemimpin Ansarullah itu menyatakan bahwa Yaman berdiri teguh di sisi Iran dalam apa yang ia sebut sebagai konfrontasi menentukan antara kebenaran dan kebatilan, antara Islam dan kekufuran, serta antara pihak tertindas dan para agresor.
Ia menegaskan bahwa pertempuran tersebut bukanlah konflik sempit yang terbatas pada satu negara, melainkan perang yang menargetkan seluruh umat Islam melalui agresi terhadap salah satu pilar utamanya.
“Tangan Kami di Atas Pelatuk”
Dalam salah satu pernyataan paling tegas dalam pidatonya, Sayyed al-Houthi menyatakan:
“Kami menegaskan keberpihakan kami kepada Republik Islam Iran dan rakyat Iran yang Muslim, dan kami bergerak di berbagai bidang, sementara tangan kami berada di atas pelatuk terkait eskalasi militer dan aksi militer kapan pun perkembangan menuntutnya. Kami menganggap pertempuran ini sebagai pertempuran seluruh umat.”
Pernyataan tersebut merupakan peringatan yang jelas bahwa posisi Yaman bukan sekadar simbolis, retoris, atau hanya bersifat politik, melainkan terkait dengan kesiapan nyata untuk bertindak apabila Washington dan Tel Aviv meningkatkan eskalasi.
Pernyataan Sayyed al-Houthi juga menegaskan bahwa konflik ini bukanlah sesuatu yang dapat diabaikan oleh bangsa-bangsa merdeka di kawasan, terutama ketika Amerika Serikat dan rezim Zionis berupaya memaksakan apa yang ia gambarkan sebagai persamaan penindasan dan dominasi terbuka atas kawasan.
Iran di Garis Depan Pertahanan Umat
Pemimpin Ansarullah itu mengatakan bahwa Republik Islam Iran, rakyatnya, institusi-institusi resminya, serta Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) kini berada di garis depan konfrontasi regional yang lebih luas melawan proyek Amerika dan Israel.
Ia memuji sikap resmi dan sikap rakyat Iran sebagai “sangat kuat,” seraya menekankan peran IRGC dan tentara Iran dalam melaksanakan operasi-operasi efektif di jalan jihad.
Menurut Sayyed al-Houthi, serangan-serangan Iran telah memberikan pukulan serius kepada musuh, termasuk serangan berat terhadap pangkalan-pangkalan Amerika dan serangan efektif terhadap target-target Israel.
Ia mengatakan bahwa Amerika Serikat kini berada dalam keadaan ketakutan dan kebingungan, dengan menggambarkan bagaimana pasukan Amerika melarikan diri dari pangkalan militer ke hotel-hotel, sementara sebagian lainnya mulai meninggalkan kawasan sepenuhnya.
Penghormatan untuk Hizbullah dan Perlawanan Irak
Sayyed Al-Houthi juga memuji peran Hizbullah dan kelompok-kelompok perlawanan Irak, dengan mengatakan bahwa keduanya telah mengejutkan musuh melalui skala dan efektivitas operasi mereka.
Ia menyatakan bahwa Hizbullah telah mengejutkan para musuhnya yang sebelumnya mengira kelompok tersebut telah dilumpuhkan hingga “titik nol,” namun justru terbukti mampu melaksanakan operasi dengan kekuatan dan efektivitas tinggi.
Ia juga memuji perlawanan Irak yang terus melakukan operasi secara berkelanjutan siang dan malam, seraya menyatakan bahwa tindakan mereka sepenuhnya sah dalam menghadapi agresi.
Menurutnya, Iran, Hizbullah, kelompok perlawanan Irak, dan Yaman bersama-sama membentuk barisan rakyat merdeka umat Islam yang berhadapan langsung dengan blok agresi Amerika–Zionis.
Pertempuran antara Islam dan Kekuatan Arogansi
Salah satu tema utama dalam pidato al-Houthi adalah bahwa perang melawan Iran harus dipahami sebagai perang terhadap Islam dan umat Islam secara lebih luas, bukan sekadar perselisihan antara negara-negara.
Ia menolak upaya sebagian pihak yang ia sebut sebagai kaum munafik dan mereka yang “di dalam hatinya terdapat penyakit” yang mencoba menggambarkan konfrontasi ini sebagai konflik kekuasaan lokal yang tidak berkaitan dengan umat Islam.
Sebaliknya, ia menegaskan bahwa kenyataannya sangat jelas: Amerika Serikat dan Israel memulai agresi yang licik dan kriminal terhadap sebuah bangsa Muslim dan negara sentral dalam dunia Islam.
Ia menggambarkan konfrontasi tersebut sebagai pertarungan antara Islam dan kekufuran, antara kebenaran dan kebatilan, serta antara agresor dan pihak yang tertindas, seraya menyatakan bahwa sikap yang benar harus ditentukan berdasarkan kerangka tersebut.
Pangkalan Amerika Disebut sebagai Beban, Bukan Perlindungan
Dalam pesan politik penting yang ditujukan kepada pemerintah-pemerintah Arab, al-Houthi mengatakan bahwa perkembangan terbaru telah mengungkap peran sebenarnya pangkalan militer Amerika di negara-negara Arab.
Ia menyatakan bahwa pangkalan-pangkalan tersebut tidak ada untuk melindungi negara tuan rumah, melainkan untuk melindungi musuh Israel dan memfasilitasi agresi terhadap bangsa-bangsa di kawasan.
Menurutnya, beberapa rezim Arab sebelumnya membayangkan bahwa keberadaan pangkalan Amerika menjamin keamanan dan kelangsungan kekuasaan mereka.
Namun perang saat ini justru menunjukkan hal sebaliknya: Washington kini mengharapkan rezim-rezim tersebut untuk melindungi pangkalan Amerika, mempertahankannya, bahkan melindungi Israel dari rudal dan drone.
Ia berpendapat bahwa pangkalan Amerika kini telah menjadi beban berat secara politik, militer, finansial, dan strategis, serta menyeret negara-negara tuan rumah ke dalam bahaya besar demi kepentingan Amerika dan Israel.
Seruan Mobilisasi Besar di Yaman
Al-Houthi menutup pidatonya dengan menyerukan kepada rakyat Yaman untuk turun ke jalan dalam demonstrasi besar pada hari Jumat, baik untuk memperingati Perang Badar maupun untuk menegaskan posisi teguh mereka dalam mendukung Iran, Palestina, dan rakyat merdeka umat Islam.
Ia mengatakan bahwa mobilisasi tersebut harus mengirimkan pesan jelas tentang kesiapan, komitmen, dan penolakan untuk mundur di hadapan agresi Amerika–Israel.
Bagi al-Houthi, peringatan Badar bukan sekadar kenangan sejarah, tetapi pelajaran hidup tentang bagaimana sebuah bangsa yang beriman harus menghadapi para tiran, bertawakal kepada Allah, dan tetap teguh dalam menghadapi momen-momen penentu. (FG)


