PM Slovakia: Serangan AS ke Venezuela Tandai Runtuhnya Tatanan Dunia Pasca-PD II
Robert Fico Menyatakan Penggunaan Kekuatan oleh Washington Tanpa Mandat PBB Menunjukkan Pengabaian Terbuka terhadap Hukum Internasional
Venezuela | FAKTAGLOBAL.COM — Perdana Menteri Slovakia Robert Fico memperingatkan bahwa serangan militer Amerika Serikat terhadap Venezuela merupakan bukti lanjutan bahwa tatanan internasional pasca-Perang Dunia II sedang runtuh, seiring negara-negara kuat semakin mengandalkan penggunaan kekuatan tanpa pembatasan hukum.
Berbicara beberapa jam setelah pasukan AS melancarkan serangan udara ke Venezuela dan menangkap Presiden Nicolás Maduro beserta istrinya, Fico mengatakan bahwa operasi tersebut menunjukkan hukum internasional tidak lagi dihormati oleh kekuatan global dominan.
“Hukum Internasional Tidak Lagi Berlaku”
Dalam pernyataan yang dipublikasikan di media sosial, Fico menyatakan bahwa serangan AS tersebut memperlihatkan erosi cepat sistem global yang dibentuk setelah Perang Dunia II.
“Hukum internasional tidak berlaku, kekuatan militer digunakan tanpa mandat Dewan Keamanan PBB, dan siapa pun yang besar dan kuat melakukan apa saja demi kepentingannya sendiri,” ujarnya.
Otoritas AS kemudian memindahkan Maduro dan istrinya ke tahanan Amerika, dengan tuduhan konspirasi perdagangan narkotika—tuduhan yang telah lama ditolak Caracas sebagai dalih untuk perubahan rezim dan penguasaan sumber daya minyak Venezuela yang sangat besar.
Trump Menyatakan Kendali AS atas Venezuela
Presiden AS Donald Trump secara terbuka mengonfirmasi niat Washington pasca-operasi tersebut, dengan menyatakan bahwa Amerika Serikat kini akan “menjalankan” Venezuela dan mengamankan industri minyaknya.
Pernyataan ini memperkuat tudingan bahwa serangan tersebut didorong oleh motif strategis dan ekonomi, bukan alasan hukum atau kemanusiaan.
Fico Kecam Penerapan Norma Global Secara Selektif
Fico mengatakan bahwa sebagai pemimpin negara kecil, ia menolak apa yang disebutnya sebagai “subversi hukum internasional,” seraya menegaskan bahwa ia juga menolak invasi AS ke Irak, tidak diakuinya kedaulatan Kosovo, penggunaan kekuatan militer Rusia di Ukraina, serta situasi yang berlangsung di Gaza.
Ia menekankan bahwa hukum internasional tidak boleh diterapkan secara selektif berdasarkan afiliasi politik atau kekuatan.
UE Diuji Kredibilitasnya
Perdana Menteri Slovakia mempertanyakan bagaimana Uni Eropa akan merespons serangan AS tersebut, yang menurutnya “layak dikecam.”
“Entah Uni Eropa mengecam penggunaan kekuatan militer AS di Venezuela dan konsisten dengan sikapnya terhadap perang di Ukraina, atau ia akan tetap—seperti biasa—munafik dan merasa diri paling benar,” kata Fico.
Kepala kebijakan luar negeri UE Kaja Kallas menyerukan “penahanan diri” dalam unggahan singkat di X, dengan meminta kepatuhan pada Piagam PBB tanpa secara langsung mengecam tindakan Washington.
Rusia dan China Kecam Agresi AS
Baik Rusia maupun China mengeluarkan kecaman keras atas serangan AS tersebut.
Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut serangan dan penangkapan Maduro sebagai “pelanggaran yang tidak dapat diterima terhadap kedaulatan negara merdeka,” serta menyerukan agar Washington segera membebaskan Presiden Venezuela.
China juga mengecam serangan itu sebagai pelanggaran hukum internasional dan kedaulatan nasional, serta memperingatkan bahwa tindakan semacam itu semakin mengguncang tatanan global. (FG)


