Perang Trump di Venezuela: Agresi Ngawur dan Terbuka Demi Minyak
Agresi ke Caracas menyingkap intervensi cacat hukum yang didorong kepentingan minyak—mengorbankan hukum internasional, stabilitas kawasan, dan kedaulatan Venezuela demi keuntungan korporasi.
Venezuela | FAKTAGLOBAL.COM — Serangan militer terbaru Amerika Serikat terhadap Venezuela di bawah Presiden Donald Trump menelanjangi sebuah perang pilihan yang nekat dan terang-terangan, didorong bukan oleh keamanan atau demokrasi, melainkan oleh tekad Washington untuk menguasai kekayaan minyak Venezuela yang sangat besar.
Pasukan AS melancarkan serangan bom ke Caracas, disusul penculikan presiden konstitusional negara tersebut—tindakan yang dikecam Caracas sebagai pelanggaran mencolok terhadap kedaulatan dan hukum internasional.
Trump secara terbuka mengonfirmasi operasi tersebut, dengan gamblang menyatakan bahwa Amerika Serikat akan “mengelola” Venezuela hingga apa yang disebut sebagai transisi dipaksakan.
Sebuah analisis oleh media AS The Daily Beast mencatat bahwa Trump secara terbuka membingkai serangan ini sebagai upaya merebut kembali aset minyak dan menyerahkannya kepada korporasi Amerika, menyingkap operasi tersebut sebagai intervensi berbasis minyak, bukan kebutuhan keamanan.
Perang Pilihan yang Ceroboh, Dibangun di Atas Kebohongan dan Kekuatan Sepihak
Seperti perang-perang intervensi AS sebelumnya, serangan terhadap Venezuela dibenarkan melalui klaim yang dilebih-lebihkan dan menguntungkan secara politik, termasuk tuduhan perdagangan narkoba dan jaringan kriminal yang dikaitkan dengan kepemimpinan Venezuela.
Para pengkritik mencatat bahwa tuduhan ini mencerminkan narasi AS di masa lalu yang digunakan untuk menjual perang di Irak dan tempat lain—klaim yang kemudian terbukti sebagai rekayasa atau distorsi besar. Kali ini, Washington bahkan menanggalkan kepura-puraan persetujuan multilateral, mengabaikan Kongres dan menafikan hukum internasional sepenuhnya.
Kenekatan operasi ini diperparah oleh ketiadaan rencana pascaperang yang koheren, sementara Trump melontarkan ancaman terhadap negara-negara tetangga dan memberi sinyal kesediaan mengguncang seluruh kawasan demi dominasi AS.
Minyak sebagai Inti: Kepentingan Korporasi di Balik Serangan
Motif sejati perang ini dinyatakan secara terbuka. Trump membingkai serangan sebagai peluang merebut aset minyak Venezuela dan menyerahkannya kepada korporasi AS, menanggalkan sisa selubung kepedulian kemanusiaan apa pun.
Intervensi ini menguatkan tudingan lama bahwa kebijakan luar negeri AS dibentuk oleh kepentingan korporasi dan bahan bakar fosil, bukan oleh norma internasional atau prinsip demokrasi. Pernyataan Trump sendiri menyisakan sedikit ambiguitas bahwa penguasaan cadangan minyak Venezuela yang besar berada di jantung strategi Washington.
Bagi Venezuela, konsekuensinya sangat mendalam. Normalisasi penculikan pemimpin, pendudukan asing, dan perampasan sumber daya merupakan ancaman eksistensial terhadap kedaulatan—bukan hanya bagi Venezuela, tetapi bagi Amerika Latin secara keseluruhan.
Dari Irak hingga Libya, sejarah menunjukkan bahwa perang demi minyak melahirkan kehancuran, bukan demokrasi. Venezuela kini berdiri sebagai target terbaru dari strategi AS yang ceroboh—yang memperlakukan hukum internasional sebagai barang sekali pakai dan negara-negara berdaulat sebagai aset yang dapat dirampas. (FG)


