Qaani: Sabuk Keamanan Perlawanan Akan Membentang dari Hormuz hingga Bab al-Mandab
Komandan Pasukan Quds IRGC mengatakan bahwa serangan Israel dan AS akan memicu respons terpadu dari Front Perlawanan, sementara Iran mengisyaratkan lahirnya persamaan keamanan regional yang baru.
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Esmail Qaani, pada Senin menyatakan bahwa sebuah sabuk keamanan baru Perlawanan sedang terbentuk di sepanjang salah satu koridor maritim paling strategis di dunia. Ia memperingatkan bahwa setiap agresi Israel dan Amerika Serikat akan menghadapi respons terkoordinasi dari seluruh Front Perlawanan.
Dalam pernyataan yang disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, Qaani mengatakan bahwa Poros Perlawanan tengah membangun arsitektur keamanan baru yang membentang dari Selat Hormuz hingga Selat Bab al-Mandab, serta dari Teluk Persia hingga Laut Merah.
“Dari Selat Hormuz hingga Bab al-Mandab, dan dari Teluk Persia hingga Laut Merah, akan terbentuk sabuk keamanan baru Perlawanan,” kata Qaani.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Yaman mengumumkan larangan total terhadap pelayaran Israel di Laut Merah dan setelah Iran menegaskan bahwa respons militernya terhadap agresi Israel telah menciptakan persamaan penangkalan baru di kawasan.
Qaani Puji Peran Yaman
Qaani menggambarkan langkah terbaru Yaman sebagai bukti pandangan strategis dan koordinasi yang kuat di dalam Front Perlawanan.
“Tindakan yang tepat waktu dan kuat dari Yaman yang heroik mencerminkan kebijaksanaan Front Perlawanan,” ujarnya.
“Jika diperlukan, pihak-pihak lain juga akan turut bergabung.”
Pernyataannya memperkuat konsep kesatuan Front Perlawanan, di mana berbagai pihak dapat terlibat ketika konfrontasi regional meluas melampaui satu medan pertempuran.
Dalam beberapa hari terakhir, Yaman telah meningkatkan tekanan militer terhadap Israel melalui operasi rudal dan pemberlakuan kembali blokade maritim yang menargetkan jalur pelayaran yang terkait dengan Israel.
Peringatan kepada Washington dan Tel Aviv
Qaani memperingatkan bahwa tindakan Israel dan Amerika Serikat di kawasan tidak akan dipandang sebagai insiden yang terpisah, melainkan sebagai tindakan yang akan menimbulkan konsekuensi di seluruh Poros Perlawanan.
“Agresi rezim Zionis dan Amerika Serikat di kawasan ini akan menghadapi respons dari Front Perlawanan yang bersatu,” tegasnya.
Berbicara langsung kepada Israel dan para sekutunya, ia mengeluarkan peringatan keras terkait jalur-jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dan Laut Merah.
“Para pejuang tanpa batas sedang mengawasi titik-titik penyempitan jalur transit Anda.”
“Jika Anda terus melanjutkan agresi, mereka akan mencekik Anda.”
Pernyataan tersebut mencerminkan semakin besarnya penekanan Iran terhadap pentingnya jalur maritim strategis kawasan, khususnya Selat Hormuz dan Bab al-Mandab, dua perairan yang dilalui oleh sebagian besar pengiriman energi dan perdagangan dunia.
Iran Isyaratkan Konfrontasi Dapat Kembali Berlanjut
Pernyataan Qaani muncul ketika Markas Pusat Khatam al-Anbiya Iran mengumumkan bahwa operasi militer telah dihentikan sementara setelah gelombang serangan baru terhadap target-target penting dan sensitif di wilayah pendudukan.
Markas tersebut menyatakan bahwa respons yang menyakitkan telah diberikan, namun memperingatkan bahwa setiap kelanjutan tindakan permusuhan dapat memicu konfrontasi yang jauh lebih besar.
Laporan media Iran menunjukkan bahwa Tehran menerima pengaturan gencatan senjata saat ini dengan syarat-syarat baru, sembari memperingatkan bahwa operasi militer dapat kembali dilanjutkan jika serangan Israel terus berlanjut, khususnya di Beirut dan Lebanon selatan.
Perkembangan tersebut terjadi setelah serangan Israel terhadap Dahiyeh, Beirut Selatan, pada Minggu, yang menewaskan dua warga sipil dan melukai 20 lainnya.
Ghalibaf: Iran Akan Mencegah Agresi terhadap Lebanon
Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Ghalibaf juga menegaskan bahwa Tehran tidak akan membiarkan agresi Israel terhadap Lebanon terus berlanjut.
Ghalibaf mengatakan Iran akan bertindak melalui jalur diplomasi, penangkalan, maupun langkah militer sesuai kebutuhan situasi, serta menolak anggapan bahwa Tehran harus memilih antara negosiasi atau perlawanan.
Menurut Ghalibaf, Iran tetap berkomitmen menjalankan kedua jalur tersebut secara bersamaan.
Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat melanggar pengaturan gencatan senjata di Lebanon dan mengkritik pendekatan Washington dalam negosiasi yang sedang berlangsung.
Ghalibaf juga menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran tetap berada dalam kondisi siaga penuh dan berjanji bahwa rakyat Iran akan menyaksikan “kemenangan terhormat lainnya”.
Ia menekankan bahwa tujuan Iran adalah mewujudkan keamanan kawasan yang berkelanjutan, bukan normalisasi hubungan dengan Washington. (FG)



