Presiden Iran Ceritakan Pertemuan dengan Ayatullah Mujtaba Khamenei
Presiden Iran mengatakan kerendahan hati, ketulusan, dan kepemimpinan Ayatullah Khamenei yang berorientasi pada rakyat memperkuat kepercayaan, persatuan, dan ketahanan nasional
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengungkap rincian pertemuan terbarunya dengan Ayatullah Sayyed Mujtaba Khamenei, seraya menggambarkan suasana pertemuan tersebut sebagai sangat tulus, rendah hati, dan dibangun di atas kepercayaan, kedekatan, serta dialog langsung.
Berbicara dalam kunjungan mendadak ke Kementerian Industri, Pertambangan, dan Perdagangan Iran pada Rabu malam, Pezeshkian mengatakan bahwa pertemuannya dengan Pemimpin Tertinggi berlangsung hampir dua setengah jam dan meninggalkan kesan pribadi yang mendalam baginya.
“Aspek paling menonjol dari pertemuan ini bagi saya adalah cara berinteraksi, kedalaman pandangan, dan pendekatan Pemimpin Tertinggi yang sangat rendah hati dan tulus,” ujar Pezeshkian.
Menurut Presiden Iran tersebut, sikap Ayatullah Sayyed Mojtaba Khamenei mengubah suasana dari sekadar pertemuan resmi kenegaraan menjadi lingkungan yang dibangun di atas ketenangan, empati, kepercayaan, dan diskusi terbuka tanpa sekat.
Model Kepemimpinan yang Berakar pada Kerendahan Hati
Pezeshkian menekankan bahwa sikap Pemimpin Tertinggi mencerminkan model pemerintahan yang didasarkan pada kerendahan hati, tanggung jawab, dan hubungan tulus dengan rakyat, bukan pada privilese atau jarak dari masyarakat.
“Ketika otoritas tertinggi di negara ini berinteraksi dengan para pejabat dan individu dengan etika, kerendahan hati, dan semangat yang berorientasi pada rakyat seperti ini, maka hal itu secara alami menjadi teladan bagi struktur administrasi dan manajerial negara,” katanya.
Presiden Iran itu menambahkan bahwa kesederhanaan, rasa saling menghormati, dan ketulusan Ayatullah Sayyed Mojtaba Khamenei menciptakan ruang di mana diskusi dapat berlangsung secara terbuka dan langsung.
Ia lebih lanjut menegaskan bahwa kepemimpinan semacam itu memiliki arti strategis di tengah kondisi regional dan internasional yang dihadapi Iran saat ini, seraya menyatakan bahwa hal itu memperkuat kepercayaan sosial, kohesi nasional, dan persatuan dalam struktur pemerintahan.
Pezeshkian juga menggambarkan tanggung jawab dalam sistem Islam sebagai beban pelayanan dan akuntabilitas, bukan posisi superioritas.
“Tanggung jawab dan jabatan eksekutif bukanlah privilese, melainkan beban komitmen, akuntabilitas, dan pelayanan kepada rakyat yang lebih berat,” katanya, seraya menambahkan bahwa tidak ada pejabat yang seharusnya menggunakan posisinya untuk menjauhkan diri dari masyarakat.
Iran Menghadapi Kampanye Tekanan Terkoordinasi
Di bagian lain pernyataannya, Pezeshkian mengatakan bahwa Iran telah menghadapi kombinasi tekanan ekonomi, politik, dan keamanan sejak awal pemerintahannya, termasuk apa yang ia gambarkan sebagai perang yang dipaksakan oleh Amerika Serikat dan rezim Zionis, upaya mengaktifkan mekanisme yang disebut “snapback”, serta berbagai upaya untuk menciptakan kerusuhan domestik.
Menurut Pezeshkian, tujuan akhir di balik tekanan terkoordinasi tersebut adalah meningkatkan kesulitan ekonomi, melemahkan persatuan nasional, mendorong rakyat turun ke jalan, dan mengguncang stabilitas internal negara.
“Rakyat Iran, bersama militer, polisi, dan pasukan keamanan, berhasil mengelola situasi dengan cara terbaik dan mencegah skenario-skenario tersebut terwujud,” katanya.
Ia juga memuji persatuan yang ditunjukkan rakyat Iran selama kondisi perang, seraya menegaskan bahwa meski menghadapi tekanan militer, ekonomi, dan psikologis yang intens, negara tetap mempertahankan stabilitas dan kohesi.
Persatuan Nasional sebagai Kekuatan Terbesar Iran
Presiden Iran tersebut menggambarkan persatuan dan solidaritas nasional sebagai aset strategis paling penting bagi Republik Islam dalam menghadapi krisis dan tekanan asing.
“Hari ini, kunci keberhasilan Republik Islam Iran terletak pada solidaritas, persatuan suara, dan menghindari perselisihan internal,” tegas Pezeshkian.
Ia memperingatkan terhadap polarisasi sosial dan tuduhan-tuduhan yang tidak bertanggung jawab, seraya menyatakan bahwa perbedaan pandangan tidak boleh diubah menjadi perpecahan atau permusuhan di tengah masyarakat.
Pezeshkian menegaskan bahwa kecintaan terhadap Iran, martabat nasional, dan kemerdekaan tetap menjadi prinsip bersama bagi mayoritas besar rakyat Iran, terlepas dari perbedaan politik maupun sosial.
Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa Iran akan terus mengandalkan kapasitas internalnya, partisipasi rakyat, dan persatuan nasional untuk mengatasi tekanan serta mempertahankan kemerdekaan, martabat, dan integritas wilayahnya. (FG)


