Putra Maduro Serukan Mobilisasi Massal Usai Penculikan Sang Presiden oleh AS
Nicolás Maduro Guerra mendesak rakyat Venezuela turun ke jalan setelah AS menyerang Caracas, menculik presiden, dan mengancam kedaulatan Venezuela serta stabilitas kawasan.
Venezuela | FAKTAGLOBAL.COM — Anggota parlemen Venezuela Nicolás Maduro Guerra, putra Presiden Nicolás Maduro, menyerukan kepada rakyat Venezuela untuk bersatu dan melakukan mobilisasi nasional menyusul apa yang digambarkan Caracas sebagai agresi militer langsung Amerika Serikat terhadap kepemimpinan dan kedaulatan negara.
Dalam pesan suara yang beredar pada Kamis, Maduro Guerra menyerukan ketenangan, persatuan, dan perlawanan rakyat di tengah eskalasi oleh Amerika Serikat, yang menurut otoritas Venezuela telah melakukan serangan ke Caracas dan menculik presiden konstitusional negara tersebut.
“Hari ini adalah hari yang mengejutkan, tetapi besok kita akan turun ke jalan,” kata Maduro Guerra. “Kami baik-baik saja, tenang, dan teguh — dan kalian akan melihat kami di jalan.”
Ia mengajak rakyat Venezuela mengibarkan panji-panji mendiang Presiden Hugo Chávez, berdiri teguh dalam solidaritas nasional, serta menuntut pemulangan Presiden Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores dengan selamat.
Mobilisasi Rakyat di Tengah Kecaman Caracas atas Agresi AS
Maduro Guerra menggambarkan tindakan AS sebagai serangan terang-terangan terhadap kemerdekaan Venezuela, seraya memperingatkan bahwa eskalasi Washington merupakan ancaman serius bukan hanya bagi Venezuela, tetapi juga bagi kedaulatan Amerika Latin secara keseluruhan.
Caracas memandang insiden ini sebagai bagian dari pola intervensi AS yang lebih luas, yang bertujuan membentuk ulang pemerintahan secara paksa terhadap negara-negara yang menolak tunduk pada diktat politik dan ekonomi Washington.
Para pejabat dan pendukung menegaskan bahwa mobilisasi jalanan merupakan respons yang sah terhadap apa yang mereka karakterisasikan sebagai agresi asing, penculikan, dan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional.
Mahkamah Agung Tunjuk Presiden Sementara Usai “Serangan Militer Asing”
Menyusul peristiwa tersebut, Supreme Tribunal of Justice Venezuela memerintahkan Wakil Presiden Eksekutif Delcy Rodríguez untuk menjalankan kewenangan kepresidenan dalam kapasitas sementara guna memastikan kesinambungan pemerintahan dan pertahanan menyeluruh negara.
Putusan itu dikeluarkan oleh Kamar Konstitusi setelah apa yang disebut pengadilan sebagai serangan militer asing pada 3 Januari 2026, yang mengakibatkan penculikan presiden konstitusional Venezuela.
Membacakan keputusan tersebut, Presiden Kamar Konstitusi Tania D’Amelio Cardiet menyatakan bahwa absennya Presiden Maduro secara paksa merupakan situasi ketidakmungkinan material dan sementara untuk menjalankan tugas-tugas konstitusionalnya.
Ia mengatakan pengadilan terpaksa bertindak karena skenario yang luar biasa dan belum pernah terjadi sebelumnya, yang menimbulkan ancaman langsung terhadap stabilitas negara, keamanan nasional, dan berfungsinya tatanan hukum Venezuela.
Otoritas Venezuela memperingatkan bahwa normalisasi tindakan semacam ini oleh Washington merupakan eskalasi berbahaya yang merusak kedaulatan, mengguncang stabilitas kawasan, dan mendorong hubungan internasional menuju kondisi tanpa hukum secara terbuka. (FG)


