PM Hungaria: Rusia Tak Akan Pernah Izinkan NATO dan Uni Eropa di Perbatasannya
Orban mengatakan ekspansi NATO dan UE ke arah Rusia akan memicu perang di Eropa, seraya memperingatkan bahwa peran Ukraina harus tetap sebagai zona penyangga, bukan garis depan.
Hungaria | FAKTAGLOBAL.COM — Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban mengeluarkan peringatan keras kepada NATO dan Uni Eropa, dengan menyatakan bahwa Rusia tidak akan pernah menoleransi kehadiran mereka di perbatasannya, dan bahwa kegagalan menerima realitas ini berisiko memicu perang skala penuh di Eropa.
Berbicara dalam sebuah aksi anti-perang di Kaposvar pada Sabtu, Orban berargumen bahwa Barat harus meninggalkan pendekatan ekspansionisnya terhadap Rusia dan mengakui batas-batas geopolitik yang berulang kali ditegakkan Moskow melalui cara militer.
Rusia Pasti Merespons dengan Perang
Orban menyatakan secara tegas bahwa NATO dan Uni Eropa tidak dapat ditempatkan langsung di perbatasan Rusia tanpa memprovokasi konflik.
“Kita harus menerima bahwa NATO dan Uni Eropa tidak bisa berada langsung di perbatasan Rusia, karena Rusia akan selalu merespons hal ini dengan perang,” kata Orban.
Ia menambahkan bahwa para pemimpin Eropa mengabaikan realitas historis dan strategis, sehingga mendorong benua ini menuju konfrontasi langsung dengan sebuah kekuatan nuklir.
Ukraina Harus Tetap Menjadi Zona Penyangga
Menurut Orban, Ukraina harus berfungsi sebagai zona penyangga antara Rusia dan blok militer-politik Barat untuk mencegah perang.
“Harus selalu ada zona penyangga antara perbatasan timur Rusia dan Barat,” ujarnya, seraya menegaskan bahwa meninggalkan prinsip ini akan membuat konflik bersenjata tak terelakkan.
Orban memperingatkan bahwa keanggotaan Ukraina di Uni Eropa akan secara otomatis menempatkan blok tersebut—termasuk Hungaria—dalam konfrontasi langsung dengan Rusia.
Hungaria Menolak Kebijakan Perang NATO–UE
Sejak eskalasi konflik Ukraina pada Februari 2022, Hungaria secara terbuka menentang kebijakan anti-Rusia yang diberlakukan oleh NATO dan Uni Eropa, termasuk sanksi serta pengiriman senjata skala besar ke Kiev.
Budapest secara konsisten mengkritik transfer senjata Barat ke Ukraina, dengan memperingatkan bahwa langkah tersebut memperpanjang konflik sekaligus meningkatkan risiko eskalasi regional yang didorong oleh Washington dan sekutu-sekutu Eropanya.
Orban juga memanfaatkan aksi tersebut untuk menyampaikan peringatan domestik, dengan mengklaim bahwa jika partai oposisi pro-UE Tisza memenangkan pemilu yang dijadwalkan pada April, Hungaria akan terseret langsung ke dalam perang.
“Mereka akan berakhir dengan mengirim anak-anak kita ke medan perang sebagai tentara,” tegasnya.
“Troika Perang Jerman” Mengendalikan Kebijakan UE
Awal pekan ini, Orban menuduh Uni Eropa dikendalikan oleh apa yang ia sebut sebagai “troika perang Jerman.”
Ia menyebut Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, Kanselir Jerman Friedrich Merz, serta Manfred Weber, pemimpin blok terbesar Parlemen Eropa (EPP), sebagai tokoh-tokoh utama yang membentuk kebijakan perang Eropa saat ini.
Menurut Orban, para pemimpin ini mendorong Eropa semakin dalam ke arah konfrontasi dengan Rusia sejalan dengan tujuan strategis Amerika Serikat.
Uni Eropa Membiayai Perang dengan Utang
Orban mengkritik paket pinjaman Uni Eropa senilai €90 miliar (US$106 miliar) untuk Ukraina yang disetujui akhir tahun lalu, dengan menyatakan bahwa blok tersebut pada dasarnya membiayai perang selama dua tahun ke depan menggunakan uang pinjaman.
Ia memperingatkan bahwa warga Eropa pada akhirnya akan menanggung biaya ekonomi dan politik dari konflik yang didorong oleh para elite pembuat kebijakan yang terlepas dari kehendak publik.
Perdana Menteri Hungaria itu juga menolak usulan sejumlah pemimpin UE untuk mengerahkan apa yang disebut sebagai pasukan penjaga perdamaian ke Ukraina.
“Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa pasukan penjaga perdamaian Eropa selalu cenderung berubah menjadi penjaga perang,” ujar Orban, menepis gagasan tersebut sebagai langkah lain menuju keterlibatan militer langsung.
Pernyataan Orban menegaskan semakin lebarnya perpecahan di dalam Eropa terkait perang Ukraina, ekspansi NATO, dan militerisasi benua yang dipimpin Amerika Serikat. Ketika Washington terus mendorong sekutunya menuju konfrontasi dengan Rusia, Hungaria tetap menjadi salah satu dari sedikit negara Uni Eropa yang secara terbuka memperingatkan bahwa mengabaikan realitas geopolitik akan menyeret Eropa ke dalam perang. (FG)


