Putin Tiba di China untuk Pembicaraan Strategis dengan Xi
Kedua pemimpin akan membahas isu-isu paling sensitif dalam hubungan bilateral, menandatangani sekitar 40 perjanjian, memperluas kerja sama di bidang energi, teknologi, antariksa, dan kecerdasan buatan
Rusia, FAKTAGLOBAL.COM — Presiden Rusia Vladimir Putin tiba di Beijing pada Selasa untuk melakukan kunjungan resmi selama dua hari ke China atas undangan Presiden China Xi Jinping, dalam sebuah perjalanan yang secara luas dipandang sebagai demonstrasi penting dari semakin kuatnya kemitraan strategis antara Moskow dan Beijing.
Kunjungan ini bertepatan dengan peringatan 25 tahun penandatanganan Traktat Persahabatan, Kerja Sama, dan Bertetangga Baik antara Rusia dan China, sebuah perjanjian bersejarah yang menjadi fondasi bagi salah satu kemitraan geopolitik terpenting di dunia modern.
Kedatangan Putin berlangsung kurang dari sepekan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyelesaikan kunjungannya sendiri selama dua hari ke Beijing, yang berakhir tanpa terobosan berarti dalam isu-isu utama seperti Taiwan dan impor minyak Iran oleh China.
Kremlin menolak anggapan bahwa waktu kunjungan Putin terkait dengan lawatan Trump. Penasihat kebijakan luar negeri Kremlin, Yury Ushakov, menyatakan bahwa persiapan untuk pertemuan puncak ini telah dimulai segera setelah Putin dan Xi mengadakan konferensi video pada Februari lalu.
Setibanya di Beijing, Putin disambut oleh Menteri Luar Negeri China Wang Yi, didampingi pasukan kehormatan dan anak-anak yang melambaikan bendera Rusia dan China.
Delegasi Rusia mencakup para menteri senior dan eksekutif dari perusahaan-perusahaan besar yang terkait dengan negara, termasuk Gazprom, Rosatom, dan Roscosmos, yang menunjukkan luasnya dimensi ekonomi dan strategis dari kunjungan ini.
Pembicaraan Strategis dan Diplomasi Teh yang Simbolis
Pertemuan antara Putin dan Xi dijadwalkan berlangsung pada Rabu dan akan mencakup pembicaraan tertutup secara empat mata serta perundingan yang diperluas dengan melibatkan pejabat senior dari kedua pihak.
Menurut Ushakov, kedua pemimpin akan membahas “isu-isu paling penting dan sensitif” dalam hubungan bilateral, serta perkembangan-perkembangan utama di tingkat internasional.
Salah satu bagian paling simbolis dari kunjungan ini adalah pertemuan informal sambil minum teh antara kedua presiden. Ushakov menggambarkan sesi tersebut sebagai salah satu agenda terpenting dalam kunjungan ini dan berharap pertemuan itu berlangsung selama mungkin, yang mencerminkan eratnya hubungan pribadi antara kedua pemimpin.
Dalam pesan video yang dirilis menjelang kedatangannya, Putin menyatakan bahwa hubungan Rusia-China telah mencapai tingkat yang “benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya” dan menyebut Xi sebagai “sahabat baik saya sejak lama.”
Power of Siberia 2 dan Perluasan Kerja Sama Ekonomi
Salah satu topik utama pembicaraan diperkirakan adalah proyek pipa gas Power of Siberia 2, sebuah proyek energi besar yang akan secara signifikan meningkatkan ekspor gas Rusia ke China.
Para pejabat Rusia dilaporkan meyakini bahwa volatilitas pasar energi global—yang dipicu oleh perang yang sedang berlangsung terhadap Iran dan gangguan di Selat Hormuz—dapat memperkuat posisi Moskow dalam negosiasi mengenai harga gas dan ketentuan pasokan.
Secara keseluruhan, sekitar 40 dokumen bilateral diperkirakan akan ditandatangani, termasuk pernyataan bersama mengenai pendalaman lebih lanjut kemitraan strategis komprehensif antara kedua negara.
Media pemerintah China, termasuk People’s Daily, menggambarkan hubungan Rusia-China sebagai hubungan yang berada pada titik “terbaik” dalam sejarah dan menekankan bahwa ketidakstabilan global yang semakin meningkat harus mendorong kedua negara untuk memperkuat koordinasi strategis dan kerja sama komprehensif.
Kerja Sama di Bidang Teknologi, Antariksa, dan Kecerdasan Buatan
Para pejabat China menyoroti berbagai sektor yang akan menjadi fokus perluasan kerja sama, termasuk pertanian, ilmu pengetahuan, teknologi maju, eksplorasi antariksa, dan kecerdasan buatan.
Kehadiran para eksekutif puncak dari Gazprom, Rosatom, dan Roscosmos mencerminkan pentingnya kerja sama tidak hanya dalam bidang energi, tetapi juga teknologi nuklir, kedirgantaraan, dan industri berteknologi tinggi.
Di tengah meningkatnya tekanan dari Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya terhadap Moskow dan Beijing, pertemuan puncak ini diperkirakan akan semakin memperkuat penyelarasan strategis kedua negara dalam upaya mempercepat lahirnya tatanan dunia multipolar dan mengurangi dominasi Barat dalam urusan global. (FG)


