Propaganda “Iran Abaikan Gaza” Sengaja Dihembuskan untuk Memecah Barisan Perlawanan
Narasi ini mengabaikan isi nota kesepahaman tentang penghentian agresi di semua front, rekam jejak puluhan tahun dukungan Iran terhadap Palestina, serta penegasan terbaru Teheran mengenai Gaza.
Asia Barat, FAKTAGLOBAL.COM – Gelombang baru kampanye media berupaya menggambarkan Iran telah meninggalkan Gaza setelah tercapainya nota kesepahaman dengan Amerika Serikat.
Narasi itu dibangun dengan menjadikan tidak disebutkannya Gaza secara eksplisit dalam pernyataan awal sebagai bukti bahwa wilayah yang terkepung tersebut telah dikesampingkan dari dinamika kawasan.
Tidak disebutnya Gaza dalam pernyataan awal mengenai nota kesepahaman dinilai dimanfaatkan untuk membangun narasi bahwa Iran telah meninggalkan perjuangan Palestina.
Narasi itu muncul ketika genosida Israel di Gaza masih terus berlangsung, mengubah pertanyaan mengenai posisi Gaza dalam setiap pengaturan regional menjadi alat propaganda untuk menyerang barisan Perlawanan.
Isi Nota Kesepahaman Membantah Narasi Tersebut
Klausul pertama dalam nota kesepahaman Iran-AS menyerukan penghentian segera dan permanen seluruh operasi militer di semua front.
Ketentuan tersebut dengan sendirinya melemahkan klaim bahwa Gaza dikeluarkan dari pengaturan regional yang lebih luas, terutama karena Iran selama ini memandang konfrontasi melawan pendudukan Israel dan Amerika Serikat sebagai satu persoalan strategis yang tidak terpisahkan.
Sejumlah media menggambarkan dimasukkannya Lebanon dalam nota kesepahaman seolah-olah berarti Gaza telah disisihkan. Media lain bahkan menjadikannya sebagai bukti bahwa Iran memprioritaskan satu front di atas front lainnya.
Dalam analisis yang diterbitkannya, Al Mayadeen menilai pola tersebut merupakan bagian dari upaya yang telah berulang kali dilakukan untuk memecah front-front Perlawanan.
Rekam Jejak Iran Bertentangan dengan Narasi Itu
Klaim tersebut juga bertolak belakang dengan rekam jejak panjang Iran dalam mendukung perjuangan Palestina, yang selama beberapa dekade menjadi salah satu pilar utama kebijakan regional Teheran.
Media Barat dan berbagai lembaga kajian di negara-negara Barat selama bertahun-tahun justru menggambarkan Iran sebagai pendukung utama berbagai kelompok Perlawanan di kawasan, termasuk Hamas, Hizbullah, dan Jihad Islam Palestina.
Di sinilah letak kontradiksi narasi tersebut. Iran selama bertahun-tahun digambarkan sebagai pendukung utama Perlawanan Palestina, namun pada saat yang sama disebut telah meninggalkan Gaza hanya karena wilayah itu tidak disebut secara eksplisit dalam pernyataan awal mengenai sebuah kesepahaman politik.
Posisi Gaza tidak dapat diukur hanya dari ada atau tidaknya penyebutan dalam suatu klausul perjanjian. Bagi Iran, konfrontasi melawan pendudukan Israel dan Amerika Serikat selalu dipandang sebagai satu kesatuan strategis.
Pola Serupa Pernah Digunakan terhadap Lebanon dan Hizbullah
Kampanye semacam ini bukanlah hal baru. Saat Israel melancarkan perang terhadap Lebanon pada 2024, narasi serupa juga berkembang dengan menyebut Iran telah meninggalkan Hizbullah setelah kesyahidan Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sayyed Hassan Nasrallah.
Setelah gencatan senjata Lebanon pada 27 November, muncul pula gelombang narasi yang menuduh Perlawanan Lebanon telah meninggalkan Gaza.
Kini pola yang sama kembali digunakan dengan menempatkan Gaza dalam konstruksi narasi politik dan media yang bertujuan memecah barisan Perlawanan serta menggambarkan Iran seolah-olah meninggalkan perjuangan Palestina di luar setiap penyelesaian regional.
Araghchi Tegaskan Palestina Tetap Menjadi Agenda Diplomatik Iran
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, kembali menegaskan posisi Teheran dalam percakapan telepon dengan pejabat senior Hamas, Bassem Naim. Ia menyatakan bahwa Iran akan terus mendukung rakyat Palestina hingga mereka memperoleh seluruh hak nasional yang sah.
Menurut televisi pemerintah Iran, Araghchi juga menyampaikan bahwa Teheran akan terus mengangkat agresi Israel terhadap Palestina di berbagai forum internasional serta memastikan isu Palestina tetap menjadi bagian dari agenda perundingan yang sedang berlangsung.
Percakapan itu berlangsung ketika Iran dan Amerika Serikat memulai pembicaraan teknis di Swiss dengan mediasi Pakistan dan Qatar untuk menyepakati mekanisme tahap berikutnya dari proses perundingan.
Bagi kalangan Perlawanan, persoalannya bukanlah apakah Iran telah meninggalkan Gaza, melainkan bagaimana pertanyaan tersebut dijadikan instrumen propaganda. Mereka menilai kampanye itu lebih bertujuan membangkitkan kembali upaya memecah Poros Perlawanan daripada benar-benar mencerminkan kepedulian terhadap Gaza.
Rekam jejak dukungan Iran terhadap Palestina, isi nota kesepahaman yang menyerukan penghentian operasi militer di seluruh front, serta posisi diplomatik terbaru Teheran menunjukkan satu kesimpulan yang sama: Gaza tidak pernah ditinggalkan. (FG)




