Putin: Mereka yang Provokasi Rusia Lewat Sabotase dan Teror Akan Sesali Konsekuensinya
Presiden Rusia menguraikan doktrin keamanan menyeluruh di tengah perang hibrida, ancaman sabotase, dan terorisme yang didukung pihak asing
Rusia | FAKTAGLOBAL.COM — Presiden Rusia Vladimir Putin memperingatkan bahwa setiap upaya memprovokasi Rusia melalui aksi sabotase dan terorisme akan berujung pada konsekuensi serius, seraya menegaskan bahwa Moskow memandang tindakan semacam itu sebagai bentuk agresi strategis yang tidak akan dibiarkan tanpa balasan.
Dalam konteks itu, Putin memerintahkan Dinas Keamanan Federal (FSB) untuk mengintensifkan operasi kontra-terorisme, kontra-sabotase, dan kontraintelijen, dengan peringatan bahwa Rusia kini menghadapi eskalasi perang hibrida setelah para lawannya gagal mengalahkannya di medan perang.
Berbicara dalam rapat tahunan Dewan FSB, Putin mengatakan bahwa kekuatan-kekuatan bermusuhan semakin mengandalkan terorisme, sabotase infrastruktur, operasi siber, dan perang informasi.
Terorisme sebagai Alat Setelah Gagal di Medan Perang
Putin menyatakan bahwa setelah gagal menimbulkan kekalahan strategis melalui cara-cara militer, para musuh Rusia beralih menggunakan teror sebagai instrumen tekanan.
“Setelah gagal menimbulkan kekalahan strategis terhadap Rusia di medan perang, pihak lawan kini mengandalkan teror individual dan massal,” ujarnya.
“Ini mencakup penembakan kota-kota, sabotase infrastruktur, serta upaya pembunuhan terhadap perwakilan otoritas negara dan militer.”
Ia menyinggung serangan teroris terbaru di Stasiun Kereta Api Savyolovsky, Moskow, sebagai contoh nyata kekerasan yang dikendalikan dari jarak jauh melalui perekrutan daring.
“Sebuah alat peledak diserahkan kepada seseorang dan kemudian diledakkan dari jarak jauh,” kata Putin, seraya menambahkan bahwa orang yang direkrut tersebut kemungkinan besar tidak mengetahui keseluruhan operasi.
Putin memerintahkan penguatan perlindungan terhadap infrastruktur vital, khususnya fasilitas energi dan transportasi, serta tempat-tempat keramaian publik.
Ia menginstruksikan badan-badan keamanan untuk memperluas sistem perlindungan, meningkatkan kemampuan respons cepat, dan memperkuat koordinasi antara lembaga federal dan daerah.
Keamanan Perbatasan dan Kontraintelijen
Pemimpin Rusia tersebut menekankan perlunya memperkuat infrastruktur perbatasan negara, meningkatkan kemampuan teknis, serta memastikan koordinasi yang erat antara FSB, angkatan bersenjata, Garda Nasional, dan Kementerian Dalam Negeri.
“Langkah-langkah tambahan yang serius harus diambil untuk melindungi perbatasan negara,” kata Putin, menyerukan penguatan infrastruktur, peningkatan peralatan teknis, dan koordinasi yang lebih ketat antara FSB, angkatan bersenjata, Garda Nasional, dan Kementerian Dalam Negeri.
Unit kontraintelijen ditugaskan untuk memperluas operasi guna menggagalkan jaringan intelijen asing, melindungi fasilitas militer dan industri, serta mengamankan pengembangan teknologi yang sensitif.
Putin juga memperingatkan meningkatnya upaya sabotase siber yang menargetkan infrastruktur informasi vital Rusia, memerintahkan pengembangan lebih lanjut sistem nasional untuk mendeteksi dan menetralkan serangan siber, serta menyerukan perlindungan yang lebih ketat terhadap data militer dan strategis yang bersifat rahasia.
Pemilu, Persatuan, dan Kedaulatan
Menjelang pemilihan anggota Duma Negara dan lembaga pemerintahan lainnya, Putin menekankan pentingnya mencegah segala bentuk campur tangan asing dan memastikan bahwa kehendak berdaulat rakyat Rusia terlindungi sepenuhnya.
Ia memandang ekstremisme, perang informasi, dan campur tangan elektoral sebagai ancaman yang saling terkait terhadap tatanan konstitusional dan persatuan nasional Rusia.
“Penting bahwa pemilu ini mencerminkan kehendak sejati dan berdaulat rakyat Rusia,” ujarnya, seraya menegaskan bahwa penetralan pengaruh eksternal merupakan tugas langsung FSB.
Putin menutup pernyataannya dengan peringatan bahwa pihak-pihak yang berupaya memprovokasi Rusia melalui sabotase dan teror tengah mendorong diri mereka sendiri menuju konsekuensi yang kelak akan mereka sesali.
Pesan dari Moskow disampaikan secara tegas: Rusia memandang serangan hibrida terhadap infrastruktur, jalur energi, dan stabilitas internal sebagai tindakan agresi strategis — dan akan meresponsnya secara setimpal. (FG)


