Qalibaf: Tidak Ada Negosiasi dengan AS, Hukuman Penuh untuk Para Agresor
Pejabat Iran menolak klaim adanya perundingan dengan Washington, menegaskan bahwa hasil perang akan ditentukan di medan tempur—bukan oleh cuitan Trump.
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Mohammad Bagher Qalibaf, Ketua Parlemen Iran, menegaskan bahwa tidak ada negosiasi yang berlangsung dengan Amerika Serikat, seraya menekankan bahwa rakyat Iran menuntut hukuman yang tegas dan memberikan efek jera terhadap para agresor.
Dalam pesan yang diunggah di platform X, Qalibaf menulis: “Rakyat kami menuntut hukuman penuh dan membuat para agresor menyesal.”
Ia menambahkan bahwa seluruh pejabat berdiri kokoh di belakang Pemimpin dan rakyat hingga tujuan tersebut tercapai.
Qalibaf menegaskan: “Tidak ada negosiasi dengan Amerika Serikat.”
Ia juga menolak laporan yang beredar tentang adanya perundingan sebagai “berita palsu”, yang menurutnya disebarkan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak serta membantu Amerika Serikat dan Israel keluar dari jebakan yang mereka ciptakan sendiri.
Medan Tempur, Bukan Cuitan Trump, yang Menentukan Hasil Perang
Ebrahim Rezaei, juru bicara Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen, menyampaikan posisi serupa dengan menegaskan bahwa pernyataan dan unggahan media sosial Trump tidak dapat dijadikan dasar untuk menilai jalannya perang.
“Hasil dari pertempuran ini akan ditentukan di medan tempur, bukan oleh cuitan Trump atau retorikanya,” ujar Rezaei.
Ia menambahkan bahwa meskipun Trump mengklaim memiliki “militer terkuat di dunia,” kini Amerika Serikat justru meminta bantuan negara lain—upaya yang sebagian besar gagal.
Menurut Rezaei, negara-negara lain enggan terlibat karena khawatir akan mengalami nasib yang sama seperti pasukan Amerika dan Zionis.
AS dan Sekutunya Gagal Menjamin Keamanan
Rezaei juga menyatakan bahwa pihak musuh sebelumnya menjanjikan keamanan kepada negara-negara di kawasan Teluk Persia sambil mengeksploitasi sumber daya mereka, namun kini bahkan tidak mampu menjamin keamanan kedutaan dan pangkalan militernya sendiri di kawasan tersebut.
Ia menambahkan bahwa sistem pertahanan udara musuh telah melemah, dan pasukan laut AS kini menjaga jarak lebih dari 1.000 kilometer dari perairan teritorial Iran karena tidak berani mendekat.
Para pejabat Iran menegaskan bahwa perkembangan di lapangan—bukan narasi politik—yang pada akhirnya akan menentukan arah dan hasil konflik. (FG)



