Pezeshkian ke Rakyat Amerika: Iran Sedang Membela Diri dari Agresi yang Dipimpin AS
Dalam surat terbuka, Presiden Masoud Pezeshkian menolak narasi Washington, mengecam serangan militer terhadap warga sipil, dan memperingatkan eskalasi ketidakstabilan global.
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pesan langsung kepada publik Amerika, menegaskan bahwa tindakan militer Iran sepenuhnya bersifat defensif dan merupakan respons atas agresi berkelanjutan yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan sekutunya.
Dalam surat tersebut, Pezeshkian menegaskan perbedaan antara pemerintah dan rakyat, serta menekankan bahwa Iran tidak memiliki permusuhan terhadap rakyat Amerika, Eropa, maupun negara-negara tetangganya. Ia menempatkan tanggung jawab langsung pada kebijakan Washington yang disebutnya sebagai pola intervensi, tekanan, dan destabilisasi.
“Apa yang telah dan sedang dilakukan Iran adalah reaksi dan pembelaan—bukan awal dari perang, agresi, atau invasi,” tulisnya.
Presiden Iran menegaskan bahwa Teheran secara historis tidak pernah memulai perang meskipun memiliki kemampuan militer yang signifikan. Ia menyatakan bahwa sikap defensif Iran merupakan kebutuhan di tengah ekspansi kehadiran militer AS dan serangan berulang terhadap wilayah serta infrastruktur Iran.
Kebijakan AS Menciptakan Ancaman dan Memperpanjang Konflik
Pezeshkian menegaskan bahwa Amerika Serikat secara sengaja membangun citra Iran sebagai ancaman guna membenarkan ekspansi militer, menopang industri persenjataan, dan mempertahankan dominasi geopolitik.
Ia menyoroti konsentrasi pangkalan militer AS di sekitar Iran sebagai bukti strategi jangka panjang tekanan dan pengurungan, serta menyatakan bahwa serangan terbaru dari pangkalan-pangkalan tersebut mengungkap hakikat sebenarnya dari kehadiran Washington di kawasan.
Menurut surat tersebut, konfrontasi saat ini merupakan hasil langsung dari serangkaian keputusan Amerika, termasuk penarikan dari kesepakatan nuklir serta tindakan militer berulang di tengah proses diplomasi—langkah-langkah yang disebutnya merusak dan mendestabilisasi.
Luka Sejarah Memperdalam Ketidakpercayaan terhadap Washington
Presiden Iran menyoroti sejarah panjang yang membentuk ketidakpercayaan Iran terhadap Amerika Serikat, termasuk 1953 Iranian coup d’état sebagai titik balik yang menghentikan jalur demokrasi Iran.
Ia juga menyinggung dukungan AS terhadap Saddam Hussein dalam perang Iran-Irak, sanksi berkepanjangan, serta aksi militer langsung sebagai faktor yang semakin memperdalam permusuhan dan ketidakpercayaan di kalangan rakyat Iran.
Meski menghadapi tekanan tersebut, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran justru semakin kuat, dengan kemajuan di bidang pendidikan, teknologi, kesehatan, dan infrastruktur sebagai bukti ketahanan nasional.
Target Sipil dan Kejahatan Perang
Pezeshkian menegaskan bahwa Amerika Serikat menargetkan infrastruktur sipil, termasuk fasilitas energi dan industri medis, serta menyebut tindakan tersebut sebagai kejahatan perang dengan dampak yang melampaui batas-batas Iran.
Ia memperingatkan bahwa eskalasi militer yang berlanjut akan memperdalam penderitaan kemanusiaan dan memicu siklus ketegangan jangka panjang di kawasan dan dunia.
Presiden Iran juga mengajukan pertanyaan langsung kepada rakyat Amerika: manfaat nyata apa yang diperoleh dari perang ini, dan apakah penghancuran kehidupan sipil dapat dibenarkan sebagai kepentingan nasional.
Peran Israel dan Beban bagi Rakyat Amerika
Dalam kritik langsung terhadap prioritas strategis Washington, Pezeshkian menyatakan bahwa Amerika Serikat memasuki konflik ini sebagai proksi di bawah pengaruh Israel, dengan rezim tersebut mendorong eskalasi tanpa menanggung biaya langsung.
Ia menegaskan bahwa perang ini berlangsung dengan mengorbankan nyawa rakyat Amerika dan uang pajak mereka, sekaligus mengguncang stabilitas kawasan dan melindungi Israel dari konsekuensi.
Seruan untuk Kebenaran dan Mengakhiri Konfrontasi
Menutup pesannya, Pezeshkian menyerukan kepada rakyat Amerika untuk mempertanyakan narasi media dan mencari perspektif independen tentang Iran, serta menyoroti kontribusi global warga Iran di bidang akademik dan profesional sebagai realitas yang berbeda dari gambaran media.
