Perundingan Rusia–Ukraina Dijadwalkan Digelar Hari Minggu di Abu Dhabi
Pertemuan Abu Dhabi Akan Membahas Donbass dan PLTN Zaporizhzhya di Tengah Ambiguitas Barat dan Sikap Keras Ukraina
Rusia | FAKTAGLOBAL.COM — Putaran baru perundingan antara Rusia dan Ukraina dijadwalkan berlangsung pada Minggu di Abu Dhabi, menandai kelanjutan negosiasi yang dimediasi Amerika Serikat dengan tujuan mengelola konflik Ukraina.
Pertemuan mendatang ini menyusul keterlibatan trilateral sebelumnya dan diperkirakan akan berfokus pada isu-isu inti, termasuk status Donbass dan pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhya.
Meski secara resmi digambarkan sebagai perundingan yang dimediasi AS, sejumlah indikasi menunjukkan bahwa peran Washington kemungkinan berkurang atau bersifat tidak langsung, sehingga kembali memunculkan pertanyaan mengenai koherensi dan kredibilitas upaya mediasi Amerika.
Struktur Perundingan Masih Belum Jelas
Menurut informasi yang tersedia, pembahasan diperkirakan akan berlangsung dalam format bilateral, meskipun struktur pastinya belum dikonfirmasi secara resmi. Identitas delegasi Rusia dan Ukraina juga belum diungkapkan, dan masih belum jelas apakah perundingan akan dipimpin oleh pejabat politik atau perwakilan militer.
Pertemuan ini berlangsung di tengah pertempuran yang terus berlanjut di lapangan, menegaskan jurang antara pesan-pesan diplomatik dan realitas yang dibentuk oleh dukungan militer Barat kepada Kiev.
Kiev Isyaratkan Penolakan untuk Berkompromi
Menjelang perundingan, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky kembali menegaskan bahwa Kiev tidak siap melakukan konsesi teritorial atau meninjau ulang klaimnya atas Donbass—sebuah sikap yang selama ini menghambat setiap penyelesaian politik yang realistis.
Pernyataan Zelensky memperkuat persepsi bahwa Ukraina tetap sejalan dengan posisi maksimalis Barat, mengutamakan konfrontasi dibanding kompromi meski konflik ini telah menimbulkan biaya kemanusiaan dan teritorial yang berkepanjangan.
Washington Menjauh dari Keterlibatan Langsung
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak akan mengirim utusan senior ke pertemuan Abu Dhabi. Ia menegaskan bahwa baik utusan khusus Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, maupun menantu Trump, Jared Kushner, tidak akan hadir.
Rubio menambahkan bahwa perundingan tersebut “diperkirakan bersifat bilateral,” yang secara efektif menandai langkah mundur dari keterlibatan langsung Amerika setelah berbulan-bulan klaim publik mengenai peran sentral Washington dalam membentuk kerangka perdamaian.
Meski kehadirannya terbatas di Abu Dhabi, Washington mengklaim adanya kemajuan dalam kontak paralel dengan Rusia. Dalam pernyataan yang diunggah di platform X, Steve Witkoff menyebut bahwa utusan khusus Rusia, Kirill Dmitriev, menggelar pertemuan yang digambarkan sebagai “produktif dan konstruktif” di Florida sebagai bagian dari upaya mediasi yang dipimpin AS.
Delegasi AS dilaporkan mencakup Menteri Keuangan Scott Bessent, Jared Kushner, dan penasihat senior Gedung Putih Josh Gruenbaum. Pernyataan tersebut memuji kesiapan Rusia untuk terlibat secara diplomatik, sembari membingkai proses ini sebagai keberhasilan kepemimpinan AS—klaim yang bertolak belakang dengan keputusan Washington untuk tidak mengirim perwakilan senior ke perundingan Rusia–Ukraina itu sendiri.
Perundingan Abu Dhabi Sebelumnya dan Hasil Terbatas
Pekan lalu, Rusia dan Ukraina menyelesaikan dua hari perundingan langsung di Uni Emirat Arab di bawah mediasi AS, dan secara prinsip sepakat untuk menggelar putaran berikutnya meskipun eskalasi kembali terjadi di medan tempur.
Zelensky menggambarkan diskusi tersebut sebagai “konstruktif,” sementara juru bicara pemerintah UEA mengatakan pertemuan berlangsung dalam “suasana positif” dengan partisipasi pejabat militer senior dari kedua pihak.
Pertemuan sebelumnya dilaporkan berfokus pada kerangka gencatan senjata yang diusulkan AS serta langkah-langkah membangun kepercayaan, meskipun tidak ada terobosan substantif yang diumumkan.
Perundingan di Abu Dhabi ini menjadi pertemuan tatap muka pertama antara perunding Rusia dan Ukraina sejak pembicaraan di Istanbul pada musim panas lalu, yang hanya menghasilkan kesepakatan terbatas, termasuk pertukaran tahanan.
Kali ini, diskusi diperkirakan akan berputar pada kerangka penyelesaian yang lebih luas yang dipromosikan Washington—di tengah meningkatnya skeptisisme atas netralitas AS, mengingat dukungan politik, militer, dan finansialnya yang berkelanjutan kepada Kiev.
Ketika diplomasi berlangsung di Abu Dhabi, kontradiksi antara retorika dan tindakan Barat tampak semakin mencolok. Sementara Washington mengklaim mengejar perdamaian, mereka terus mempersenjatai Ukraina dan menghindari akuntabilitas langsung di meja perundingan, meninggalkan Rusia untuk bernegosiasi di tengah tekanan berkelanjutan, sanksi, dan perang informasi.
Apakah perundingan mendatang dapat menghasilkan kemajuan nyata masih belum pasti, terutama ketika Kiev mempertahankan posisi tanpa kompromi yang didorong oleh para pendukung Baratnya. (FG)


