Perkembangan Perang: Kemarahan Global Meningkat, Sekutu AS Terpecah, Israel Kian Tertekan
Inggris menjauh di tengah kekhawatiran eskalasi, kemarahan global atas serangan sekolah di Minab meningkat, dan tekanan terhadap militer Israel semakin terlihat
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Seiring perang AS–Israel terhadap Iran mendekati satu bulan, perpecahan di antara sekutu Barat semakin terlihat jelas.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan bahwa Inggris tidak akan bergabung dalam perang tersebut, menolak tekanan dari Presiden AS Donald Trump untuk mengubah sikapnya. Meski dikemas sebagai keputusan berbasis prinsip, langkah ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran di London terhadap konsekuensi konfrontasi langsung dengan Iran serta meluasnya konflik.
Starmer menegaskan bahwa pemerintahnya akan bertindak berdasarkan kepentingan nasional, menandakan bahwa Inggris tidak bersedia terseret ke dalam perang dengan risiko dan biaya yang terus meningkat.
AS Tunjukkan Keterbatasan Strategis di Hormuz
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menghindari menjawab secara langsung pertanyaan terkait kemungkinan operasi militer untuk merebut kendali Selat Hormuz dari Iran.
Sebaliknya, ia mengakui bahwa pembukaan jalur strategis tersebut bergantung pada keputusan Iran, yang secara tidak langsung menegaskan pengaruh Teheran atas salah satu jalur energi paling vital di dunia.
Pernyataan ini menyoroti ketidakmampuan Washington untuk mengendalikan situasi, meskipun retorika eskalasi terus meningkat.
Kemarahan Global atas Pemboman Sekolah di Minab
Dalam sidang darurat Dewan HAM PBB, kekhawatiran internasional meningkat tajam atas pemboman sekolah dasar Shajareh Tayyebeh di Minab.
Komisioner Tinggi HAM PBB Volker Türk mendesak Amerika Serikat untuk segera menyelesaikan penyelidikan atas serangan tersebut dan mempublikasikan hasilnya, sekaligus menyerukan kepada Washington dan Israel untuk menghentikan serangan terhadap Iran.
Ia menggambarkan pemboman tersebut sebagai peristiwa yang sangat mengejutkan dan menegaskan bahwa hukum internasional menjamin perlindungan bagi warga sipil, khususnya anak-anak, sekolah, dan infrastruktur sipil.
Türk juga memperingatkan bahwa penggunaan kekuatan militer di tengah proses diplomasi merupakan kegagalan strategis dengan konsekuensi menghancurkan bagi warga sipil.
Gelombang Kecaman Internasional
Dalam forum yang sama, perwakilan dari berbagai negara mengecam keras serangan tersebut dan menyerukan penghentian serangan terhadap infrastruktur sipil.
Pejabat dari Uni Eropa, Meksiko, Afrika Selatan, Indonesia, Venezuela, dan negara lainnya menyebut pemboman sekolah di Minab sebagai pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia dan hukum internasional.
Sejumlah delegasi menekankan bahwa sekolah harus tetap menjadi ruang aman bagi anak-anak, sementara lainnya memperingatkan bahwa eskalasi yang berlanjut akan semakin mengguncang stabilitas kawasan.
Perwakilan Rusia secara langsung mengaitkan eskalasi yang terjadi dengan agresi AS terhadap Iran, memperkuat narasi global mengenai akar konflik tersebut.
Pemimpin Israel Akui Kekurangan Pasukan
Di dalam rezim Israel, tanda-tanda tekanan semakin terlihat.
Mantan Perdana Menteri Naftali Bennett mengakui bahwa Israel menghadapi kekurangan sekitar 20.000 tentara, yang mencerminkan meningkatnya tekanan terhadap kemampuan militernya.
Ia mengkritik kepemimpinan politik yang dinilai lebih mengutamakan agenda internal daripada efektivitas operasional, sekaligus menegaskan bahwa keberhasilan perang harus diukur dari hasil strategis nyata, bukan sekadar deklarasi.
Meski tetap mendukung perang, pernyataan Bennett menunjukkan kekhawatiran yang meningkat di kalangan internal Israel terkait keberlanjutan konflik.
Dampak Ekonomi Meluas ke Eropa
Dampak perang kini meluas melampaui medan tempur dan mulai memengaruhi stabilitas ekonomi global.
Presiden Finlandia menyebut situasi ini sebagai “resesi global yang diciptakan sendiri,” yang dipicu oleh pelanggaran hukum internasional dalam agresi terhadap Iran.
Ia memperingatkan bahwa runtuhnya norma internasional akan melemahkan institusi global pada saat justru sangat dibutuhkan.
Di Slovenia, pejabat melaporkan tantangan serius dalam pasokan energi akibat ketidakstabilan di Teluk Persia, dengan penurunan impor gas dan potensi lonjakan harga listrik.
Pasar Global Terguncang
Pasar keuangan juga merespons negatif perkembangan konflik.
Dilaporkan bahwa Trump memperpanjang tenggat waktu untuk mencapai kesepakatan dengan Iran selama sepuluh hari—indikasi ketidakpastian dalam pemerintahan AS.
Pengumuman tersebut dirilis sesaat setelah penutupan pasar, menunjukkan betapa sensitifnya pasar global terhadap perkembangan di Asia Barat, dengan Wall Street mencatat salah satu hari terburuk sejak perang dimulai.
Langkah ini mencerminkan ketidakkonsistenan pendekatan Washington yang terus berayun antara ancaman eskalasi dan upaya membuka kembali jalur diplomasi.
Korban Meningkat dan Front Perlawanan Meluas
Di lapangan, dampak perang terus meningkat.
Otoritas Israel melaporkan ribuan korban luka yang dirawat di rumah sakit sejak dimulainya perang melawan Iran dan Lebanon, dengan lonjakan signifikan dalam beberapa hari terakhir.
Hal ini terjadi seiring meningkatnya presisi dan efektivitas serangan Iran yang menargetkan titik-titik strategis di wilayah pendudukan.
Pada saat yang sama, Perlawanan Islam di Lebanon terus merespons agresi Israel, memperluas cakupan konfrontasi ke berbagai front.
Perang Berbalik Menekan Para Pemicunya
Hampir satu bulan sejak perang dimulai, gambaran besar semakin terlihat jelas.
Sekutu Barat terpecah, kecaman global meningkat, dan kelemahan internal militer Israel mulai terungkap.
Di sisi lain, tekanan ekonomi meningkat dan pasar global terus bereaksi terhadap ketidakstabilan yang berkepanjangan.
Apa yang semula dimaksudkan sebagai upaya menekan Iran kini berkembang menjadi konflik yang semakin mahal dan sulit dikendalikan bagi para pemicunya—sementara kekuatan perlawanan terus membentuk jalannya pertempuran dan hasil akhirnya. (FG)
~Sumber: Mehr News






