Penjualan Minyak Iran Capai Rekor Tertinggi Meski Ditekan Barat
Menteri minyak menegaskan muatan ekspor mencapai level tertinggi sepanjang sejarah dalam 14 bulan terakhir, menepis sanksi AS dan upaya destabilisasi asing
Iran | FAKTAGLOBAL.COM — Ekspor minyak Iran telah mencapai tingkat tertinggi sepanjang sejarah selama 14 bulan terakhir, memberikan pukulan besar terhadap sanksi yang dipimpin Amerika Serikat serta upaya Barat untuk mencekik sektor energi negara tersebut, kata Menteri Perminyakan Iran Mohsen Paknejad pada Rabu.
Berbicara kepada wartawan di sela-sela sidang kabinet, Paknejad mengatakan bahwa volume penjualan minyak melalui pengapalan ekspor dalam periode tersebut melampaui seluruh rekor sebelumnya, menegaskan kegagalan perang ekonomi Amerika terhadap Iran.
Ekspor Minyak Rekor Menantang Sanksi
Paknejad menegaskan bahwa penjualan minyak Iran terus berlangsung tanpa hambatan, dengan volume muatan ekspor mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya selama 14 bulan terakhir.
Ia menekankan bahwa rincian mekanisme penjualan minyak Iran sengaja tidak dipublikasikan di media demi melindungi kepentingan nasional dari aktor asing yang bermusuhan.
“Ada telinga-telinga di luar negeri ini yang berupaya merugikan kepentingan bangsa Iran,” kata menteri tersebut, seraya menambahkan bahwa mempublikasikan detail operasional akan memungkinkan pihak-pihak musuh mengidentifikasi dan menargetkan keunggulan kompetitif Iran.
Paknejad menyatakan harapannya bahwa suatu hari nanti masyarakat dapat sepenuhnya memahami bagaimana tim penjualan profesional Iran bekerja dengan kecermatan dan kebijaksanaan strategis, sehingga pendapatan minyak terus mengalir meski di bawah sanksi.
Sanksi AS, Tarif, dan Ancaman ‘Snapback’ Gagal
Menanggapi ancaman terbaru Barat—termasuk skema tarif baru, eskalasi sanksi, serta kembali mencuatnya wacana mekanisme “snapback”—Paknejad menepisnya sebagai tidak efektif dan tidak berarti.
“Langkah-langkah ini tidak menciptakan hambatan serius apa pun terhadap proses penjualan minyak kami,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa tim penjualan minyak Iran sangat berpengalaman dan teruji, telah menghadapi sanksi selama bertahun-tahun, serta berhasil mengembangkan cara-cara untuk melawan dan menetralkan pembatasan yang diberlakukan Amerika Serikat dan sekutunya.
Pernyataan sang menteri kembali menegaskan bahwa rezim sanksi Washington gagal mencapai tujuan yang diklaimnya, sementara Iran terus mengamankan jalur ekonominya melalui ketahanan dan adaptasi strategis.
Menteri Kecam Sabotase dan Kerusuhan yang Didukung Asing
Paknejad juga menanggapi upaya kelompok anti-Iran di luar negeri yang berusaha menghasut pemogokan dan kerusuhan di kalangan pekerja industri minyak, dengan tegas menolak klaim adanya pembangkangan buruh secara luas.
“Rekan-rekan kami di seluruh sektor industri minyak berdiri bersama sistem,” ujarnya, seraya mengakui bahwa sebagian warga memiliki persoalan ekonomi yang sah dan sedang ditangani oleh pemerintah.
Ia membedakan secara tegas antara aspirasi sosial yang nyata dan kekerasan terorganisir, dengan menyatakan bahwa insiden terbaru bukanlah aksi protes, melainkan tindakan sabotase.
“Rakyat tidak menghancurkan milik mereka sendiri, dan mereka tidak membunuh diri mereka sendiri,” kata Paknejad. “Mereka yang melakukan tindakan ini atas nama protes bukanlah bagian dari rakyat. Aksi-aksi ini terkait dengan proyek-proyek yang akarnya berada di luar negeri.”
Ia mengonfirmasi bahwa kerusakan terhadap sektor minyak terbatas, dengan hanya sejumlah kecil pekerja yang terluka ketika perusuh secara paksa memasuki beberapa gedung industri minyak.
Rekor penjualan minyak Iran menjadi kekalahan strategis bagi kampanye tekanan Amerika Serikat dan Israel, sekaligus menegaskan posisi Teheran bahwa perlawanan ekonomi dan kedaulatan nasional tidak dapat dihancurkan melalui sanksi, sabotase, atau destabilisasi yang didukung pihak asing. (FG)