Ia memperingatkan bahwa kelanjutan konfrontasi hanya akan membawa biaya yang lebih besar tanpa hasil yang berkelanjutan, serta menegaskan bahwa pilihan antara konflik dan interaksi akan menentukan masa depan generasi mendatang.
“Memilih konfrontasi daripada interaksi hanya akan menimbulkan beban yang lebih berat dan membentuk masa depan yang dipenuhi ketidakstabilan,” ujarnya.
Surat ini menjadi seruan langsung dari Teheran kepada publik Amerika, menantang narasi resmi dan menegaskan bahwa tindakan Iran merupakan pembelaan yang sah terhadap agresi yang dipimpin Amerika Serikat.
Teks Lengkap Surat
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Kepada rakyat Amerika Serikat dan kepada mereka yang, di tengah arus distorsi dan narasi yang direkayasa, mencari kebenaran dan kehidupan yang lebih baik,
Iran—dengan nama, identitas, dan eksistensinya—merupakan salah satu peradaban tertua yang berkelanjutan dalam sejarah manusia. Meskipun memiliki keunggulan historis dan geografis pada berbagai masa, Iran dalam sejarah modernnya tidak pernah memilih jalan militerisme, agresi, kolonialisme, maupun dominasi. Meski mengalami pendudukan, invasi, dan tekanan dari kekuatan global, serta memiliki kemampuan militer yang melampaui banyak negara di sekitarnya, Iran tidak pernah memulai perang, namun selalu dengan berani memukul mundur para agresor.
Bangsa Iran tidak memiliki permusuhan terhadap bangsa lain, termasuk rakyat Amerika, Eropa, maupun negara-negara tetangganya. Bahkan dalam menghadapi intervensi dan tekanan asing sepanjang sejarah, rakyat Iran selalu membedakan antara pemerintah dan rakyat—sebuah prinsip yang mengakar dalam budaya dan kesadaran mereka.
Iran—dengan nama, identitas, dan eksistensinya—merupakan salah satu peradaban tertua yang berkelanjutan dalam sejarah manusia. Meskipun memiliki keunggulan historis dan geografis pada berbagai masa, Iran dalam sejarah modernnya tidak pernah memilih jalan militerisme, agresi, kolonialisme, maupun dominasi. Meski mengalami pendudukan, invasi, dan tekanan yang dipaksakan oleh kekuatan-kekuatan global, serta memiliki kemampuan militer yang melampaui banyak negara di sekitarnya, Iran tidak pernah menjadi pihak yang memulai perang, namun dengan berani memukul mundur para agresor.
Bangsa Iran tidak memiliki permusuhan terhadap bangsa lain, termasuk rakyat Amerika, Eropa, maupun negara-negara tetangganya. Bahkan dalam menghadapi intervensi dan tekanan dari pemerintah asing sepanjang sejarah, rakyat Iran senantiasa membedakan antara bangsa dan pemerintah. Ini adalah prinsip yang mengakar dalam budaya dan kesadaran bangsa ini, bukan sikap sementara.
Berdasarkan hal tersebut, penggambaran Iran sebagai ancaman tidak selaras dengan realitas sejarah maupun fakta objektif saat ini. Citra tersebut merupakan produk kebutuhan politik dan ekonomi dari struktur kekuasaan—kebutuhan untuk menciptakan musuh guna membenarkan tekanan, mempertahankan superioritas militer, memberi makan industri persenjataan, serta mengelola pasar-pasar strategis. Dalam kerangka seperti itu, jika ancaman tidak ada, maka ancaman akan diciptakan.
Akibat pendekatan inilah, saat ini konsentrasi terbesar kekuatan, pangkalan, dan kapasitas militer Amerika Serikat terkumpul di sekitar Iran—sebuah negara yang setidaknya sejak awal berdirinya Amerika Serikat tidak pernah memulai perang.
Agresi terbaru Amerika yang dilancarkan dari pangkalan-pangkalan tersebut telah membuktikan sifat mengancam dari kehadiran semacam itu. Jelas bahwa tidak ada negara yang akan mengabaikan penguatan kemampuan pertahanannya dalam kondisi seperti ini. Apa yang telah dan sedang dilakukan Iran hanyalah reaksi dan pembelaan, bukan permulaan serangan, perang, atau agresi.
Hubungan Iran dan Amerika Serikat pada awalnya tidak dibangun atas dasar konfrontasi, dan hubungan antara kedua bangsa berjalan tanpa permusuhan dan ketegangan. Titik balik dari hubungan ini adalah kudeta tahun 1953—sebuah intervensi yang bertujuan menggagalkan nasionalisasi sumber daya Iran, menghentikan proses demokrasi, mengembalikan kediktatoran, dan menanamkan ketidakpercayaan mendalam terhadap kebijakan Amerika Serikat di benak rakyat Iran.
