Peringatan Keras Larijani ke Trump: Waspadalah, Jangan Sampai Justru Anda yang Lenyap!
Kepala keamanan Iran Ali Larijani memperingatkan Trump setelah ancaman terkait Selat Hormuz, menegaskan bahwa bangsa Iran tidak akan tunduk pada intimidasi Amerika.
Iran, FAKTAGLOBAL.COM – Pejabat keamanan senior Iran, Ali Larijani, menyampaikan respons keras terhadap Presiden AS Donald Trump setelah Washington mengancam akan melakukan pembalasan besar-besaran terhadap Iran terkait situasi di Selat Hormuz.
Trump menyampaikan ancaman tersebut dalam sebuah unggahan di Truth Social pada Senin malam, dengan menyatakan bahwa Amerika Serikat akan menyerang Iran “dua puluh kali lebih keras” jika Teheran terus menutup jalur maritim strategis tersebut.
Presiden AS itu mengklaim bahwa serangan Amerika dapat menargetkan infrastruktur dengan cara yang akan membuat “hampir mustahil bagi Iran untuk dapat dibangun kembali sebagai sebuah negara.”
“Kematian, Api, dan Amarah akan menghujani mereka – tetapi saya berharap dan berdoa agar itu tidak terjadi!” tulis Trump, sambil juga mengklaim bahwa gangguan berkepanjangan terhadap jalur laut tersebut akan menguntungkan China dan negara-negara lain yang bergantung pada jalur energi itu.
Larijani: Bangsa Iran Tidak Takut pada Ancaman Kosong
Ali Larijani, kepala Dewan Keamanan Nasional Iran, merespons dengan tegas melalui platform media sosial X dalam beberapa bahasa.
Dalam pesannya, Larijani menekankan bahwa rakyat Iran memperoleh kekuatan dari warisan sejarah dan spiritual mereka dan tidak gentar menghadapi ancaman dari Washington.
“Rakyat Iran yang mencintai Asyura tidak takut pada ancaman kosongmu; kekuatan yang jauh lebih besar darimu telah gagal memusnahkan mereka,” tulis Larijani.
“Maka waspadalah, jangan sampai justru kamu yang akan lenyap.”
Ia kemudian menambahkan pesan kedua yang menekankan signifikansi geopolitik Selat Hormuz.
“Selat Hormuz akan menjadi selat perdamaian dan kemakmuran bagi semua, atau akan menjadi selat kekalahan dan penderitaan bagi para penghasut perang.”
Larijani mempublikasikan pernyataan tersebut dalam bahasa Persia, Inggris, Rusia, Arab, Prancis, dan China, menegaskan pesan Iran kepada audiens global.
Selat Hormuz: Titik Cekik Energi Paling Penting di Dunia
Selat Hormuz merupakan koridor maritim sempit yang memisahkan Iran dari Semenanjung Musandam di Oman, dengan lebar sekitar 33 kilometer pada titik tersempitnya.
Meskipun lebarnya terbatas, jalur ini secara luas diakui sebagai titik cekik minyak paling penting di dunia.
Sekitar 20 juta barel minyak melewati selat tersebut setiap hari, termasuk sekitar 14 juta barel minyak mentah dan 6 juta barel produk minyak olahan.
Selain itu, hampir sepertiga pengiriman gas alam cair (LNG) dunia juga melewati jalur laut ini.
Banyak ekonomi Asia sangat bergantung pada pengiriman energi yang melewati Selat Hormuz. Korea Selatan menerima sekitar 70 persen minyak mentahnya dari Asia Barat, Jepang mengimpor sekitar 90 persen, dan India sekitar 50 persen dari kawasan tersebut.
Pasar Global Bereaksi terhadap Gangguan di Hormuz
Ketegangan di sekitar jalur laut tersebut telah mulai berdampak pada pasar global.
Indeks keuangan Asia turun tajam pada Senin ketika kekhawatiran meningkat mengenai penutupan jalur strategis tersebut dan potensi gangguan terhadap rantai pasokan energi global.
Larijani menegaskan kembali bahwa Iran akan terus mempertahankan tekanan di koridor maritim tersebut jika Amerika Serikat dan Israel melanjutkan aksi militer mereka terhadap Republik Islam.
Iran: Keamanan di Hormuz Mustahil Selama AS dan Israel Memperluas Perang
Menanggapi laporan bahwa Prancis telah mengirim dua fregat ke Laut Merah dalam upaya membuka kembali jalur tersebut, Larijani memperingatkan bahwa pengerahan militer dari luar tidak akan memulihkan stabilitas.
“Sangat kecil kemungkinan keamanan dapat tercapai di Selat Hormuz di tengah api yang dinyalakan oleh Amerika Serikat dan Israel di kawasan ini,” katanya.
Ia menambahkan bahwa negara-negara yang kini mencoba melakukan intervensi tidak jauh dari pihak-pihak yang sebelumnya mendukung dan turut menyulut konflik tersebut.
Seiring ketegangan yang terus meningkat, kepemimpinan Iran menegaskan bahwa tekanan dan ancaman dari Washington tidak akan memaksa negara itu untuk mundur, dan bahwa keseimbangan strategis di Asia Barat kini sedang berubah dengan cepat. (FG)



