Putaran Ketiga Perundingan Tidak Langsung Iran–AS di Jenewa Dijeda untuk Konsultasi
Perundingan yang dimediasi Oman berfokus pada hak nuklir Iran dan pencabutan sanksi, seiring delegasi menghentikan sementara pembicaraan untuk konsultasi internal
Swiss | FAKTAGLOBAL.COM — Putaran ketiga perundingan nuklir tidak langsung antara Republik Islam Iran dan Amerika Serikat secara resmi dimulai di Jenewa, Swiss, dengan mediasi Kesultanan Oman. Pembicaraan berlangsung melalui beberapa sesi sebelum memasuki jeda sementara untuk konsultasi di antara tim perunding.
Perundingan ini dimulai setelah pertemuan tingkat tinggi antara Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, dan Menteri Luar Negeri Oman, Badr bin Hamad Al Busaidi, yang menandai dimulainya secara resmi putaran diplomatik ketiga.
Mediasi Oman dan Kerangka Perundingan
Menurut Kementerian Luar Negeri Oman, pembahasan dilakukan dalam kerangka prinsip-prinsip panduan yang telah disepakati pada putaran perundingan sebelumnya.
Prinsip-prinsip tersebut menekankan hak nuklir sah Iran, sifat damai dari program nuklirnya, serta pencabutan sanksi sepihak dan koersif.
Oman mengonfirmasi bahwa Menteri Al Busaidi meninjau proposal-proposal Iran yang bertujuan mencapai kesepakatan yang seimbang dan berkelanjutan, serta diharapkan akan menyampaikan posisi Teheran kepada pihak Amerika, sekaligus mendengarkan pandangan dan tanggapan Washington.
Perundingan Berlanjut Meski Ada Spekulasi Media
Bertentangan dengan klaim yang disebarkan sejumlah media Barat yang menyebut adanya kebuntuan dini, sumber-sumber yang mengetahui proses tersebut mengonfirmasi bahwa perundingan terus berlanjut sejak sesi pagi di sebuah lokasi diplomatik milik Oman di Jenewa.
Jeda sementara kemudian diumumkan untuk memberi kesempatan kepada kedua delegasi melakukan konsultasi internal, dengan pembicaraan dijadwalkan berlanjut pada sesi sore hari.
Oman Menyampaikan Optimisme yang Hati-Hati
Dalam sebuah pernyataan publik, Menteri Luar Negeri Oman, Al Busaidi, menyatakan harapan akan adanya kemajuan nyata, seraya mencatat bahwa para perunding Iran dan Amerika terlibat dalam apa yang ia gambarkan sebagai “pertukaran ide yang positif dan kreatif”.
“Kami hari ini bertukar gagasan konstruktif di Jenewa,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa kedua pihak menunjukkan keterbukaan terhadap solusi inovatif dan langkah-langkah pembangunan kepercayaan.
Posisi Iran: Pencabutan Sanksi dan Hak Nuklir
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa Teheran memasuki perundingan ini dengan kesiapan penuh dan komitmen untuk menjaga kepentingan nasional.
Ia kembali menegaskan bahwa proposal Iran berpusat pada dua pilar utama:
Pencabutan penuh sanksi
Pengakuan dan perlindungan hak nuklir Iran berdasarkan hukum internasional
“Posisi-posisi ini telah disampaikan secara jelas kepada mediator Oman,” kata Baghaei.
Dukungan Politik dari Teheran
Pejabat senior Iran, Ali Shamkhani, Sekretaris Dewan Pertahanan Iran, menegaskan bahwa Araghchi memiliki dukungan kelembagaan penuh serta kewenangan yang diperlukan untuk mencapai kesepakatan.
Shamkhani menyatakan bahwa jika kekhawatiran utama adalah memastikan Iran tidak mengejar senjata nuklir, jaminan tersebut telah sejalan dengan doktrin pertahanan Iran dan fatwa keagamaan Pemimpin Tertinggi, sehingga kesepakatan dapat segera dicapai.
Reaksi Regional dan Internasional
Dalam perkembangan paralel, Senator Rusia Konstantin Kosachev, Wakil Ketua Dewan Federasi Rusia, menyatakan kesiapan Moskow untuk mendukung pelaksanaan setiap kesepakatan potensial yang dicapai di Jenewa, seraya menegaskan kembali pengakuan Rusia atas hak Iran untuk kegiatan nuklir damai.
Secara terpisah, Menteri Luar Negeri Oman, Al Busaidi, mengadakan konsultasi dengan Rafael Grossi, Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional, yang berfokus pada aspek teknis berkas nuklir Iran dan diskusi terkait verifikasi.
Sebelumnya pada hari yang sama, Al Busaidi juga bertemu dengan perwakilan Amerika Serikat, termasuk Steve Witkoff, untuk menyampaikan proposal Iran dan menghimpun masukan dari pihak Amerika terkait isu teknis, pemantauan, dan jaminan yang diperlukan.
Pejabat Oman menggambarkan suasana perundingan sebagai serius dan konstruktif, serta ditandai dengan keterbukaan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap ide-ide baru yang bertujuan mencapai kesepakatan yang adil dan berkelanjutan.
Perundingan tidak langsung Iran–AS dijadwalkan berlanjut pada Kamis dengan partisipasi kedua delegasi melalui mediasi Oman. Teheran menegaskan bahwa diplomasi tetap menjadi opsi yang layak selama hak kedaulatan, martabat nasional, dan kepentingan ekonomi Iran sepenuhnya dihormati.
Seiring dilanjutkannya pembicaraan, fokus utama tetap pada penerjemahan kehendak politik menjadi komitmen konkret yang mampu menghasilkan kesepakatan yang berimbang dan berkelanjutan. (FG)


