Peringatan Tegas Hizbullah ke AS: Ancaman terhadap Imam Khamenei adalah Ancaman bagi Kita Semua
Sheikh Naim Qassem menegaskan bahwa ancaman terhadap pemimpin Iran merupakan serangan terhadap otoritas keagamaan global dan memperingatkan bahwa perang AS–Israel melawan Iran akan membakar kawasan.
Lebanon | FAKTAGLOBAL.COM — Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sheikh Naim Qassem, menyampaikan pidato yang komprehensif dan tegas pada 26 Januari 2026, memperingatkan bahwa ancaman terhadap Imam Sayyed Ali Khamenei, Pemimpin Republik Islam Iran, merupakan ancaman langsung terhadap puluhan juta kaum beriman di seluruh dunia Islam dan berpotensi memicu konsekuensi regional yang tak terkendali.
Berbicara dalam sebuah pertemuan akbar di Kompleks Sayyid al-Shuhada yang digelar sebagai bentuk solidaritas terhadap Republik Islam Iran, Sheikh Qassem membingkai eskalasi konfrontasi saat ini sebagai bagian dari proyek kolonial jangka panjang AS–Israel yang bertujuan menghancurkan kemerdekaan, perlawanan, dan otoritas keagamaan di seluruh Asia Barat.
Wilayat al-Faqih: Kepemimpinan Keagamaan yang Melampaui Geografi
Inti dari pidato Sheikh Qassem adalah penegasan yang jelas mengenai pemahaman Hizbullah tentang Wilayat al-Faqih, yang ia tekankan bukanlah bentuk kepemimpinan nasional atau geografis, melainkan otoritas keagamaan, doktrinal, dan moral yang melampaui batas-batas negara.
Ia menolak klaim bahwa kesetiaan kepada Wali al-Faqih merupakan bentuk subordinasi politik asing, seraya menegaskan bahwa hal itu adalah komitmen intelektual dan berbasis iman yang dianut oleh kaum beriman di seluruh dunia Islam.
“Imam Khomeini adalah pemimpin-wali bagi seluruh kaum Muslimin di dunia—bagi mereka yang meyakini pendekatan, mazhab, dan keyakinan yang beliau bawa. Kepemimpinan ini tidak terbatas pada Iran atau pada wilayah geografis tertentu.”
Sheikh Qassem menjelaskan bahwa kepemimpinan ini tidak mencampuri kedaulatan nasional atau tata kelola lokal, melainkan memberikan arah etis dan legitimasi keagamaan—terutama dalam persoalan darah, pengorbanan, dan nasib kolektif umat.
“Ikatan kami dengan Wali al-Faqih bersifat intelektual, doktrinal, berbasis iman, kultural, edukatif, dan etis. Ia berkaitan dengan metodologi, bukan dengan pelaksanaan eksekutif rinci di dalam negara mana pun.”
Karena itu, ia menegaskan bahwa perlawanan bukanlah improvisasi atau luapan emosi, melainkan tanggung jawab yang diatur oleh otoritas keagamaan yang sah.
“Darah tidak boleh ditumpahkan secara sembarangan, dan perlawanan tidak dapat dijalankan tanpa izin syar’i, karena darah adalah amanah, dan wali-lah yang menentukan arah umum umat.”
Imam Khamenei sebagai Wali al-Faqih dan Poros Kepemimpinan Perlawanan
Sheikh Qassem menegaskan kembali bahwa setelah Imam Khomeini, Imam Khamenei adalah Wali al-Faqih yang sah, yang kepemimpinannya memberikan legitimasi keagamaan dan koherensi strategis bagi gerakan-gerakan perlawanan.
“Setelah Imam Khomeini, Wali al-Faqih adalah Imam Khamenei. Beliau adalah wali kami, pemimpin kami, dan sosok yang memberikan legitimasi sejati bagi sikap-sikap kami dalam menghadapi tantangan dan tanggung jawab keagamaan.”
Ia menjelaskan bahwa kedisiplinan Hizbullah, sikap nasionalnya, serta efektivitasnya berakar langsung dari hubungan ini.
“Tahukah kalian mengapa kami bertindak secara nasional, mengapa etika kami tinggi, dan mengapa perlawanan kami efektif serta mampu meraih hasil nyata? Semua itu berkat ikatan kami dengan Wali al-Faqih.”
Ancaman terhadap Imam Khamenei: Ancaman terhadap Jutaan Orang
Menanggapi secara langsung ancaman yang dilontarkan Presiden AS Donald Trump dan pejabat Amerika lainnya, Sheikh Qassem memperingatkan bahwa bahasa semacam itu merupakan eskalasi berbahaya yang tidak bisa diabaikan.
“Ketika Trump atau pihak lain mengancam pemimpin kami dengan pembunuhan, itu berarti mereka mengancam jutaan—bahkan puluhan juta—karena mereka mengancam pemimpin kami. Ini adalah sesuatu yang tidak bisa dibiarkan.”
Ia memperingatkan bahwa setiap upaya pembunuhan akan membawa dampak jauh melampaui Iran.
“Pembunuhan, na‘udzubillah, akan menjadi pembunuhan terhadap stabilitas kawasan dan dunia.”
Hizbullah, tegasnya, memandang ancaman ini sebagai ancaman langsung terhadap perlawanan itu sendiri.
