Penembakan ICE Picu Kecaman, Mark Ruffalo: Trump ‘Manusia Terburuk’
Dia memberi tahu dunia bahwa hukum internasional tidak berarti apa-apa baginya. Satu-satunya hal yang penting baginya adalah moralitas versinya sendiri, padahal orang ini adalah penjahat pemerkosa.
Amerika Serikat | FAKTAGLOBAL.COM — Kemarahan dan kecaman meledak di karpet merah Golden Globe Awards ketika para tokoh Hollywood secara terbuka mengecam Presiden Donald Trump dan otoritas imigrasi AS menyusul penembakan fatal terhadap warga sipil Amerika oleh agen ICE.
Para aktor dan komedian, termasuk Mark Ruffalo dan Wanda Sykes, memanfaatkan sorotan global untuk memprotes apa yang mereka gambarkan sebagai pemerintah federal yang membangkang, beroperasi dengan impunitas, melanggar hukum, dan melakukan kebrutalan terhadap rakyatnya sendiri.
Protes Karpet Merah atas Pembunuhan oleh ICE
Pada ajang Golden Globe Awards tanggal 11 Januari di Los Angeles, sejumlah selebritas hadir mengenakan pin hitam-putih bertuliskan “BE GOOD” dan “ICE OUT.” Aksi protes ini merupakan respons langsung atas pembunuhan Renee Nicole Good, yang ditembak mati oleh petugas Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) Jonathan Ross di Minneapolis pada 7 Januari.
Korban lainnya, Keith Porter, adalah warga Los Angeles yang juga tewas ditembak oleh agen ICE yang sedang tidak bertugas pada malam Tahun Baru.
Pembunuhan-pembunuhan ini memicu kemarahan nasional dan meningkatkan sorotan terhadap taktik penegakan hukum ICE yang semakin agresif.
Mark Ruffalo: “Trump adalah Manusia Terburuk”
Berbicara kepada USA TODAY di karpet merah, Mark Ruffalo secara tegas mengecam Presiden Trump dan sistem politik AS yang lebih luas yang melindungi agen federal dari pertanggungjawaban hukum.
“Ini untuk Renee Nicole Good, yang dibunuh,” kata Ruffalo, sebelum melancarkan serangan keras terhadap Trump.
“Kita sedang berada di tengah perang dengan Venezuela yang kami invasi secara ilegal. Dia memberi tahu dunia bahwa hukum internasional tidak berarti apa-apa baginya. Satu-satunya hal yang penting baginya adalah moralitas versinya sendiri — padahal orang ini adalah seorang penjahat terpidana; pemerkosa terpidana.”
Ruffalo melanjutkan dengan menyatakan bahwa Trump secara moral tidak layak memimpin:
“Dia seorang pedofil. Dia adalah manusia terburuk. Jika kita menggantungkan moralitas negara paling berkuasa di dunia kepada orang seperti ini, maka kita semua berada dalam masalah besar.”
Ia menutup pernyataannya dengan menggambarkan ketakutan yang meluas di dalam Amerika Serikat:
“Ini untuk orang-orang di Amerika Serikat yang hari ini diteror dan hidup dalam ketakutan. Saya tahu saya salah satunya. Apa yang terjadi di sini bukanlah Amerika.”
Wanda Sykes: “Hentikan Pemerintahan Sewenang-wenang Ini”
Komedian Wanda Sykes menyuarakan nada yang sama dalam wawancara dengan Variety, menyerukan perlawanan langsung terhadap pemerintah federal.
“Kita perlu bersuara dan menghentikan pemerintahan sewenang-wenang ini,” kata Sykes.
“Sungguh mengerikan apa yang mereka lakukan terhadap orang-orang.”
Protes Nasional saat ACLU Meluncurkan ‘ICE Out For Good’
Aksi protes di karpet merah ini menyusul lebih dari 1.000 aksi demonstrasi di seluruh Amerika Serikat sebagai bagian dari kampanye ICE Out For Good yang diselenggarakan oleh American Civil Liberties Union (ACLU).
Dalam sebuah pernyataan, ACLU menyebutkan:
“Protes damai dan doa bersama memulai ICE Out For Good Weekend of Action untuk menghormati nyawa-nyawa yang hilang di tangan ICE, menuntut pertanggungjawaban, dan menampakkan biaya kemanusiaan dari tindakan pemerintahan ini.”
Gerakan tersebut menyerukan kepada rakyat Amerika untuk menolak teror negara dan intimidasi massal yang dilakukan atas nama penegakan hukum imigrasi.
Kekerasan Federal Picu Gelombang Protes
Pembunuhan Renee Nicole Good memicu gelombang protes luas di Minneapolis, di mana para pemimpin lokal secara terbuka menolak klaim federal bahwa penembakan tersebut dibenarkan. Para pejabat menyebut narasi Washington sebagai “propaganda” dan “omong kosong.”
FBI telah membuka penyelidikan, sementara sebuah lembaga negara bagian menarik diri dari proses tersebut dengan alasan adanya intervensi politik dan keterbatasan akses terhadap bukti penting.
Meski kritik terus meningkat, pemerintahan Trump justru menggandakan sikapnya.
Washington Membela ICE, Menolak Pertanggungjawaban
Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) menolak berbagai gugatan hukum yang menantang operasi ICE. Juru bicara DHS Tricia McLaughlin menyebut gugatan-gugatan tersebut “tidak berdasar,” dan menegaskan bahwa penegakan hukum imigrasi merupakan kewenangan federal.
Otoritas federal juga membenarkan pengerahan agen Patroli Perbatasan di Minnesota, dengan dalih adanya dugaan penipuan dalam program layanan sosial negara bagian — klaim yang ditolak keras oleh para pemimpin lokal dan kelompok hak sipil.
Pola Represi Federal yang Lebih Luas
Insiden di Minnesota dan Illinois merupakan bagian dari pola yang lebih luas di bawah pemerintahan Trump, yang ditandai dengan pengerahan federal secara agresif, perluasan penggunaan kekuatan, dan pengikisan perlindungan sipil.
Operasi serupa juga dilaporkan terjadi di Los Angeles, New Orleans, dan Portland, yang mayoritas merupakan wilayah berhaluan Demokrat. Para pengkritik menilai tindakan-tindakan ini mencerminkan strategi yang disengaja untuk mempersenjatai penegakan hukum imigrasi, menekan perbedaan pendapat, dan menormalisasi kekerasan negara — mencerminkan rekam jejak panjang Washington dalam melakukan represi di luar negeri, dari Amerika Latin hingga Asia Barat.
Seiring meningkatnya kemarahan publik, pesan dari jalanan hingga Hollywood semakin jelas: mesin kekuasaan Amerika Serikat kini berbalik ke dalam negeri. (PW)


