Presiden Prancis: AS Tinggalkan Sekutu dan Tatanan Internasional
Macron mengatakan tindakan Washington mencerminkan agresi neo-kolonial dan penarikan diri dari aturan global
Prancis | FAKTAGLOBAL.COM — Presiden Prancis Emmanuel Macron menuduh Amerika Serikat telah membelakangi para sekutunya dan secara bertahap meninggalkan tatanan internasional berbasis aturan, menyusul serangan militer Washington ke Venezuela dan kembali munculnya ancaman untuk mencaplok Greenland.
Berbicara pada Kamis dalam pidato tahunan kepada para duta besar Prancis, Macron mengatakan sistem global semakin dibentuk oleh kekuatan-kekuatan besar yang berupaya membagi dunia melalui paksaan dan tekanan, seraya memperingatkan bahwa perilaku AS kini mencerminkan penyimpangan berbahaya dari norma-norma yang sebelumnya justru dipromosikannya.
Pernyataan Macron disampaikan hanya beberapa hari setelah pasukan AS melancarkan serangan udara ke ibu kota Venezuela, Caracas, serta sejumlah wilayah lain, dan menculik Presiden Venezuela Nicolás Maduro beserta Ibu Negara Cilia Flores—tindakan yang secara luas dikecam sebagai agresi terang-terangan terhadap sebuah negara berdaulat.
Washington Mundur dari Aturan yang Pernah Ditegakkannya
“Amerika Serikat adalah kekuatan mapan,” kata Macron, “namun kekuatan yang secara bertahap menjauh dari sebagian sekutunya dan membebaskan diri dari aturan-aturan internasional yang belum lama ini masih dipromosikannya.”
Ia menegaskan bahwa kemunduran ini terlihat di berbagai bidang, termasuk perdagangan dan keamanan, yang menandai perubahan mendasar dalam sikap Washington terhadap sekutu maupun hukum internasional.
Macron memperingatkan bahwa dunia tengah memasuki era persaingan kekuatan besar yang semakin tajam, didorong oleh “godaan nyata untuk membagi-bagi dunia di antara mereka,” sebuah dinamika yang menurutnya mengancam kedaulatan negara dan stabilitas global.
Ancaman terhadap Greenland Memicu Ketegangan di Dalam NATO
Pernyataan Macron juga muncul setelah Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan bahwa opsi militer tetap tersedia terkait Greenland, wilayah otonom Denmark. Trump mengklaim pulau tersebut bisa jatuh ke tangan China atau Rusia jika Washington tidak bertindak.
Trump telah berulang kali mendorong kepemilikan Greenland oleh AS sejak masa jabatan pertamanya, dengan menekankan pentingnya wilayah tersebut bagi keamanan Arktik. Pernyataan ini secara tajam meningkatkan ketegangan di dalam NATO dan di antara sekutu-sekutu Eropa.
Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen memperingatkan awal pekan ini bahwa pencaplokan Greenland oleh AS secara efektif akan menandai berakhirnya NATO. Para pemimpin Prancis, Jerman, Italia, Polandia, Spanyol, dan Inggris kemudian mengeluarkan pernyataan bersama yang menegaskan bahwa Greenland “milik rakyatnya.”
Eropa Menghadapi ‘Agresi Neo-Kolonial’
Macron menggambarkan situasi saat ini sebagai kondisi di mana Prancis dan Uni Eropa tengah menghadapi “agresi neo-kolonial,” sembari pada saat yang sama menjadi sasaran retorika anti-kolonial yang menurutnya kosong dan tidak lagi sesuai dengan realitas politik.
Trump, pada bagiannya, mengatakan pada Jumat bahwa ia lebih memilih menempuh “jalan mudah” terkait Greenland, dengan menyarankan kompensasi finansial bagi penduduk Greenland, namun menegaskan bahwa Washington akan “menempuh jalan keras” jika diperlukan.
Pernyataan Presiden Prancis ini menegaskan semakin lebarnya jurang transatlantik, ketika para pemimpin Eropa kian memandang tindakan AS bukan sebagai upaya pertahanan kolektif, melainkan sebagai proyeksi kekuatan sepihak yang merusak kedaulatan, aliansi, dan hukum internasional. (FG)


