Poros Perlawanan Masih Simpan Kejutan, Paksa AS Serius dalam Negosiasi: Analis
Analis Khalil Nasrallah menyatakan bahwa Poros Perlawanan masih memegang kartu tawar menentukan, memperingatkan bahwa kejutan-kejutan mendatang dapat memaksa AS memasuki negosiasi serius.
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Analis politik dan tokoh media Khalil Nasrallah menegaskan bahwa perkembangan terbaru menandai perubahan kualitatif dalam jalannya konflik, di mana Amerika Serikat telah dipaksa menerima kerangka negosiasi yang diajukan Iran sebagai dasar pembicaraan.
Berbicara di Al-Masirah TV, Nasrallah menjelaskan bahwa perubahan sikap Washington terjadi setelah Teheran menolak proposal awal yang mencakup jeda dua minggu sebagai imbalan atas pengaturan terkait Selat Hormuz.
AS Dipaksa Menerima Kerangka Negosiasi Iran
Nasrallah mengungkapkan bahwa sebuah proposal—yang bocor melalui mediasi Pakistan—yang menyerukan “penghentian serangan selama dua minggu” ditolak tegas oleh Iran. Penolakan ini memicu negosiasi berjam-jam yang pada akhirnya berujung pada penerimaan Amerika terhadap proposal Iran.
Ia menegaskan bahwa perkembangan ini mencerminkan pergeseran nyata dalam keseimbangan kekuatan, di mana Poros Perlawanan berhasil memaksakan syaratnya setelah tekanan berkelanjutan di berbagai front.
Eskalasi di Berbagai Front Terpadu Mengubah Medan Konflik
Nasrallah menekankan bahwa sejak hari pertama, konfrontasi berjalan dalam lintasan eskalatif—berawal dari Lebanon selatan, meluas ke Iran, dan menjangkau Irak serta Yaman.
Front-front yang saling terhubung ini, menurutnya, memainkan peran komplementer dalam membentuk ulang keseimbangan kekuatan dan menciptakan persamaan deterrence baru. Dinamika yang terus berkembang ini diperkirakan akan membawa implikasi strategis baik dalam jangka pendek maupun panjang, serta menggagalkan upaya membentuk ulang kawasan sesuai desain Amerika dan Israel.
Menurut Nasrallah, masuknya Yaman ke dalam konflik merupakan langkah yang telah diperhitungkan sejak awal, sebagai bagian dari strategi regional yang lebih luas.
Ia menambahkan bahwa Sana’a masih memiliki opsi eskalasi yang belum digunakan—baik di Laut Merah maupun melalui bentuk penargetan lainnya—yang menjadi bagian dari alat tekanan untuk memastikan penerapan syarat gencatan senjata.
“Kesatuan Front” Menjadi Doktrin Utama
Nasrallah menegaskan bahwa perkembangan terbaru mengukuhkan doktrin “Kesatuan Front” sebagai pilar utama dalam setiap konfrontasi mendatang.
Dalam kerangka ini, setiap agresi terhadap satu front akan memicu perluasan konflik ke berbagai arena—menjadikan model peperangan ini sangat mungkin kembali digunakan di masa depan.
Di front Israel, Nasrallah menyatakan bahwa penjahat perang Benjamin Netanyahu tengah menghadapi krisis yang kian meningkat, khususnya di front utara.
Meskipun sebelumnya menjanjikan hasil, Netanyahu gagal mencapai capaian nyata dalam hal keamanan maupun deterrence. Di saat yang sama, ia berupaya memanipulasi kesepakatan dan mendorong perluasan perang—terutama dengan mencoba memisahkan front Lebanon dari persamaan yang lebih luas.
Gencatan Senjata Rapuh dan Front yang Belum Terselesaikan
Nasrallah memperingatkan bahwa eskalasi berkelanjutan di Lebanon dapat menyebabkan runtuhnya kesepakatan gencatan senjata.
Ia menyebut bahwa pemahaman yang disampaikan melalui mediasi Pakistan mencakup gencatan senjata komprehensif di seluruh kawasan, termasuk Lebanon—meski hal ini belum sepenuhnya terwujud di lapangan.
Ia menambahkan bahwa posisi pasukan Perlawanan masih dalam formasi sbb:
Perlawanan Irak telah mengumumkan komitmen sementara
Belum ada posisi final yang dikeluarkan oleh Yaman maupun HizbullahHal ini membuka kemungkinan kembalinya operasi militer jika syarat-syarat kesepakatan dilanggar.
Jam-Jam Kritis di Depan Mata
Sebagai penutup, Khalil Nasrallah menyatakan bahwa jam-jam ke depan akan menjadi penentu arah kesepakatan.
Dengan posisi Amerika dan Iran yang saling beririsan, serta perbedaan sikap Israel yang terus berlanjut, situasi tetap terbuka terhadap berbagai skenario—mulai dari stabilisasi gencatan senjata hingga kembali pada eskalasi. (FG)