“Kami menganggap ancaman ini juga diarahkan kepada kami, dan kami memiliki kewenangan penuh untuk melakukan apa pun yang kami anggap perlu guna menghadapi tantangan ini.”
Mengapa Iran Menjadi Sasaran: Kemerdekaan sebagai Dosa yang Tak Termaafkan
Sheikh Qassem menelusuri permusuhan AS terhadap Iran hingga ke fondasi berdirinya Republik Islam dan penolakannya terhadap poros-poros imperial.
“Republik Islam Iran lahir dengan model yang bebas dan merdeka, yang belum pernah dikenal dunia sebelumnya. Slogannya adalah ‘Tidak Timur dan Tidak Barat.’”
Ia menyebut kemenangan Revolusi Islam sebagai pukulan historis terhadap dominasi AS–Israel.
“Pukulan terbesar bagi Amerika dan Israel adalah kemenangan Revolusi Islam dan runtuhnya rezim Shah.”
Perang, Sanksi, dan Subversi Gagal Mematahkan Iran
Mengingatkan kembali perang delapan tahun yang dipaksakan terhadap Iran melalui Irak—dengan dukungan kekuatan Barat dan Timur—Sheikh Qassem menegaskan bahwa Iran menghadapi agresi tanpa preseden namun tetap bertahan.
“Jutaan syuhada dan korban luka dipersembahkan, namun Iran tetap berdiri tegak dan kokoh.”
Ia mencatat bahwa 47 tahun sanksi dan pengepungan ekonomi justru memperkuat kemandirian dan ketahanan Iran.
“Iran tetap menjadi obor bagi kaum merdeka dan terus maju secara ilmiah, sosial, kultural, dan moral.”
Destabilisasi Internal dan Narasi ‘HAM’ Barat
Ketika tekanan eksternal gagal, kata Sheikh Qassem, Washington dan sekutunya beralih ke upaya destabilisasi dari dalam.
“Mereka menyusupkan ke dalam demonstrasi yang sah orang-orang yang membunuh, membakar, dan merusak—yang membakar masjid dan membunuh warga di jalanan.”
Ia mengutip angka resmi sebanyak 3.117 orang tewas atau hilang, termasuk 590 orang yang diidentifikasi sebagai perusuh, sembari menuduh AS, Israel, dan negara-negara Barat mendukung kekerasan tersebut di bawah slogan-slogan kemanusiaan palsu.
Satu Proyek Kolonial: Iran, Lebanon, Gaza, Suriah
Sheikh Qassem memperingatkan bahwa Iran, Lebanon, Gaza, dan Suriah merupakan medan-medan dalam satu proyek kolonial AS–Israel yang sama, yang bertujuan menghancurkan perlawanan di seluruh kawasan.
“Amerika dan Israel mengaitkan Iran, Lebanon, Gaza, Suriah, dan seluruh kawasan dalam satu proyek kolonial.”
Ia mengungkapkan adanya upaya berulang untuk memaksa Hizbullah memberikan jaminan netralitas jika Iran diserang.
“Mereka bertanya langsung kepada kami: jika Amerika dan Israel berperang melawan Iran, apakah Hizbullah akan ikut campur atau tidak?”
Jawabannya tegas.
“Kami tidak netral. Kami menjadi sasaran potensi agresi, dan kami bertekad untuk membela diri.”
Martabat, Perlawanan, dan Keruntuhan Moral ‘Damai melalui Kekuatan’
Sheikh Qassem kemudian beralih dari analisis strategis ke penilaian moral, menantang langsung doktrin Barat yang membenarkan dominasi sebagai keamanan dan kekerasan sebagai stabilitas.
“Damai melalui kekuatan berarti tirani dan kolonialisme melalui kekerasan, karena damai sejati adalah ketiadaan agresi, bukan pembenarannya.”
Ia menunjuk Gaza sebagai bukti paling telanjang dari kebangkrutan moral narasi Barat dan Israel.
“Apa yang dilakukan Israel di Gaza adalah genosida, kebrutalan, dan kriminalitas, yang dilakukan dengan kemitraan Amerika dan Barat melalui dukungan dan pembiaran.”
Dengan merujuk pada teladan Imam Husain عليه السلام, ia menegaskan bahwa martabat bukanlah pilihan taktis, melainkan prinsip yang tak bisa ditawar.
“Kematian dengan martabat lebih baik daripada hidup dalam kehinaan. Hayhat minna al-dhilla.”
Peringatan Terakhir: Perang terhadap Iran Tidak Akan Terbatas
Di akhir pidatonya, Sheikh Qassem menyampaikan peringatan yang jelas dan tegas: perang langsung terhadap Iran tidak akan terbatas pada Iran, dan konsekuensinya tidak dapat dikendalikan oleh pihak yang memulainya.
“Perang melawan Iran ini dapat membakar seluruh kawasan.”
Ia menutup dengan pernyataan kesetiaan dan keteguhan sikap, menegaskan bahwa Iran berada di pusat komunitas yang disatukan oleh iman, perlawanan, dan takdir bersama.
“Kepada rakyat Iran: kalian adalah permata mahkota. Kami bersama kalian, dan kalian bersama kami.”
Dengan itu, Sheikh Qassem membingkai konfrontasi ini bukan sebagai krisis sesaat, melainkan momen penentu—di mana menyerah berarti kehilangan martabat, dan perlawanan tetap menjadi satu-satunya jalan yang sejalan dengan iman, sejarah, dan tanggung jawab moral. (FG)



