Pimpinan Alawi Serukan Aksi Massa Usai Bom Masjid di Homs, Suriah
Sheikh Ghazal Ghazal menyerukan mobilisasi damai, reformasi politik, dan perlindungan internasional di tengah meningkatnya kekerasan
Suriah, FAKTAGLOBAL.COM — Sheikh Ghazal Ghazal, Ketua Dewan Islam Alawi Tertinggi, mengumumkan rencana penyelenggaraan demonstrasi damai berskala besar pada hari Minggu sebagai respons atas pengeboman sebuah masjid di Kota Homs.
Dalam pernyataan publiknya, Sheikh Ghazal menyerukan kepada para pendukungnya untuk berkumpul mulai pukul 12.00 hingga 17.00 dalam sebuah aksi yang ia sebut sebagai “banjir manusia” yang memenuhi alun-alun dan ruang-ruang publik. Ia juga mengajak komunitas-komunitas Suriah lainnya untuk menunjukkan solidaritas terhadap komunitas Alawi, seraya menegaskan bahwa gerakan ini mengedepankan solusi politik, bukan konfrontasi bersenjata.
“Kami tidak menginginkan perang saudara, tetapi federalisme politik,” ujar Sheikh Ghazal, sembari menolak narasi yang menggambarkan krisis ini sebagai benturan antar faksi, dan menyebutnya sebagai kekerasan berbasis identitas yang bertujuan untuk penaklukan.
Peringatan Eskalasi Kekerasan dan Keruntuhan Politik
Sheikh Ghazal memperingatkan bahwa sikap diam yang berkelanjutan terhadap apa yang ia sebut sebagai kejahatan-kejahatan yang terus berlangsung hanya akan memicu pertumpahan darah lebih lanjut dan mempercepat keruntuhan sosial.
Ia menyerukan perubahan politik yang cepat dan mendasar, serta penerapan mekanisme perlindungan internasional untuk mencegah situasi semakin memburuk.
Pernyataan tersebut menyusul peringatan sebelumnya dari Sheikh Ghazal mengenai potensi pecahnya konflik internal, yang menurutnya menjadi tanggung jawab otoritas di Damaskus. Ia merujuk pada pelanggaran berulang terhadap komunitas Alawi, dan menegaskan bahwa kegagalan menangani keluhan-keluhan tersebut akan memperdalam ketidakstabilan serta mendorong para pelaku kekerasan.
Serangan Mematikan di Masjid Imam Ali
Seruan tersebut disampaikan setelah serangan bom mematikan yang menghantam Masjid Imam Ali di kawasan Wadi al-Dhahab pada 26 Desember. Ledakan terjadi saat para jamaah sedang melaksanakan salat, menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai 27 lainnya, menurut laporan setempat. Masjid tersebut terutama dikunjungi oleh anggota komunitas Alawi.
Sebuah kelompok militan yang menamakan diri Saraya Ansar Ahl al-Sunna mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut, dengan menyatakan bahwa bahan peledak digunakan dalam aksi itu.
Pada hari yang sama, Dewan Islam Alawi Tertinggi mengecam apa yang mereka sebut sebagai serangkaian serangan teroris terhadap warga sipil Alawi, serta menyatakan bahwa otoritas de facto memikul tanggung jawab penuh dan langsung atas kejadian tersebut.
Dewan tersebut memperingatkan bahwa kekerasan semacam ini merupakan konsekuensi tak terelakkan dari kebijakan eksklusi, penghasutan, dan pemaksaan, serta menyerukan langkah-langkah mendesak untuk melindungi warga sipil dan memastikan akuntabilitas, di tengah eskalasi ketegangan yang terus berlanjut. (FG)