Ketidakpercayaan ini semakin dalam dengan dukungan terhadap rezim sebelum revolusi, dukungan terhadap Saddam Hussein dalam perang yang dipaksakan, penerapan sanksi yang paling panjang dan luas, hingga pada akhirnya tindakan militer langsung terhadap Iran.
Meskipun menghadapi tekanan-tekanan tersebut, Iran tidak melemah, melainkan justru menguat di berbagai bidang: peningkatan tingkat literasi secara signifikan hingga tiga kali lipat (dari 30 persen menjadi 90 persen), pengembangan pendidikan tinggi, kemajuan dalam teknologi modern, perluasan layanan kesehatan, serta penguatan infrastruktur yang luar biasa dan tak tertandingi. Semua ini menunjukkan kapasitas internal dan kemampuan adaptasi negara ini—realitas yang dapat diamati dan diukur, terlepas dari narasi media.
Namun demikian, dampak destruktif dan tidak manusiawi dari sanksi, perang, dan agresi terhadap kehidupan rakyat Iran yang pemberani tidak dapat diabaikan. Kelanjutan tindakan militer, termasuk serangan-serangan terbaru, secara alami memengaruhi pandangan dan perasaan masyarakat. Ini adalah kenyataan manusiawi: rakyat yang menanggung biaya perang dengan nyawa, rumah, kota, dan masa depan mereka tidak akan bersikap acuh terhadap pihak yang menyebabkannya.
Dalam konteks ini, muncul pertanyaan mendasar: perang ini sebenarnya untuk kepentingan nyata siapa di kalangan rakyat Amerika? Ancaman konkret apa yang datang dari Iran sehingga tindakan-tindakan tersebut dapat dibenarkan? Apakah pembantaian anak-anak tak berdosa, penghancuran fasilitas farmasi kanker, atau retorika berlebihan tentang membombardir suatu bangsa hingga “kembali ke Zaman Batu” memberikan manfaat selain merusak citra global Amerika Serikat?
Iran telah menempuh jalur negosiasi, mencapai kesepakatan, dan melaksanakan komitmennya. Namun keluarnya Amerika dari kesepakatan tersebut, pergeseran menuju konfrontasi, serta dua kali serangan di tengah proses negosiasi merupakan keputusan destruktif yang diambil oleh pemerintah Amerika Serikat dalam rangka memenuhi ambisi agresor eksternal.
Dimulainya serangan terhadap infrastruktur vital Iran, termasuk fasilitas energi dan industri, merupakan tindakan yang secara langsung menargetkan rakyat Iran. Selain merupakan kejahatan perang, konsekuensinya tanpa diragukan akan melampaui batas-batas Iran. Serangan-serangan ini berarti perluasan ketidakstabilan, peningkatan biaya kemanusiaan dan ekonomi, serta penciptaan siklus ketegangan dan penanaman benih kebencian yang dampaknya akan bertahan selama bertahun-tahun. Jalan ini bukanlah tanda kekuatan, melainkan tanda kebingungan dan ketidakmampuan untuk mencapai solusi yang berkelanjutan.
Bukankah jelas bahwa Amerika Serikat memasuki agresi ini sebagai kekuatan proksi Israel dan dengan dorongan rezim tersebut? Bukankah Israel dengan membesar-besarkan ancaman Iran berupaya mengalihkan perhatian opini publik dunia dari kejahatannya sendiri menuju ancaman yang direkayasa? Bukankah kini Israel berupaya menyeret perang melawan Iran hingga pengorbanan terakhir—baik dari prajurit Amerika maupun dari uang pajak rakyatnya—dengan membebankan biaya kepada Iran, negara-negara kawasan, dan Amerika Serikat, sementara dirinya tetap berada dalam zona aman? Apakah benar bahwa “America First” masih menjadi prioritas utama pemerintah Amerika Serikat saat ini?
Saya mengajak Anda untuk tidak hanya bergantung pada propaganda media yang terarah—yang sendiri merupakan bagian dari perang—melainkan melihat kepada teman-teman Anda yang pernah mengunjungi Iran, serta kepada banyak warga Iran yang setelah menyelesaikan pendidikan tinggi di dalam negeri kini mengajar dan meneliti di universitas-universitas terbaik dunia atau bekerja di perusahaan-perusahaan terkemuka. Apakah realitas ini sesuai dengan gambaran yang disampaikan media kepada Anda tentang Iran?
Dunia saat ini berada pada titik di mana kelanjutan jalur konfrontasi lebih mahal dan semakin tidak menghasilkan. Pilihan antara konfrontasi dan interaksi adalah pilihan nyata dan menentukan—pilihan yang dampaknya akan membentuk masa depan generasi mendatang. Sepanjang ribuan tahun sejarahnya yang penuh kebanggaan, Iran telah menghadapi banyak agresor. Tidak ada yang tersisa dari mereka selain nama buruk dalam sejarah, sementara Iran tetap berdiri tegak dengan kehormatan dan kebanggaan.
Masoud Pezeshkian
Presiden Republik Islam Iran (FG)


