Pentagon Dilanda Kekacauan Pasca Pemecatan Besar-Besaran oleh Hegseth
Pentagon terjerumus dalam kekacauan setelah gelombang pemecatan besar-besaran, sementara para perwira senior memperingatkan melemahnya struktur komando dan meningkatnya risiko dalam konfrontasi
Amerika Serikat, FAKTAGLOBAL.COM — Laporan dari The Guardian mengungkap gejolak internal yang semakin dalam di dalam Departemen Pertahanan AS, di mana gelombang pemecatan dan pembersihan bermotif politik di bawah Menteri Pertahanan Pete Hegseth telah mendorong Pentagon ke dalam kondisi yang oleh para sumber internal disebut sebagai “kekacauan total.”
Laporan tersebut menyoroti meningkatnya kekhawatiran di kalangan pejabat militer, yang memperingatkan bahwa pemecatan para komandan berpengalaman serta konsolidasi kekuasaan di tangan loyalis telah merusak kohesi dan integritas operasional angkatan bersenjata AS.
Banyak perwira memandang pembersihan yang sedang berlangsung bukan sebagai restrukturisasi rutin, melainkan sebagai ancaman langsung terhadap stabilitas struktur komando militer, yang memunculkan kekhawatiran bahwa keputusan-keputusan penting kini semakin dipengaruhi oleh pertimbangan politik dan ideologis, bukan standar profesional militer.
Pembersihan Mengubah Kepemimpinan Militer
Menurut laporan tersebut, sejak kembalinya Donald Trump ke kekuasaan pada awal 2025, Hegseth telah memberhentikan setidaknya 24 pemimpin militer senior, termasuk jenderal-jenderal utama dan para komandan, sering kali tanpa memberikan alasan yang jelas.
Di antara pemecatan paling menonjol adalah Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Randy George serta pimpinan senior angkatan laut, sebagai bagian dari gelombang pensiun paksa yang lebih luas yang menargetkan jajaran tertinggi militer.
Laporan itu mencatat bahwa sebagian besar dari mereka yang diberhentikan—diperkirakan sekitar 60 persen—adalah perwira kulit hitam atau perempuan, memicu tuduhan bahwa pembersihan ini merupakan bagian dari upaya sistematis untuk menghapus kebijakan keberagaman dan kesetaraan dalam angkatan bersenjata.
Loyalis Menggantikan Komandan Berpengalaman
Laporan The Guardian memperingatkan bahwa banyak dari mereka yang disingkirkan merupakan perwira dengan pengalaman tinggi, yang kemudian digantikan oleh figur yang dianggap lebih selaras secara politik daripada memiliki kualifikasi profesional yang kuat.
Para analis militer memperingatkan bahwa restrukturisasi ini melemahkan mekanisme pengamanan internal dalam angkatan bersenjata—mekanisme yang dirancang untuk mencegah keputusan yang ceroboh atau eskalatif di saat krisis.
Risiko Meningkat dalam Konfrontasi dengan Iran
Laporan tersebut menekankan bahwa pelemahan internal ini memiliki implikasi serius di luar Washington, khususnya dalam konteks konfrontasi berisiko tinggi yang melibatkan Iran.
Para analis memperingatkan bahwa struktur komando yang terpecah serta tersingkirnya perwira berpengalaman meningkatkan risiko salah perhitungan dalam setiap potensi konflik, di mana disiplin, koordinasi, dan penilaian profesional sangat krusial.
Erosi keseimbangan institusional ini, menurut mereka, meningkatkan kemungkinan bahwa keputusan di medan sensitif akan didorong oleh motif politik, bukan kebutuhan strategis.
“Project 2025” dan Kontrol Politik atas Militer
Laporan tersebut mengaitkan pembersihan ini dengan agenda politik yang lebih luas yang dikenal sebagai “Project 2025,” yang menyerukan penghapusan perwira yang dianggap “sadar” serta pembentukan militer yang lebih selaras langsung dengan otoritas presiden.
Para ahli memperingatkan bahwa upaya semacam ini berisiko mengubah militer menjadi institusi yang dipolitisasi, di mana loyalitas lebih diutamakan daripada kompetensi, dan penilaian profesional yang berbeda disingkirkan.
Pentagon Hadapi Keruntuhan Struktural
The Guardian mencatat meningkatnya kekhawatiran di kalangan internal bahwa kondisi di Pentagon memburuk menuju ketidakstabilan, dengan perbandingan yang ditarik pada pembersihan historis yang melemahkan struktur komando.
Purnawirawan Jenderal Angkatan Darat AS Paul Eaton memperingatkan bahwa “kepemimpinan senior Angkatan Darat AS telah mengalami kerusakan serius,” serta menegaskan bahwa suasana ketakutan dan keheningan di kalangan komandan dapat melemahkan efektivitas operasional.
Para mantan pejabat juga menekankan bahwa meskipun ketegangan antara kepemimpinan politik dan militer pernah terjadi di masa lalu, sebelumnya hal itu masih dikelola dalam kerangka yang terstruktur dan profesional.
Namun kini, situasinya digambarkan secara tegas: runtuhnya keteraturan, struktur komando yang dipolitisasi, serta militer yang semakin dibentuk oleh loyalitas daripada kompetensi. (FG)



