Ramaphosa Kecam Koersi Ekonomi AS, Soroti Meningkatnya Unilateralisme
Tanpa secara eksplisit menyebut nama Trump, Ramaphosa mengecam penggunaan instrumen ekonomi sebagai alat dominasi politik, menyatakan bahwa tata kelola global kini dibentuk oleh kekuatan, bukan nilai
Afrika Selatan | FAKTAGLOBAL.COM — Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa melontarkan kecaman langsung terhadap Amerika Serikat, mengecam praktik koersi dagang dan memperingatkan bahaya meningkatnya unilateralisme di tengah meningkatnya ketegangan global serta memburuknya hubungan dengan Washington.
Berbicara dalam pidato kenegaraan di Cape Town, Ramaphosa mengkritik tatanan global yang tengah terbentuk dan didorong oleh politik kekuasaan serta tekanan ekonomi. Pernyataan tersebut secara luas dipahami sebagai sindiran langsung terhadap kebijakan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump.
Penolakan terhadap Koersi Dagang dan Politik Kekuasaan
Tanpa menyebut Amerika Serikat secara eksplisit, Ramaphosa mengecam penggunaan instrumen ekonomi sebagai sarana dominasi politik, seraya memperingatkan bahwa tata kelola global semakin didefinisikan oleh kekuatan, bukan oleh nilai-nilai bersama.
“Dunia sedang berubah dengan sangat cepat dan telah menjadi dunia di mana kepentingan sempit menggantikan kepentingan bersama, dunia di mana perdagangan digunakan sebagai instrumen pemaksaan, dunia di mana yang kuat selalu benar dan pihak berkuasa memaksakan kehendaknya kepada yang lemah,” ujarnya.
Ia menyerukan kepada rakyat Afrika Selatan untuk menjunjung prinsip martabat, kesetaraan, dan solidaritas, serta menyerukan perlawanan terhadap diskriminasi dan prasangka di tengah meningkatnya tekanan internasional.
Hubungan dengan Washington Memburuk
Hubungan antara Afrika Selatan dan Amerika Serikat semakin memburuk sejak Trump kembali ke Gedung Putih.
Washington menuduh Pretoria menargetkan para petani kulit putih, secara terbuka mengkritik sikap politik Afrika Selatan terkait Iran dan Palestina, serta memberlakukan tarif sebesar 30 persen terhadap sejumlah ekspor Afrika Selatan — tingkat tarif tertinggi yang dikenakan terhadap negara mana pun di Afrika sub-Sahara.
Trump juga secara terbuka menegur Ramaphosa saat kunjungan ke Gedung Putih dan kemudian menyerukan boikot AS terhadap KTT Kelompok Dua Puluh (G20) yang diselenggarakan di Johannesburg.
Pretoria Tunjukkan Ketegasan di Tengah Keterlibatan
Meski tekanan terus meningkat, Ramaphosa menyatakan bahwa Amerika Serikat tetap merupakan mitra dagang penting dan bahwa pemerintahannya masih berupaya mencapai perjanjian perdagangan yang saling menguntungkan.
Namun, pernyataannya mencerminkan meningkatnya frustrasi di kalangan kepemimpinan Afrika Selatan terhadap sikap konfrontatif Washington serta ketergantungannya yang berulang pada pemaksaan ekonomi dan politik.
Membela Independensi Strategis
Seiring kebijakan unilateral dan tekanan dagang kian menguat, Pretoria menunjukkan sikap yang semakin tegas dalam membela independensi kebijakan luar negerinya. Kepemimpinan Afrika Selatan tampak semakin enggan untuk menundukkan sikapnya terkait Iran, Palestina, dan tata kelola global di bawah tekanan eksternal.
Pidato Ramaphosa menegaskan posisi Pretoria bahwa koersi dan intimidasi ekonomi tidak akan menentukan pilihan politiknya, meskipun hubungan dengan Amerika Serikat tetap berada dalam kondisi tegang. (FG)


