Perang Minyak Trump Jadi Bumerang: Venezuela Tetap Bertahan, AS Banjir Hujatan
Setelah serangan udara AS dan penculikan Presiden Maduro, Caracas menunjukkan negara tetap kokoh sementara perang bermotif minyak Washington mulai berbalik merugikan.
Venezuela | FAKTAGLOBAL.COM — Terlepas dari klaim “kemenangan segera” oleh Presiden AS Donald Trump, dampak operasi militer Washington terhadap Venezuela justru menunjukkan realitas yang sangat berbeda di lapangan. Serangan udara ke Caracas dan pemindahan paksa Presiden Nicolás Maduro tidak mematahkan negara Venezuela maupun meredam perlawanan publik.
Berbicara dari Caracas dalam wawancara langsung dengan jurnalis AS Danny Haiphong, reporter Venezuela Diego Sequera menggambarkan sebuah negara yang berada di bawah tekanan namun jauh dari kolaps.
Menurut Sequera, operasi yang secara luas dikecam sebagai ilegal itu justru mengonsolidasikan tekad nasional dan menyingkap intervensi Washington sebagai tindakan ceroboh, sepihak, dan pada dasarnya didorong oleh minyak.
“Mereka Mengambil Seorang Presiden, Bukan Sebuah Negara”
Sequera melaporkan bahwa meski serangan AS menyebabkan korban jiwa dan kerusakan signifikan, institusi-institusi Venezuela tetap beroperasi. Wakil Presiden Eksekutif Delcy Rodríguez dilantik sesuai prosedur konstitusional untuk memastikan kesinambungan pemerintahan, secara langsung membantah narasi media Barat tentang adanya “kekosongan kekuasaan.”
“Negara tetap berfungsi. Jalanan tenang namun waspada,” kata Sequera, menggambarkan apa yang ia sebut sebagai suasana kewaspadaan terorganisir, bukan kepanikan. Ia menekankan bahwa klaim media AS dan sekutunya yang menggambarkan Venezuela tanpa pemimpin atau telah kalah tidak sejalan dengan realitas di lapangan.
Perang Minyak Berkedok “Keamanan”
Menurut Sequera, intervensi ini tidak dapat dipahami di luar konteks sumber daya energi Venezuela yang sangat besar. Dengan cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, negara ini sejak lama menjadi target tekanan AS melalui sanksi, destabilisasi politik, dan kini kekuatan militer langsung.
Pernyataan publik Trump—yang menyebut Washington akan mengawasi sebuah “transisi” politik—ditafsirkan di Caracas sebagai konfirmasi bahwa operasi ini bukan tentang penegakan hukum atau demokrasi, melainkan penguasaan aset nasional.
Sequera menyebut serangan tersebut sebagai “perang korporasi berseragam militer,” seraya memperingatkan bahwa rencana privatisasi sektor energi Venezuela sudah mulai dibicarakan di luar negeri.
Alarm Kawasan dan Poros Israel–AS
Pejabat Venezuela memperingatkan bahwa operasi ini menciptakan preseden internasional berbahaya dengan menormalisasi penculikan kepala negara yang sedang menjabat. Sequera mencatat meningkatnya kekhawatiran di seluruh Amerika Latin bahwa tindakan Washington menandai kembalinya intervensi terbuka.
Caracas juga menunjuk pada keselarasan ideologis antara elemen garis keras di Washington dan Tel Aviv, menuduh Amerika Serikat dan Israel mempromosikan tatanan global berbasis pemaksaan, pergantian rezim, dan penerapan hukum internasional secara selektif—terutama terhadap negara-negara yang menolak dominasi geopolitik Barat.
Perlawanan, Bukan Penyerahan
Alih-alih mundur, Sequera mengatakan masyarakat Venezuela justru bermobilisasi melalui koordinasi sipil-militer, organisasi komunitas, dan demonstrasi publik yang menolak kendali asing. Gambar Presiden Maduro dalam penahanan, tambahnya, justru memperkuat—bukan melemahkan—tekad rakyat.
“Pesan dari jalanan jelas,” kata Sequera. “Anda bisa menahan seorang pemimpin, tetapi Anda tidak bisa menduduki sebuah rakyat.”
Saat Washington terus memproyeksikan kepercayaan diri, perkembangan di dalam Venezuela menunjukkan bahwa perang minyak Trump gagal mencapai tujuan utamanya: penundukan. Sebaliknya, ia memperkuat perlawanan, menajamkan sorotan kawasan, dan semakin menelanjangi fondasi agresif kebijakan AS terhadap negara-negara berdaulat yang menolak untuk tunduk. (FG)


