Qalibaf: Tak Ada yang Bisa Paksakan Ultimatum ke Iran
Ketua Parlemen Iran memuji keteguhan rakyat dan pengorbanan militer, serta menegaskan jalan menuju kemenangan bersejarah sambil menolak segala tekanan eksternal terhadap negara.
Iran, FAKTAGLOBAL.COM - Mohammad Bagher Qalibaf, Ketua Parlemen Iran, menyatakan bahwa tidak ada pihak yang memiliki kewenangan untuk memberikan ultimatum kepada Iran maupun rakyatnya.
“Wahai bangsa Iran yang heroik! Kehadiran kalian selama 25 malam di jalanan, bersama dengan pengorbanan angkatan bersenjata, telah menciptakan kondisi bagi kemenangan bersejarah bagi Iran tercinta.
Tidak ada yang bisa memberikan ultimatum kepada Iran dan rakyat Iran.
Putra-putra kalian tidak akan membiarkan kesempatan ini terlewat hingga kemenangan penuh tercapai dan siklus jahat ‘perang–gencatan senjata–perang’ dihancurkan,” tulis Qalibaf dalam sebuah unggahan.
Seruan agar Iran Keluar dari NPT Menguat
Sementara itu, semakin banyak suara yang menyerukan agar Iran keluar dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), dengan alasan bahwa keanggotaan dalam perjanjian tersebut tidak memberikan manfaat nyata bagi negara.
NPT awalnya dipresentasikan sebagai kerangka untuk mendukung negara-negara dalam mengembangkan dan menggunakan energi nuklir secara damai.
Namun, para pengkritik berpendapat bahwa sementara Israel tidak pernah bergabung dengan perjanjian tersebut dan tidak menghadapi tekanan dari kekuatan global, Iran—meskipun telah lama menjadi anggota—tidak memperoleh keuntungan dari partisipasinya.
Iran bahkan telah melampaui kewajiban NPT di masa lalu, termasuk menerima Protokol Tambahan dan langkah-langkah yang bahkan melampaui itu dalam kesepakatan seperti JCPOA, sebagai upaya untuk menunjukkan transparansi dan kepatuhan.
Spionase dan Penargetan Fasilitas Nuklir Iran
Meski telah menunjukkan komitmen tersebut, para pengkritik menyatakan bahwa NPT tidak hanya gagal memberikan manfaat bagi Iran, tetapi juga justru memfasilitasi pengumpulan intelijen oleh Amerika Serikat dan Israel.
Mereka menyebut bahwa informasi yang diperoleh melalui Badan Energi Atom Internasional (IAEA) telah digunakan untuk melakukan sabotase terhadap fasilitas nuklir damai Iran, yang pada akhirnya berujung pada serangan dan pemboman langsung.
Kontroversi Pernyataan Kepala IAEA
Ketegangan semakin meningkat setelah munculnya pernyataan yang dinisbatkan kepada Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, yang disebut-sebut menyatakan bahwa fasilitas nuklir Iran dapat dihancurkan melalui pemboman.
Pernyataan semacam ini mendapat kecaman luas karena dinilai tidak bertanggung jawab dan provokatif, sekaligus memperkuat pandangan bahwa kerangka kerja nuklir internasional sedang dijadikan alat untuk menekan Iran.
“NPT Tidak Memberikan Manfaat bagi Iran”
Dengan latar belakang tersebut, para pengkritik menilai bahwa tetap berada dalam NPT tidak lagi melayani kepentingan Iran.
Mereka menegaskan bahwa Iran secara konsisten berkomitmen pada penggunaan energi nuklir secara damai, sehingga tidak ada alasan untuk tetap berada dalam perjanjian yang dianggap sebagai alat pengawasan dan tekanan.
Mereka juga merujuk pada pernyataan lama David Albright, seorang tokoh terkemuka di Amerika dalam isu nuklir, yang pernah mengatakan di Kongres AS bahwa para inspektur IAEA berfungsi sebagai “pasukan lapangan Amerika Serikat.”
Berdasarkan pandangan ini, Iran seharusnya segera keluar dari NPT dan melanjutkan program nuklirnya secara independen, bebas dari apa yang mereka anggap sebagai intervensi dan eksploitasi eksternal. (FG)



